Masukan untuk Bung Daniel,
Kalau kita mengacu kepada buku atau berita cetak bisa ramai
berdebat mengenai kata-kata dan makna. Ada unsur semantik dan
kognitif pada kedua sumber itu terutama yang berkaitan dengan
masalah politik. Sumber Informasi bisa sama namun keluarnya berita
bisa beda.
Saya menyarankan, kalau mungkin attachment video berita ketika
sumber berita itu melalui MULUT sumber informasi yang ngomong
disertakan sehingga perdebatan yang tidak perlu bisa dihindari.
Sayang, saya belum melihat ada flash back berita semacam ini untuk
menunjukkan konsistensi mulut seseorang. Padahal, pating pecotot
Bung! Makanya ruwet terus .....
----- Original Message -----
From: Daniel H.T <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 05, 2001 11:37 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Re: [perspektif] Fw.: Jubir Bukan
Penterjemah
----- Original Message -----
From: Asep BKC1016 Sulaksana <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, April 02, 2001 9:59 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Re: [perspektif] Fw.: Jubir Bukan
Penterjemah
> Asep
> itu tidak perlu ar kemukakan karena dia menganggap orang tau hal
itu, tak
> perlu dia menjelaskan seperti anda. Saya melihat anda dalam hal
ini belum
> menerima kenyataan yang terjadi. Idealnya betul seperti yang
anda tulis.
> tapi konstitusi kita tidak berbicara seperti itu, jadi mau tidak
mau, suka
> tidak suka,satu partai politik harus bisa merangkul partai lain
supaya
> dapat 50%+1. jadi bukan memutar balikan logika. tetapi logika
yang harus
> tau begitu aturannya.
Bagian mana dari konstitusi yg mengatur demikian? Sebutkan
pasalnya? (Kayak
soal ujian aja ya?):)
> asep
> masalahnya sebelum pemilu dilaksananakan dan hasilnya terlihat,
tidak
> mungkin seseorang termusuk ar apabila ditanya akan mengatakan
dia siap
jadi
> Ri1,Ri2,ketua mpr,dpr atau menteri namanya maruk dong,pasti
salah satunya.
> makanya dia selalu menjawab saya siap jadi Ri1 satu. suatu
pernyataan yang
> tidak sembunyi2.
> dan perlu diingat pada perkembangan suksesi pergantian pimpinan
nasional
ar
> salah satu tokohnya,dalam suatu kesempatan ia selalu ditanya
oleh audien
> apakah dia siap jadi Ri1, ia jawab siap. dan hal ini suatu yang
tabu pada
> kondisi saat itu untuk menjawab seperti itu. sedikit saya tulis
hal diatas
> sebetul masih banyak lagi hal lainnya, mengapa dia selalu
menjawab siap
> menjadi ri1.
> untuk lebih jelasnya anda perlu membaca buku2 yang berhubungan
dengan
> perkembangan suksesi saat itu.
Saya ingatkan Anda, yg AR katakan itu adalah: "Saya __hanya
bersedia
dicalonkan dan menjadi Presiden_, bukan yg lain. Kalau jabatan
lain,
Wapres/Ketua MPR/DPR u/ yg lain saja. Kalau tidak menjadi
presiden, saya
akan menjadi oposisi saja. Saya memilih di luar sistem
pemerintahan!"
>
> Anda tidak menjawab mengapa dia tidak bersedia??????? padahal
itu suatu
> kekuatan yang sudah memungkinkan ar menjadi Ri1, yang lainnya
masih
> persepsi anda.
Yg mencalonkan AR hanyalah dari kelompok Habibie cs, yg ya
kelompoknya
sendiri. Di luar itu tidak ada (setelah hasil pemilu). AR adalah
bagian dari
klik politik Habibie. Wajar, setelah Hbb gagal total, mereka
memilih lain
org dari mereka. Tidak lagi melihat hasil pemilu yg mencerminkan
suara
rakyat.
>
> mengenai perbedaan penafsiran Alqur'an dimana sebagian ulama
mengatakan
> boleh seorang wanita jadi pimpinan sebagian lain tidak boleh.
bila anda
> muslim marilah kita selalu berdoa untuk diberi petunjuk oleh
Allah swt
> jalan yang lurus. karena kita yakin alqur'an itu tidak mungkin
bertentang
> isinya, setelah itu baru anda menentukan sebetulnya boleh tidak
wanita
jadi
> pimpinan menurut anda, tidak menurut m.sobari, ar,gd. Ar sendiri
barada
> dalam orang yang memperbolehkan.kalau yang anda maksudkan ulama
atau orang
> yang mengatakan saat itu tidak boleh, kemudian sekarang
mendukung dengan
> alasan darurat karena balik lagi konstitusi kita bicara
demikian. kalau
> mereka paksakan apabila gd turun bukan mw yang naik apa yang
terjadi????
> ini lho yang dimaksud mereka darurat.
Yg saya katakan bukan soal perbedaan tafsir.Ada perbedaan tafsir
dari satu
org dng org yg lain mmg wajar. Yg tidak wajar adalah tafsir satu
org yg sama
kok bisa berubah-ubah, sesuai kondisi politik? Hamzah Haz dng PPP
dng tegas
mengatakan berdasarkan Al Qur-an hanya laki2-lah yg boleh menjadi
pimpinan
negara. Siapa bilang MUI tempo hari tdk mengharamkan wanita
menjadi
presiden? Kalau ada waktu saya akan menyalin sebuah artikel lama
dari
majalah D&R yg berisi pernyataan MUI ttg presiden wanita (haram).
Sekarang
kok jadi boleh?
> >Daniel:
> > AR mengecam politik dagang sapi. Pdhal dia sendiri mengatakan
bahwa GD
> > tidak
> > ingat jasa2 Poros Tengah yg mengangkatnya menjadi Presiden.
Seharusnya
GD
> > mengakomidir kehendak PT (dng mengangkat menteri2 dari PT).
Begitu juga,
> > ketika dia mengatakan Mega dijamin tidak diganggu kalau jadi
presiden,
> > asalkan mengakomodir 'jasa2' mereka yg telah mendukungnya. Apa
bedanya
> dng
> > apa yg disebut politik dagang sapi?
>
Telat meng-reply, karena banyak kesibukan. :)
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--