> Kawan-Kawan sekalian,
> Luar biasa! Kalau semuanya keluar dari hati yang tulus, Martin adalah
orang
> baik sekali. Mudah-mudahan dalam lingkungannya banyak manusia lain bisa
> ketularan kebaikannya. Amin.

Martin:
Amin!

> Bagaimana kalau membela orang yang dibantai karena agamanya ? Apakah anda
> bisa mengartikan lain dari itu, bila suatu pesantren ditumpas habis sampai
> sapi-sapinya, atau suatu kumpulan orang yang lagi sholat idulfitri
dibantai
> ( garong mau mengoleksi arloji-arloji, kali !) ?
>
> Apakah membela orang dibantai karena agamanya sama dengan membela agamanya
,
> jadi termasuk yang bukan hobby-nya bung Martin yang amat manusiawi itu ?

Martin:
Saya sudah tulis berkali-kali, bahkan sampai ada yang dimuat DeTAK,
khususnya yang berjudul "Duka Ambon, Duka Anda, Duka Kita". Kita bela
korbannya karena dia manusia, titik! Bukan karena dia itu satu agama, satu
kelompok, satu identitas dengan kita. Dimana ada satu manusia dibantai,
disitulah semua kemanusiaan kita dibantai. Saya pikir, pasti anda paham itu,
dan pertanyaan dangkal spt diatas itu tidak berulang-ulang ditujukan kepada
saya.

Sekarang Aceh dan daerah-daerah lain sedang musibah dashyat. Nah, kita mau
solidaritas kepada mereka karena manusia atau kesamaan identitas?

> Susahnya, bila tidak punya media yang baik , bahasa yang pas, metode yang
> pas pula, ( dan duit yang cukup pula),  membela manusia islam bisa
> dibalik-artikan menjadi membela agama. Amat tidak keren. Mas Aswat pasti
> masih ingat ketika saya "nangis" di media milis mengabarkan banyak orang
> mati dibunuhi ketika sembahyang idul-fitri......Tidak ada orang Nasrani
> luar-biasa seperti Martin yang ikutan nangis.

Martin:
Kalau orang Kristen yang ngomong pasti lain lagi Pak!
Ketika ratusan umat Gereja HKBP ditahan tanpa prosedur, disiksa oleh militer
dan dibunuh (secara sadis) karena menolak campur tangan pemerintah dan
militer, tidak ada orang Islam luar biasa seperti Pak Abdullah yang ikutan
nangis. Atau, malah TIDAK TAHU?
Ketika satu keluarga pendeta di Bekasi dipaksa dimasukkan ke gedung gereja,
lalu pintunya dikunci dan kemudian dibakar hidup-tidup, tidak ada orang
Islam luar biasa seperti Pak Abdullah yang ikutan nangis. Atau, malah TIDAK
TAHU?
Banyak lagi kasus yang tidak diungkapkan ke khalayak (dan juga sempat
terlontar di milis ini oleh rekan peserta milis yang lain), dan lebih banyak
lagi kasus yang tidak mau dimuat oleh Pers. Entah karena alasan apa.

Lalu, atas kejadian sadistis seperti itu, sahih kah alasan yg mengatakan
bahwa, "Ah.., mereka sih nyebarin agamanya dengan bernafsu!". Apakah memang
balasan untuk hal itu harus dibunuh secara sadis? Sahihkah alasan yang
mengatakan, "Gedung Gerejanya sih mewah banget, sombong!". Apakah balasan
yang setimpal untuk hal itu adalah pembunuhan yang sadistis?

Karena itu, STOP untuk membela manusia karena identitas. Sampai kiamat,
pertikaian ini tak akan berakhir bila solidaritas kita adalah solidaritas
sempit pada kesamaan identitas. Tetapi, bila solidaritas kita sudah mampu
melampaui batas-batas identitas, maka kita akan bisa menata perdamaian itu.

> Kala itu, pertikaian belum
> ruwet. Tapi, kala itu membela manusia tidak laku...karena agamanya islam
> mungkin?.
> Mayoritas tapi bagi buih dilautan, tidak ada daya, tidak ada wibawa, tidak
> didengar, karena miskin, karena bodoh. Nasibnya cuma dipepet , digencet,
> marah, ekstrim, dan dibabat....!

Martin:
Semua punya versi Pak!
Orang Hindu juga punya versi: "Eh.., mentang-mentang kami minoritas, masa'
katanya orang Hindu nggak bisa jadi Presiden?"
Orang Kristen lebih banyak lagi ngedumelnya: "Mentang-mentang minoritas,
nggak bisa bangun gereja, sulit dapat pekerjaan, sulit naik jabatan,
diskriminasi dalam prestasi, oh... nasib kami cuma dipepet, digencet, marah,
ekstrim dan dibabat....!"
Orang Budha juga punya versi, "Kami ini jumlahnya memang kecil, banyakan
Tionghoa lagi. Mendirikan klenteng dibatasi, nggak boleh mempelajari budaya
sendiri, merayakan Imlek harus sembunyi-sembunyi, kami diperas karena dikira
orang Tionghoa itu kaya semua. Tahun 1965, kami dibabat habis, Tahun 1998
terjadi lagi... semua itu terjadi hanya karena kami bermata sipit. Oh, nasib
kami yang malang; cuma ditindas, digencet, diperkosa dan dihancurkan..!"

> Kalau sekedar keren-kerenan bahasa, itu mah jauh lebih mudah daripada
> keren-kerenan sensitivitas nurani......
> Kekerenan nurani adalah relijiusitas yang anda sebut itu........

Martin:
Keren-kerenan nggak ada gunanya.
Point-nya: Tunjukkan religiositas itu!

> Wassalam,
> Abdullah Hasan.

My religion is very simple,
my religion is kindness
-- Dalai Lama
____________________________________________
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
Faculty of Economics, University of Indonesia.



................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke