-----Original Message-----
From: mBin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 19 Februari 2001 13:29
Subject: [indonesia_damai] siapa membubarkan dpr ?


>
>kalau dpr bisa minta pertanggung-jawaban presiden
>dpr bisa minta ini-itu kepada presiden
>dpr bisa ngancam ini-itu kepada presiden,
>
>siapa yang mengawasi dpr ?
>yang minta dan ngancam ini-itu kepada dpr ?


MYP:
Menurut saya masa bodoh sama DPR mau kasih seribu
memorandum kek, biarin aja. Yang penting negara ini tetap
jalan dan rakyaktnya tetap bisa makan dan kerja. Biarin aja
elit kita cari lagi yang lebih merakyat. Mungkin yang muda-muda
lebih bisa diharapkan dari pada yang tua-tua yang udah terpolusi
kepentingan kekuasaan semata.

Nah, negara lagi kelaparan begini ngomong memorandum yang
ada DPRnya sekalian yang di memorandum baru rasa. Ha.. Ha..
Memang harus mulai kita bicara Sistem negara kembali
apa sebenarnya akar dari kemelut ini?
Jika saya mau diberikan solusi terlepas dari keinginan semua pihak;
harus ada badan yang khusus bicara tentang sistem demokratis
di Indonesia. System yang ancur-ancuran selama 32 thn
harus dipaksa bekerja hanya tidak lebih 6 bulan, dari mulai mundurnya
Habibie ke pemilu.

Seharusnya kekuasaan Habibie (CQ ORBA) menandai berhentinya
sebuah sistem usang dan harus di pegang untuk sementara oleh
sebuah lembaga (hal yang harus disalahkan ketika kefakuman di
pegang oleh MPR massa ORBA sebelum pemilu). Standar-standar
dan sistem serta perundangan seharusnya dibicarakan secara
bersama-sama oleh seluruh komponen Reformis; bukan langsung
melompat ke Pemilu. Kekeliruan ini yang tidak pernah orang perhatikan.

Sedikit saya contohkan; dalam bicara Negara; bukan seperti bicara
kucing dalam karung; bukan bicara pembagian kue dll. Tetapi bicara
kemerdekaan dan kehidupan untuk 100 atau mungkin 1000 tahun
kedepan; jadi tidak sembarangan. Faunding fauder (reformasi) yang
termaktub dalam pertemuan Ciganjur sendiri tidak dapat berbuat banyak,
karena tidak pernah bicara pada tataran konsep negara yang diharapkan sesuai
dengan keinginan pendiri negeri ini seperti yang pernah ditinggalkan oleh
Amir Syarifudin, Natsir, Hatta dan sukarno (jelas kerangka yang diusung).
Dan hal inilah yang tidak dilakukan saat MRP orba berkuasa ke MPR Reformasi.

Pada saat Transisioning sebenarnya yang harus dilakukan adalah
bukan memilih kabinet; tetapi menjalankan pemerintahan transisioning yang
harus dijalankan oleh DPR sampai keadaan
negara stabil; membuat krangka hukum; tata negara dan sebagainya
bicara pengentasan kemiskinan dll, DPR-lah yang seharusnya
menjalankan roda pemerintahan. Tetapi intelektual termasuk Gusdur
dan lain-lain; malah membela kebangkrutan dari ORBA seperti bukan
masalah besar yang dapat diselesaikan satu atau dua hari;
Setelah berkuasa ia baru bicara seperti demikan,
ini tidak ada gunanya, kata orang tua kita, nasi sudah jadi bubur.
Seharusnya sehabis pemilu MPR membentuk badan seperti BPUPKI
yang menugaskan DPR dari hasil rekonsiliasi tersebut untuk
mengkonsep/menjalankan pemerintahan. Ketika MPR bekerja apa
rakyat pernah tahu apa saja program DPR dalam memetakan
program pembenahan negara negara ini, yang nantinya akan di
amanatkan ke president?

Saya contohkan sedikit yang gampang untuk rakyat indonesia pelajari; tentang
pendirian sebuah negara di Timor-timur; saya tanya
apa setelah jejak pendapat langsung dibuat pemerintahnya?
Pemerintahan timor-timur adalah pemerintahan kualisi; mereka harus
mengkonsep dulu negara sesuai dengan keinginan mereka. Dan samapai saat ini
pemerintahan dan lembaga negara belum terbentuk yang ada baru tokoh
(konseptor) yang disebut CNRT. Pemerintahan transisi dipegang oleh mereka
yang menjadi representasi Demokrasi. Sampai perangkat dan sistemnya
terlaksana, yang juga diawasi oleh pihak Internasional. Kita tidak perlu
mengundang Internasional (ketakutan TNI), karena rakyatnya sendiri sudah
bisa
mengadili (melihat/bersikap) dalam segala masalah sosial bangsa ini.
(baca:kemarahan rakyat salemba terhadap pembakaran kendaraan milik tentara
pada kasus Suharto dan kudatuli baca: juga kemarahan rakyat yang membakar
gedung DPRD dan GOLKAR). Jika rakyat yang marah memang lebih seram dari pada
pihak internasional yang tidak diinginkan oleh TNI itu.

Walaupun pendiri negara telah membuat kerangka sebuah negara
tetapi belum final (baru gambaran besar Pancasila dan UUD)
yang seharusnya tiap jaman diselesaikan baik masa sukarno dan suharto; yang
ternyata dalam massa Suharto kita terjebak pada sistem otoriter; hanya pada
pembenahan ekonomi dan represi semata. Sisi Demokratisnya dan pemberdayaan
masyarakat tidak pernah diperhatikan. Yang akibatnya menghidupkan
bibit-bibit anarxisme (dendam terpendam). Saya pikir Susduk DPR/MPR sendiri
harus mengalami perubahan-perubahan yang harus melibatkan seluruh elemen
masyarakat baik yang menang maupun
yang kalah agar seluruhnya terwakili entah lewat untusan daerah maupun
utusan golongan (bisa diwakili dari elemen-elemen partai gurem dan para
intelektual) Sehingga bukan hanya ngomong tetapi
juga berbuat.

Pemberdayaan DPR ini harusnya dilakukan serempak dan diawasi rakyat terus
menerus dari tingkat DPRD II kalau mungkin tingkat kelurahan sampai  DPRD I
hingga DPR tingkat pusat mereka harus diuji menjalankan negara ini sampai
kondisi stabil, sehingga kepentingan-kepentingan akan terabaikan di dalam
DPR dan mulai bicara perut rakyat dan otak rakyat. Inilah cara-cara yang
secara demokratis (yang bayak orang katakan secara Revolusi - Demokratis).
Setelah stabil baru bicara pemilihan wakil-wakil pemerintahan atau kampanye
distrik setelah kampanye wakil DPR. Untuk menentukan pemimpin-pemimpin di
wilayahnya. Jika saja jalan ini dulu yang dilakukan MRPnya Amien Rais
mungkin kondisi negara ini tidak terjebak dalam perang saudara dan
menguntungkan kekuatan-kekuatan lama tersebut. Ratusan kepres dan kepmen
kalau
yang menjalankan masih dengan sistem dan budaya orba (KKN)
tetap saja negara ini dibawah ambang kehancuran siapapun pemimpinnya.
(pernah tidak ada yang menulis bahwa kepemimpinan MPR itu kolektif).

Lalu langkah selanjutnya audit seluruh kekayaan alam negara ini;
untuk menghindari usaha KKN. Menasionalisasi aset-aset negara
serta badan-bandan ekonomi yang tidak berjalan; kalau perlu
sita seluruh kekayaan para koruptor, jelas yang menyita adalah negara (DPR)
bukan Golongan (pemerintah). Dan menyebarkannya kepada masyarakat. Kedua
mendata jumlah penduduk untuk pemerataan ekonomi dan pemberdayaan
masyarakat. Dan program ini tidak pernah dirasakan baik pemerintahan
Habibie, Gusdur maupun siapapun seakan dunia berhenti, dan penganguran
seperti bergerak mengikuti itungan tahun bukan jam lagi. Mutu pendidikan
(kaum terdidik tidak bertambah); kalaupun bertambah tidak bisa berbuat
apa-apa.

Untuk kondisi sekarang nasi sudah menjadi bubur; kita akan mengulang lagi
hal yang telah lewat; satu-satunya hanya dengan
memberdayakan rakyat menghidupinya dalam wadah-wadah (komunitas sosial)
membangun figur sosial dalam komunitas
yang memungkinkan terbangunnya konsep negara dalam negara.
Hal yang tidak bisa di tutupi dalam sebuah sistem negara yang
buruk dan mau ambruk. Dalam kondisi sekarang saya tidak bisa
berbuat banyak selain mengandalkan rakyat dan mengarahkan
pada cita-cta yang benar (bukan anarxisme) tetapi Revolusi kalau
bisa revolusi damai (Flower Revolution).

Sekarang mungkin saya (kita) hanya bisa bermimpi DPR yang
mengabdi pada rakyat. Catatan mayoritas rakyat Indonesia 55%
adalah Petani ada tidak wakil Tani di DPR kita, yang bicara kepentingan
Tani?
30% adalah Buruh Industri dan jasa ada tidak wakil kita di DPR
dari mereka dan bicara kepentingan mereka? tidak sampai 15% Intelktual dan
kelas menengah perkotaan kita ada kah mereka di DPR yang memihak rakyat? 5
Persen Konglomerat/pengusaha adakah mereka terwakilkan didalamnya?

Berapa tenaga kerja yang akan terserap bila konsep Otonomi daerah
yang menjalankan adalah DPR (yang sudah merupakan representasi rakyat) dari
mulai tingkat kelurahan hingga ke kota. Berapa cepatnya sebuah lompatan yang
dilakukan oleh masyarakat pedesaan yang
sudah "melek" politik dan terwakili tersebut. Betapa cepatnya program
tinggal landas yang tidak pernah take off tersebut alias masih dilandasan
dalam programnya ORBA (Suharto). Sebuah masyarakat pertanian Industri yang
dapat mempercepat pembentukan kota-kota baru didaerah-daerah dan penyedotan
lapangan kerja baru bagi pengaguran dan buruh di desa dan kota. Yang tidak
lagi kita memerlukan budaya transmigrasi penigalan Pemerintahan Belanda
dulu; perubahan desa menjadi kota menjadi terlaksana dengan cepat secara
alamiah; tidak perlu lagi membicarakan konsep pembagian keuntungan pusat dan
daerah
karena secara otomatis (hukum Ekonomi) kondisi ini akan teratur
dengan sendirinya lewat bantuan tangan-tangan wakil-wakil rakyat
yang ada di DPR daerah hingga kepusat. Sayang mimpi tinggal mimpi kesalahan
harusnya kita salahkan ke MPR bukan malah
mamanas-manasi situasi. Jika aku melihat sekarang MPR sudah
layaknya raja-raja dari cerita-cerita pewayangan dan feodalistik
ala jawa duduk baik-baik ketika ada masalah (membuat masalah)
baru teriak-teriak, watak intelektual macam Amien perlu dipertanyakan, malu
seharusnya ia membawa-bawa almamater UGM, jika UII dan kampus muhamadiyah
ok-lah, tetapi jika dia mengaku UGM malu saya?, menjual
intelktual/idialismenya  hanya
untuk melindunggi Habibie semata dan Mahasiswa yang dikuliahinya
ketika melakukan relly (yang banyak ditolak)  kekampus-kampus
mau saja mendengarkan obrolan menyakitkan tersebut, jika masih
ada orang bergerak atas nama Amien Rais saya bertanya hati dan
jiwa mahasiswa tersebut, jika saja jubir BEM bicara benar akan membersihkan
musuh reformasi (bukan hanya Gusdur) dan bukan keinginan money politik dan
jabatan seperti pendahulu mereka para elit kampus kuning, kasihan benar
mahasiswa kita didaerah. Dia yang meperjuangkan reformasi dia yang
"dikencingi" oleh mahasiswa kampus kuning di jakarta (pada buta apa ya).
Ha.. Ha,,

Sedikit kritik saya;
Banyak orang teriak-teriak tentang Federalisme dan Otonomi. Tetapi
mereka sendiri tidak pernah bicara tentang pers kita sendiri yang masih
terjebak dalam konsep sentralistik pemberitaan. Seakan-akan berita didaerah
baru bergema jika ada kerusuhan dan pembakaran. Apa pendidikan yang diasung
oleh media Nasional dan media daerah. Apa ada berita-berita Daerah dalam
kolom sebuah majalah Nasional ambilah sempel TEMPO dan KOMPAS (yang
mayoritas yang mengusung banyak memberikan berita tentang Federalisme)
tetapi ketika ditawarkan dalam praktek; kolom daerah dalam media tersebut
tidak lepas dari satu atau dua lembar majalah yang berjumlah 100 hal atau
koran yangberjumlah 12 hal tersebut; bagaimana daerah bisa berkembang jika
Koran nasional masih berbuat seperti itu yang katanya mengusung perubahan?
Siapa yang harus disalahkan terhadap "kemiskinana pemikiran daerah"?
Saya tidak akan terjebak saya tidak akan salahkan ORBA atau Suharto yang
juga sering dilontarkan media Massa tetapi saya akan katakan kesalahan pada
sistem dan kaum intelektual sendiri.

Sebuah kritik bagi menteri Otonomi daerah semoga kemunduran
beliau didasari oleh analisa saya diatas. Dan kritik buat Pers yang juga
tidak berbuat banyak untuk perubahan dinegara ini. Kemerdekaan Pers yang
didapatkan seakan tidak ada fokusnya lagi selain menghamba pada kepentingan
"pemberitaan dan modal" dan menyingkirkan pemikiran tentang konsep idialisme
pers yang diusung oleh pemuda-pemuda kita dulu dalam mendirikan Kantor
Berita ANTARA. Apa peran pers dalam otonomi daerah selain memanas-manasi
situasi yang rusuh (kebaikkan dari keburukan orde baru yang tidak pernah
memberitaklan konflik di daerah yang kebablasan). Sebuah sidiran tajam
kepada AJI sebagai salah satu
organisasi pers yang hidup setelah orba, saya tidak pernah
melihat peryataan organisasi terhadap negara. Apa AJI hanya bicara
perjuangan para anggotanya saja, itupun banyak kesejahtraan anggotanya yang
tidak diperjuangkan AJI apalagi memperjuangkan Idialisme Pers dan demokrasi.
Apa kontribusi AJI dalam kemelut politk saat ini? (binggung khan, sama, ha..
ha..).

MYP





...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke