--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Senin 05 Februari 2001 15:30 UTC * Makin Keras Saja Seruan Membentuk Pemerintah Sementara Kemarin, Pemuda Muhammadiyah meminta Presiden Abdurrahman Wahid agar mengundurkan diri. Secara de facto presiden sudah tidak efektif lagi memerintah. Apapun yang dilakukannya tidak akan menghasilkan apa-apa, tegas Pemuda Muhamadiyah. Berikut laporan koresponden Syahrir dari Jakarta: Memang, tuntutan agar Gus Dur segera turun dari kursi kekuasaan kian melebar di pelbagai daerah. Tiga hari terakhir ini massa yang mendukung tuntutan agar Gus Dur lengser menggelembung hingga mampu menutup beberapa jalan utama di Jakarta. Ada banyak suara yang mengatakan bahwa massa tersebut adalah massa bayaran. Terlepas apakah massa tersebut dibayar atau tidak, sesungguhnya yang menarik untuk dicermati ialah hal-hal apakah yang melatarbelakangi keguncangan kursi singgasana sang kiyai? Gus Dur terpuruk karena kondisi obyektif saat ini menghendaki demikian, Gus Dur terpuruk karena Indonesia dilanda krisis multidimensi yang tak mampu diatasi Gus Dur dengan cepat. Dan sebenarnya ini adalah kelanjutan dari keterpurukan Soeharto, kata Profesor Sarbini Sumawinata, ex Tokoh Partai Sosialis Indonesia. Soeharto yang mulai menciptakan ketidakadilan, pemerasaan, tekanan terhadap rakyat, dan juga terhadap pengusaha Indonesia. Soeharto menggunakan kekuasaan tidak untuk rakyat melainkan untuk diri sendiri. Habibie dan Gus Dur pun ternyata dalam jangka waktu yang relatif singkat menggunakan kekuasaan untuk dirinya sendiri. Kesalahan ini juga yang melengserkan Presiden Filipina Joseph Estrada dari kursi kekuasaan baru-baru ini. Padahal Estrada adalah seorang populis, ia dicintai rakyat miskin Filipina. Namun ketika ia berkuasa ia tidak melaksanakan politik kerakyatan untuk rakyat. Estrada, sama halnya dengan Gus Dur dan pengikut-pengikutnya, tergiur untuk berkuasa dengan melanggengkan sistem KKN, persis seperti yang terjadi di kala Soeharto berkuasa. Namun karena Soeharto berkuasa 32 tahun, maka jatuhnya pun lebih parah, tegas Sarbini. Secara terperinci Profesor Sarbini menyebut adanya tujuh kesalahan yang dialami Indonesia setelah 32 tahun pemerintahan Soeharto. Pertama praktek-praktek memperkaya diri dengan kredit-kredit dari para penggalang dana seperti George Soros. Sumarlin memulai debut karirnya sebagai menteri keuangan dengan melakukan liberalisasi perbankan. Semua orang dengan modal terbatas dapat dengan mudah mendirikan bank. Dan mereka pun bisa mempergunakan kredit-kredit untuk mermperkaya diri sendiri. Politik mereka didukung oleh Wall Street di New York, City di London dan sebagainya. Kredit-kredit ini digunakan dalam perekonomian gelembung seperti real estat. Ternyata Soros lari setelah gelembungnya pecah. Kekacauan ini menimbulkan masalah pada lembaga-lembaga ekonomi keuangan dan juga lembaga sosial. Apa yang ditinggalkan oleh Soros: rakyat yang diperas dan dirampas keuangannya. Kesalahan kedua adalah kerusakan-kerusakan pada sistem pajak dan perbankan. Juga terjadi kerusakan-kerusakan pada sistem perusahaan dan sistem peradilan. Seluruh sistem peradilan tidak berjalan karena sistem KKN. Hakim dan jaksa dapat dibeli. Pada akhirnya seluruh sistem peradilan rusak dan tidak bisa diperbaiki. Perusahaan-perusahaan besar menjadi rapuh, sistem keuangan dan perbankan rusak karena menggunakan kredit-kredit ciptaan para menejer dana, pengurasan kredit-kredit bank negara. Itu kesalahan ketiga. Di bidang pemerintahan, untuk sampai pada kesalahan keempat, mulai dari gubernur sampai dengan kelurahan hingga kini masih berlaku sikap Orde Baru. Birokrasi tidak mengindahkan kepentingan rakyat tapi ramai-ramai memperkaya diri. Akibat lain kebijakan Soeharto adalah pemberontakan daerah-daerah. Ini kesalahan kelima. Di samping itu, untuk melihat kesalahan keenam, kedudukan TNI hingga kini belum mendapat posisi yang sebenarnya. Ada sifat ketidakpastian dan ada upaya dari parpol-parpol untuk beraliansi dengan tentara. Yang ketujuh adalah sisa-sisa kekuatan Soeharto yang kini dapat dikatakan sebagai negara dalam negara. Kekuatan-kekuatan Soeharto itu masih ada dalam pemerintahan sipil maupun militer. Ini merupakan tujuh masalah yang menyebabkan keruntuhan Soeharto. Dalam menghadapai tujuh permasalahan tadi, negara dan bangsa tiba-tiba harus mengadakan pemilu. Maka terbentuklah kekuatan-kekuatan atas dasar pemilu itu. Partai-partai menganggap masalah-masalah yang dihadapi bangsa dan negara adalah semata-mata masalah teknis ekonomis dan politis. Maka dengan didukung pakar-pakar yang hanya mengerti persoalan-persoalan ini sebagai permasalahan teknis, partai-partai mulai memerintah. Mereka tidak mengerti bahwa masalah yang dihadapi Indonesia saat ini tidak semata-mata teknis ekonomis. Karena permasalahan yang dihadapi Indonesia toidak bisa serta merta diatasi oleh kepakaran oleh para ahli itu. Sesungguhnya masalah yang dihadapi Indonesia menyangkut kepemimpinan bukan masalah kepakaran tersebut. Jadi diperlukan seorang pemimpin yang kuat dan mengerti persoalan politik dan didukung kuat oleh masyarakat. Tujuannya adalah mengadakan reformasi total dalam tujuh permasalahan tadi, bagi penyelamatan republik dan aparaturnya. Masalah lain yang tidak kalah pentingnya ialah runtuhnya nilai-nilai dan pandangan-pandangan moralitas maka ini tidak bisa lagi dihadapi oleh kekuatan-kekuatan yang disebut juga sebagai faktor-faktor subyektif. Sekarang dibutuhkan suatu usaha 'turun mesin' secara menyeluruh. Tujuh bidang permasalahan ini perlu dibersihkan secara drastis dengan sikap yang tegas. Inilah referensi yang diperlukan Indonesia agar keluar dari krisis sekarang. Hasil pemilu tidak akan mampu mengatasinya. Masalah obyektif yaitu masalah-masalah yang diderita oleh rakyat selama berpuluh tahun tidak pernah diselesaikan. Maka bertumpuklah pelbagai persoalan ini. Muncul kini suatu kekuatan yang menghendaki perubahan total. Golkar dan elit politik saat ini pada akhirnya akan dilindas oleh rakyat. Jadi persoalan yang menggunung akan dikalahkan oleh kekuatan rkayat bagaikan air bah yang menghanyutkan. Penuntasan itu akan terjadi, ujar Sarbini. Suatu gempa politis atau orang Jawa menyebutnya goro-goro yang bisa menghancurkan semua bangunan-bangunan sosial politik akan berlangsung. Bila gempa politik tersebut terjadi, kekuatan-kekuatan revolusioner yang ada harus dapat dikendalikan dan diarahkan. Dan ini hanya bisa oleh suatu gabungan semua kekuatan yang masing-masing harus melepaskan baju partai dan baju ideologinya. Hal itu harus dilakukan mereka hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa saat ini. Dan ini hanya bisa dalam suatu organisasi yang bisa disebut sebagai pemerintahan sementara atau juga aliansi nasional. Dan aliansi nasional ini yang kemudian akan membangun kembali negara ini. Tetapi untuk sementara perlu diambil alih MPR lanjutan Orde Baru ini. Dan MPR baru membentuk suatu pemerintahan sementara dalam waktu sesingkat-singkatnya. --------------------------------------------------------------------- Copyright Radio Nederland Wereldomroep. --------------------------------------------------------------------- ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
