----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 23 Desember 2000 23:55
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [Muslim Okayama] Perayaan Natal Bersama


Bung MYP,

Apakah perubahan itu terjadi bersamaan dengan pemerintahan ORBA?

Dari posting Bung NS saya memperoleh kesan kuat bahwa MUI pada masa ORBA
adalah kepanjangan tangannya untuk menjadi pemadam kebakaran atau
mengoalkantujuan2 pemerintah. Kasus Hasan Basri (Kasus Harmoko adalah contoh
pemadam kebakaran)

MYP:
kalau saya lebih extrim. MUI sekarang cuma kumpulan orang cari duit. karena
udah ngak ada duit, sekarang jadi kepentingan politik. ini lebih berbahaya
dari massa orba bung.

Ac:
Dalam konstelasi politik sekarang, ORBA secara formal sudah tidak berkuasa
namun tentu saja banyak orang yang kelihatan existing benefit dengan
hancurnya ORBA. Nah, persoalannya sekarang adalah apakah MUI mungkin menjadi
tempat bagi orbawan untuk memperoleh kembali benefit yang telah hilang itu
ketika dalam pemerintahan sekarang tampaknya tidak mau menggantinya.  DS
yang bersuara itu dulu juga bagian dari Orba dan pernah disindir sebagai
ilmuwan tukang oleh GD.

MYP:
Kata siapa ngak berkuasa; orba itu dibagi tiga. Orbanya sendiri Macam
cendana Cs, ok bisa dibilang tidak berkuasa, tetapi kelompok yang di
untungkan orba masih banyak, dan yang dibesarkan orba juga banyak Mega dan
Gusdur itu kelompok ketiga itu, di kelompok yang dibesarkan orba tanyadeh
sama orang orba langsung. Nah Akbar Tanjung dan Amien itu mungkin kelompok
yang kedua yang diuntungkan orba. Nah tinggal pilih yang mana? Selebuhnya
oportunis politik, cuma korban doang akhirnya, kaya PPP.

Kelompok kedua jika benar punya pengaruh besar, karena dia didukung finasial
dan dana yang kuat memang bahaya, apalagi kalau TNI sampai ngedukung juga,
bisa di bilang Reformasi tinggal slogan doang. Perjuangan sia-sia untuk
mendudukan yang itu-itu juga.

Ac;
Saya hanya heran dan sedikit berpikir negatif jangan-jangan ini adalah
bagian dari persiapan pemilu yad? Bila demikian, agama sebagai kendaraan
politik lagi dhong....

MYP: Ini evalusasi akhir tahun.
Dari latar belakang diatas; apapun selama masih bisa dibeli oleh
uang selesai segalanya. Tetapi pusat uang ada disatu tangan yaitu Cendana.
Siapa yang bisa kuasai Cendana ia akan kuasai negeri ini. Nah saya lihat Gus
dur lebih lihai dalam hal itu bung. Mega, Akbar dan Amien kurang, karena dia
udah keki tohar ngak pernah kasih ati sama orang islam/nasionalis. Akhirnya
Akbar dan Amien sendiri dikucilkan oleh TOHAR akibat kesalahan strategi
HABIBIE CS.

Tetapi ingat Ac; jika berpolitik hanya dikisaran perebutan kekuasaan dan
materi (macam jaman pertengahan dulu) hal ini pasti tak akan menyelesaikan
permasalahan. Memang pembangunan perlu uang dan uang yang bisa membutakan
mata rakyat. Karena Idiologi sudah tidak bisa lagi digunakan. Slogan
Nasionalisasi seperti angin lalu dll. Tetapi perebutan aset modal pun bukan
cara satu-satunya ditambah tindakan hukum yang kuat dan tegas. Gus dur
(mungkin) bisa tegas tetapi jika kenyataanya aparatnya  masing
terkecing-kencing, sama juga boong. Apalagi jika aparat juga sudah masuk
dalam klik konspirasi bagi keuntungan ini?

Satu-satunya saya sih mengharapkan agar Mahasiswa kalau perlu didukung sama
rakyat bergerak lagi. Agar para pemimpin yang melakukan konspirasi terus
diingatkan. Bahwa benar reformasi atau beban politik ini belum selesai.
Suharto dan kroninya belum diadili. Harus diadili walaupun kita ngak dapat
apa-apa juga dari mereka. Catatan Markos sampai sekarang harta yang kembali
ke negara hanya 1/2nya sisanya lenyap. Selama Gus Dur masih mau main api
disekitar itu tanpa ada dukungan yang kuat baik dari sipil dan militer.
Wassalam. Itupun jika Gusdur mengharapkan terjadi Revolusi karena ia yakin
hanya sipillah yang mendukung ia.

Terbukti politik sulap uang ini tidak kena dimasyarakat. Ini politik elit
yang tidak berguna oleh masyarakat. Kita tahu BULOK itu perpanjangan ORBA,
jangan dong main-main sama api kebakar nanti dan terbukti? Jadi Satu-satunya
 Cuma hukum harus ditegakan dan Mega harus ambil bagian dalam kecangihan
elit
politik macam Gusdur. Instruksi harus datang dari MEGA
untuk menyelamatkan kepemimpinan GUS DUR. OLEH SEBAB ITU para yang mendukung
reformasi di DPR harus melakukan Konspirasi/koalisi tanpa melibatkan
sisa-sisa orba. Sekali lagi saya pribadi tidak setuju langkah yang dilakukan
Kwiek. Kecuali ini merupakan cikal bakal DPR perubahan. Kualisi sekarang
harus jelas siapa musuhnya dan siapa lawannya sehingga rakyat terdidik.
Nasionalisme PDIP kadang-kadang absurt semua ingin dilibatkan. Pada intinya
sebenarnya PDIP itu kelompok mayoritas ekonomi menengah kebawah yang dalam
ekonomi selalu kalah dalam bersaing. PDIP harus pegang kendali di DPR untuk
menahan laju AKBAR dan AMIEN jika ia secara Demokratis mau menang dalam
pemilu 2005 dengan mengandeng partei besar
lainnya macam PPP (sejarah membuktikan Mega Bintang Rakyat), PDIP dan PKB
serta partai kecil nasionalis lainnya. Saya masih yakin (massanya) di dalam
PPP masih banyak elemen yang ingin memperjuangkan reformasi. Selama Strategi
frontal ini dijalankan dalam menyerang kubu GOLKAR dan PAN terutama GOLKAR
(saya yakin pemilih PAN tahun ini akan merosot).  Reformasi masih bisa
dipertahankan dengan syarat; beban reformasipun diselesaikan untuk
menyenangkan hati rakyat yang sedang lapar ini? misalnya kasus hukum selesai
cepat dan tegas tanpa ada lagi nuansa kolosi walaupun dalam tubuh TNI
sendiri.

Dan PKB dan PDIP harus mau lagi bergandengan dengan Mahasiswa dan LSM untuk
memperkuat barisan dalam menghadapi bangkitnya orde baru tersebut sampai
ketingkat DESA mereka harus memberikan jalan bagi mereka mendidik rakyat di
desa-desa dan kampung-kampung.

Saat ini yang terlihat adalah persaingan di tingkat dua, kalkulasi yang saya
perhatikan PDIP kalah dengan GOLKAR di daerah-daerah, selama birokrat masih
banyak orang golkar kemungkinan orba bangkit lagi bukan suatu yang tidak
mustahil. PPP sendiri jika tidak pandai-pandai bermain ia akan tengelam
dengan banyaknya partai Islam yang tumbuh. Apalagi tidak ada kukunya di
birokrat memungkinkan PPP akan turun drastis. Jika dia mau kuat dia harus
melakukan Qualisi strategis dengan PKB dalam mendekati GUSDUR lalu ke MEGA.

Dilihat sepintas mata PPP ini adalah kelompok Islam Tradisional KOTA besar
dan tradisional NU dan muhamadiyah yang ekonominya low class sama dengan
masa PDIP. Beda dengan muhamadiyah yang di PAN. Jadi untuk dilibatkan dalam
kualisi dengan GOLKAR (walau mungkin) tetapi kecil hasil yang akan
didapatinya dan akan mendapat beban psikologis dari para pemilihnya jika PPP
sampai berkualisi dengan Golkar. Walapun ada upaya dari kiayi sejuta Umat
untuk jangan lagi mengkambinghitamkan orde baru merupakan syarat agar PPP
mau untuk kualisi ke GOLKAR. PPP dipersimpangan.

PDIP terbukti juga ngak punya apa-apa di DPR. Oleh sebab itu PDIP harus
split dan harus terus menonjol di DPR. Dan mengambil kepemimpinan yang
dipegang AKBAR dan AMIEN. Bukan hanya dengan cara kwiek, masih banyak cara
lain.

Itu saja evaluasi akhir tahunya bung ac, semoga berguna; Pesan saya buat
orang-orang PDIP kalau ngak dapat bekal dari GUSDUR jangan marah-marah (kaya
julius usman) karena GUSDUR sendiri di kencingi sama CENDANA. Satu-satunya
PDIP harus tegas walaupun sama-sama berhadapan orang-orang Nasionalis di
CENDANA dan di dalam TUBUH PDIP yang masih berbau ORBA.







................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke