Saya sering lewat Bunderan UGM yang bisa menjadi tolok ukur pertemuan mhs se Yogya
kalau Demo. Disamping Bunderan UGM juga ada daerah Mrican temjpat dimana Moses
Gatotkaca meninggal sebagai tempat rendezvous mhs beberapa kampus. Namun aku heran
karena gerakan BEM sekarang ini berbeda dengan gerakan mhs dulu dalam hal jumlah dan
cakupan wilayah serta frekuensinya. Nggak bisa dibandingkan deh...
Teman-teman kerjaku alumni UGM aku provokasi, tuh apa sampeyan nggak akan ketinggalan
dengan UI.
Kitaro San, Cak Gigih, dan temin2, apa kita tidak akan menjadi provokator di
lingkungan kita masing2 melihat keadaan ini? UI sudah memulai dan Martin sudah menjadi
provokator. Seandainya saja ada beberapa lagi maka akan habislah nasib BEM itu.
Beberapa anak muda yang saya kenal mengatakan BEM itu gathel............ Yang aku
heran, UGM koq ya mendukung BEM itu dengan memberi kendaraan dinas. Ini mah hebat
sekali Iklhasul Amal itu. Saya dulu impress dengan penampilannya ketika memimpin
pisowanan ageng warga UGM ke Keraton. Namun kini, waduh.... nuwun sewu.... Pak Kunto
koq diam saja ya...
----- Original Message -----
From: Fukuoka Kitaro <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, January 29, 2001 4:18 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] SCTV, siang ini (30 Jan 2001)
Sing sabar ae Caaak.
Sing jelas pendemo telah merembet kepada
para pedagang kaki-lima, yang tidak menginginkan
presiden sampeyan di-dongkel (sesuai dengan kata-kata
yang dilemparkan oleh pembawa acara di Aneka Dialog
RCTI semalam.
Pendapatku tetap seperti dulu 1-2 tahun lalu pernah
tak jadikan rubrik cyber dengan judul "Nyentil",
yang kena protes bung WAM karena memusingkan
hehehe...
Yang jelas almamater-ku kemarin telah diwakili
oleh sekelompok BEM-nya lengkap dengan atribut
jaket almamater, bendera perguruan dan spanduk
besar BEM bla-bla.... dengan lantang menyatakan
bahwa "presiden harus mundur". rupanya jaket
kuning dan jaket biru-ndangdut mulai menerjang, Cak.
jaket biru-ndangdut yang dulu pernah sampeyan
bela-bela mewakili teman-teman sampeyan di
UNAIR..... (teman-teman sampeyan itulah sekarang
rupanya menjadi motor penggerak almamater-ku).
Sementara sebagian lain civitas akademika-ku bilang
"Boss, mereka dapat bayaran kok boss, minim
no-tyaw sekali brangkat..."
dan keponakan-ku bilang "Om, apa kampus sampeyan
nggak ada UJIAN AKHIR SMESTER?"
salam,
Fuku-mBogor
------------
----- Original Message -----
From: "GIGIH NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, January 30, 2001 12:38 PM
Subject: [Kuli Tinta] SCTV, siang ini (30 Jan 2001)
Di Liputan 6 Siang, SCTV, ada perbincangan antara
penyiar SCTV (Indiarto kah namanya ?) dengan Jubir
Presiden, Massardi. Topik yang diambil adalah soal
wacana (katanya begitu) 'Presiden ingin membubarkan
DPR/MPR'.
Soal 'DPR/MPR dibubarkan' sama-sama sudah kita
ketahui, ketika Ir Soekarno, Presiden RI ke-1, atas
dasar bisikan Jenderal Nasoetion, dengan Dekrit yang
terkenal, 1959 lalu. Dan rupanya, seputar 'mirip'
seperti inilah yang dicoba konfirmasikan oleh penyiar
SCTV tersebut kepada sdr. Jubir.
Indiarto (?) langsung menohok Adhi Masardi dengan
kalimat, yang seolah-olah mencoba minta konfirmasi,
'apakah benar Presiden Gus Dur memang ingin
membubarkan DPR/MPR'.
Massardi langsung membantah, mencoba meluruskan, bahwa
wacana itu, 'kemungkinan presiden membubarkan DPR/MPR'
bukannya tidak ada, tetapi memang tak sedikit orang
yang membicarakan. Namun dengan tegas Adhi Massardi
membantah bahwa pemikiran atas wacana itu berasal dari
Presiden Gus Dur.
Sayang, entah Indiarto itu tuli atau pura-pura tak
tahu, atau ingin menjebak Adhi Massardi, atau entah
tujuan lain yang aku tak tahu, Indiarto selalu
mengawali setiap pertanyaannya dengan kesan tetap,
bahwa Presiden Gus Dur-lah yang melemparkan wacana
tersebut. Juga ketika ia mencoba bertanya kepada Prof.
Suwoto dari Surabaya.
Pertanyaan terakhir Indiarto, yang sudah berkali-kali
dibantah oleh Adhi Massardi selama wawancara tersebut,
bahwa wacana itu bukan muncul dari Presiden Gus Dur,
adalah 'Apa Gus Dur tidak tahu konsekuensinya dengan
melempar wacana tersebut ?'.
Masya Allah. Inilah sebuah wawancara, di mana yang
satu (pewawancara) mengulang-ulang statemennya meski
sudah diluruskan oleh pihak satunya (yang
diwawancarai), dan yang diwawancarai berulang-ulang
mengingatkan dan meluruskan bahwa 'wacana membubarkan
DPR/MPR tak mungkin muncul dari seorang demokrat
sekaliber Presiden Gus Dur'. Dan prosesi menyebalkan
ini berlangsung sepanjang wawancara berlangsung.
Bayangkan, tiap kali Adhi mau menjawab, selalu diawali
lebih dahulu dengan pelurusan atas pertanyaan yang
diajukan Indiarto, bahwa seolah-olah Presiden Gus
Dur-lah yang berkeinginan untuk membubarkan DPR/MPR.
Penggiringan opini melalui media massa rupanya memang
sudah menjadi kebiasaan pers dewasa ini. Rasanya, aku
hampir setuju, kalau ada pihak-pihak lain yang tidak
menyukai 'ulah' tersebut lalu melakukan penyampaian
keluhannya, dengan cara-cara mereka sendiri.
Mau damai dari mana ?
=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35
a year! http://personal.mail.yahoo.com/
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
