On Wednesday, 22 November 2000,  Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

>
> WAM:
> Frustasi.
> Saya tidak sedang, telah, atau akan menjadi provokator. Saya yakin, saya
> lebih dekat ke Kekristenan daripada anda, bung Yap. Berapa kali anda pergi
> ke gereja menghadiri saudara dekat yang menikah?  Kalau ada orang yang
> paling menghendaki kerukunan beragama, saya adalah salah satunya. Tapi,
> itu tidak bisa saya lakukan sementara orang dibantai semena-mena tanpa
> daya.

yap:
Saya memang tidak pernah secara khusus mempelajari agama Kristen, karena
lingkungan dan lintasan hidup saya tidak memungkinkan untuk itu. Saya belum
pernah masuk gereja, vihara, synagog atau lainnya untuk alasan apapun.
Tetapi saya punya banyak teman dari beragam agama, sehingga sedikit tahu
juga dari information exchange yang terjadi, dan sejauh ini, yaitu tadi:
there's good and bad in everyone. Bukan karena agamanya. Bahkan teman saya
yang mengaku atheispun sama sekali tidak jahat. Anda beruntung mempunyai
lingkungan keluarga yang beragam agama, sehingga mestinya dapat  lebih
memahami konsepsinya. Dan jadi paham bahwa keberingasan umat beragama
sebagian besar akibat pemelintiran ayat atau penerapan semangat jiwa korsa
yang keliru.

> WAM:
> Saya tidak sedang menempatkan diri saya yang aman tenteram di Jakarta.
> Saya sedang mencoba merasakan bagaimana nasib warga Islam di Ambon.
> Jika anda, yang tidak berada di Ambon, merasa persetan dengan nasib
> mereka, itu urusan anda. After all, anda jauh lebih beruntung. Tapi, tidak
> ada salahnya bukan, kalau ada orang yang mau memikirkan bagaimana nasib
> orang2 yang dibantai semena-mena hanya karena berbeda agama?
>
Untuk kasus Maluku, saya pikir bisa dikonsep mulai dari Jakarta. Para pemuka
Islam dan pemuka Kristen menyusun konsep bersama pemulihan ketenteraman,
lalu dikoordinasikan untuk mendapat kesepakatan Pemerintah, pemuka Islam dan
pemuka Kristen Maluku (kalau perlu per Kabupaten), lalu diimplementasikan
secara bersama dalam semangat kerukunan. Kalau hanya dilakukan salah satu
pihak, misalnya LJ, tentu obyektivitasnya diragukan.
Krisis Maluku telah sangat melelahkan penduduk setempat pada umumnya, yang
beragama apapun, sehingga perlu juga program untuk meringankan beban
ekonomi. Bahkan kalau Anda ingat, pemicu kejadian ini adalah kecemburuan
ekonomi yang berawal diterminal angkot, yang kemudian berkembang jadi
tawuran massal yang menjadikan kota Ambon hampir rata tanah. Berlanjut dan
berlanjut sampai sekarang. Untuk mengembalikan kerukunan dan ketenteraman,
apa salahnya kelompok relawan Islam didampingi beberapa pemuka Kristen
mengusung bantuan pangan, perumahan dan kesehatan untuk komunitas Kristen,
dan sebaliknya kelompok relawan Kristen didampingi beberapa pemuka Islam
mengusung bantuan pangan, perumahan dan kesehatan untuk komunitas Islam.
Boleh saja aparat keamanan bersiaga seperlunya, just in case. Begitu
selanjutnya sampai ada program kegiatan nyata yang dilakukan oleh campuran
komunitas kedua agama itu. Pada event event itu ditumbuhkan semangat
kerukunan, keberanian memaafkan, mengakhiri hari-hari buruk dan menyongsong
masa depan bersama. Banyak ayat ayat dari agama manapun untuk mendukung
program ini. Program semacam ini jauh lebih effektip dan biaya ekonomis
maupun sosialnya jauh lebih rendah.

salam,
yap
------------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.




>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke