On Tuesday, 21 November 2000, Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
WAM:
> Ketentraman baru akan tercapai jika ada keseimbangan kekuatan.
yap:
Benar, itu salah satu school of thought yang diantaranya menghasilkan perang
dingin dan perlombaan senjata. Tetapi itu bukan satu satunya. Bahkan saya
cenderung mengatakan, bahwa premis diatas itu adalah yang paling primitif
yang bersumber dari hukum rimba. Banyak sekali contoh sebaliknya, dimana
tidak terjadi perimbangan kekuatan tetapi terjadi ketenteraman.
Kita mulai dari rumah kita. Apakah Anda "sama kuat" dengan isteri, anak
anak, pembantu rumah tangga atau mungkin saudara yang ikut numpang dirumah
Anda? Jawabannya pasti tidak. Tetapi saya yakin terjadi ketenteraman disana.
Kekuatan sama sekali bukan penentu kalah menang atau determinan bagi
ketenteraman itu. Anda boleh mengatakan itu karena saling pengertian, cinta
kasih, saling membutuhkan, saling apapunlah. Tetapi jelas bukan karena
perimbangan kekuatan.
Dilingkungan kecil RT/RW atau Kelurahan, timbulnya ketenteraman juga bukan
karena keseimbangan kekuatan. Malah yang kuat menolong yang lemah, atau
minimal tidak saling mengganggu.
Kehidupan antar negara, antar etnis, antar agama dan seterusnya tidak selalu
didasarkan pada perimbangan kekuatan.
Jadi kemauan untuk menciptakan ketenteraman bersama jauh lebih penting
daripada sekedar perimbangan kekuatan.
WAM:
>Yang terjadi, sebelum LJ ke Maluku, orang Kristen amat sangat kuatnya.
Sehingga
> mereka dapat memperlakukan warga Islam seperti binatang. Dan tidak ada
> orang (apalagi warga Kristen!) yang peduli.
yap:
Kalaupun situasi awal yang terjadi seperti itu, apakah situasi akhir yang
ingin dicapai adalah:
>Yang terjadi, setelah LJ ke Maluku, orang Islam amat sangat kuatnya.
Sehingga
> mereka dapat memperlakukan warga Kristen seperti binatang. Dan tidak ada
> orang (apalagi warga Islam!) yang peduli.
Saya yakin bukan begini yang diinginkan. Jadi perlu dipikirkan kembali.
WAM:
>Apapun kata orang Kristen
> tentang LJ, kedatangan mereka toh secara efektif telah menghentikan,
> minimal mengurangi, pembantaian terhadap warga Islam.
yap:
Kalau dilakukan dengan dakwah untuk mengembalikan ketenteraman, itu baik
sekali. Tetapi kalau dengan serangan balasan, ya patut disesalkan, karena
masih banyak cara lain yang lebih Islami.
WAM:
>Andaikata pihak
> berwajib dapat melindungi nyawa di Maluku, nggak ada gunanya kelompok
> macam LJ datang ke sana.
yap:
Apakah LJ memang berhak secara otomatis mengambil alih tugas yang berwajib?
Apakah kemudian ternyata LJ dapat melindungi nyawa di Maluku? Atau malah
mempertebal semangat permusuhan yang sementara teredam karena merasa kalah
kuat?
Fakta membuktikan bahwa meredanya ketegangan di Maluku adalah karena
penerapan darurat sipil, bukan karena LJ.
salam,
yap
-------------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!