Benar yang anda katakan, tetapi perlu di ingat ekonomi harus mengikat
Variabel ilmu yang lain dan demokratisasi sebagai jurinya.

Sebagai Contoh pengantian deputi Bank Indonesia, memang benar tidak semudah
membalik telapak tangan; padahal jika dilihat secara moral masalahnya
sangatlah sederhana (menggantikan orang yang dapat dipercaya).

Yang terjadi adalah; masuk interfensi kepentingan politik (untuk tujuan
kekuasaan ekonomi). Masa untuk menggantikan orang harus menunggu prosedur
hukum yang berbelit dan halangan dengan negosiasi  kepentingan politik di
DPR, padahal bank sentral tidak boleh berhenti beroperasi.

Skenario pertama:
Masalah hukum kemudian menjadi utama dalam kasus pengantian deputi BI
(pemerintah sudah mempersiapkan 3 orang penganti). Dan menurut hukum jika
DPR dua kali menolak calon dari pemerintah maka otomatis gubernur BI yang
lama tetep menjabat. Artinya selama ini perekonomian kita di pegang dan
dikuasai sama kriminal. Kan Gubernurnya (Syahril sabirin) masih dalam
tahanan dan tuduhan kasus kriminal (bank Bali). Usaha membentuk opini bahwa
gubernur yang lama benar.

Skenario kedua:
Kemudian masalah Amademen undang-undang untuk menggugurkan peraturan yang
diatas, perlu amandemen (dan pasti ada loby politik) baik dari kepentingan
politik yang akan mengajukan orang mereka untuk duduk dalam jabatan "basah"
tersebut. Dan ini  juga akan memakan waktu yang lama. Padahal yang namanya
BI harus memantau terus perkembangan (keluar/masuk) uang baik dalam dan
luara negeri. Usaha memperlama proses sampai ditemukan kompromi politik
(win-win solution) yang jelas membuang waktu dan memperlama krisis dan
kejatuhan sebuah negara.

skenario ketiga:
Adalah pengabungan dua skenario diatas terus diambangkan (tidak ada
keinginana baik) dari para pelaku pasar dan wakil rakyat yang ada di DPR
sehingga keadaan ekonomi semakin kritis dan keadaan kemudian menjadi kacau.
Hal ini dimungkinkan karena pelaku pasar dalam negeri mayoritas masih
dikuasai oleh orang-orang ORBA (yang mulai disingkirkan sedikit demi sedikit
oleh orang-orang GUSDUR). Kondisi kacau inilah sangat menguntungkan bukan
saja bagi spekulan, tetapi para pendukung orde baru.

Tekanan strategi diatas dipakai agar dosa-dosa mereka bisa diampuni
(kompromi), atau lepas dari jerat hukum. Kasus Sahril sabirin, kasus Tommy,
Suharto dll.

Hal ini mungkin ditambah dengan strategi teror, isu peledakan bom dan bom
itu sendiri.

Usulan pemecahan kritis ini adalah:
Menerima tawaran pengantian dari pemerintah, sambil kemudian DPR melakukan
Amademen yang baru sehingga pemimpin yang ditawarkan Gus Dur tidak bisa
melakukan KKN dengan pemerintah apalagi kompromi. Hal ini publik harus
benar-benar mengawasi angota rakyat yang ada di DPR agar tidak ada usaha
kompromi dan KKN dengan pemerintah, Swasta, dan sisa-sisa orba itu sendiri.

Jika tidak hal yang terakhir ini yang dijalankan, saya yakin kondisi kacau
dan saya menawarkan agar beramai-ramai kita menutut wakil rakyat untuk turut
bertanggung jawab atas krisi yang berkepanjangan.
Jadi anda hati-hati dalam mengamati masalah BI ini, hal ini benar-benar
bisnis politik paling besar yang akan mengalirkan dana milyaran (baik orang
dari kalangan ORBA maupun Tidak) dan saya yakin akan memakan waktu yang
sangat lama.

Tambahan tokoh CSIS dan ICMI sama-sama berkeyakinan bahwa kasus ini akan
memakan waktu lama dan tidak semudah GUSDUR menawarkan orang lalu DPR
menganti, yang artinya krisis akan bertambah panjang saja.

M. Mashuri Alif

----- Original Message -----
From: Irsal Imran <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 20 Nopember 2000 4:53
Subject: [economist] Re: Lupakan Ilmu Ekonomi


> Betul, ilmu ekonomi bisa dikatakan more arts than science. Jadi kalauada
orang yang bicara masalah ekonomi dan tidak mau nerima pendapatorang lain,
dia pastilah bukan seorang ekonom.  Benar atau tidaknyasuatu keputusan dari
analisa ekonomi memerlukan waktu bertahun-tahununtuk membuktikannya.
Sementara hubungan antara suatu varibelekonomi selalu berubah-rubah, karena
banyak sekali variabel-variabelyang saling mempengaruhi.  Jadi tidak heran
jika rumus untukmemprediksi perkembangan ekonomi makro yang dikembangkan
oleh Whartonmempunyai ratusan persamaan struktur dan ribuan variabel, tetap
belumbisa mendapatkan hasil yang baik.Salam,Irsal   --- In
[EMAIL PROTECTED], adnan basalamah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:> On Tue, 14 Nov
2000, Eva Gloria wrote:> > > Lupakan Ilmu Ekonomi> > Lupakan Ilmu Ekonomi> >
Oleh : Gede Prama> > > > Entah siapa yang belajar dari siapa, dilihat dari
segi caraterapi, ada> > empat kemiripan antara ilmu ekonomi dengan pedagang
sop> > betawi. > > > > kalo buat saya yang awam ini.. ekonomi itu lebih
dekat ke ilmu > ekologi , ekosistem dan sebangsanya. ekonomi itu menurut
saya tidak > bisa (atau tidak boleh ) didekati dengan cara pikir
mekanistik(pencet> tobol A, maka akan terjadi B). > > bagusnya lagi sih ,
menurut saya, tidak ada lagi tombol tombol yang> bisa dipencet oleh
siapapun. biarkan semuanya economic agent itu> autonomous, sepanjang dia
tidak melanggar aturan keadilan dalamproses> ekonomi (pertukaran antara
barang atau jasa ) itu.> > > > -adnan-> http://xxx.itb.ac.id/~adnan
>
>
> -------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~>
> eLerts
> It's Easy. It's Fun. Best of All, it's Free!
> http://click.egroups.com/1/9699/0/_/125535/_/974670814/
> ---------------------------------------------------------------------_->
>
> Website; http://learn.to/economist atau http://economist.learn.to
>
> Untuk Bergabung; silakan isi alamat e-mail anda pada website,
>
> atau kirim pesan kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
>
> Untuk Keluar; kirim pesan kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
>



>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke