kalau kalimat tersebut muncul pada kalimat biasa tanpa 'highlight',
juga tak menjadi judul atau bahkan jadi iklan..
saya menganggap bahwa pemuatan itu lebih merupakan efek atau kembang bahasa yang
muncul saat penulisan atawa pengeditan..
dan mungkin saja terjadi efek 'penyangatan' yang akhirnya membuta,
disadari atawa tidak disadari
kita pun musti maklum,
bahwa pandangan politik media,
bisa berbeda dengan pandangan politik si empunya,
juga si pemred, dan wartawan atawa penulisnya..
dan detil tulisan,
yang kalau dibahas bersama akan disetip,
sering lolos secara tiba-tiba....
dalam hal berita bombastis,
jelas tempo sekarang bukan lagi pilihan utama,
banyak media lain yang menjadi saingannya.
maka kita pun musti maklum,
bahwa musti ada satu dua yang dibombaskan..
yang mungkin hanya berefek negatif pada beberapa orang....
yang penting kan oplah...
sambil nyanyi ndrengengeg..
seperti butet waktu di tuk sekian waktu lalu:
oplah.. oplah...oplah......
oplah.. oplah. oplah..
sekali lagi oplah....
idelaisme dan kebenaran ?
bisa dirundingkan.....
:-p
yang dari tempo bisa menjawablah...
demikiankah ?
mBin
------
From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
Tempo sekarang rupanya senang juga membuat analisis Bombastis. Nggak
sekalian merger saja dengan Rakyat Merdeka atau Harian Terbit?
From: GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
>
> --- "Daniel H.T" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > di majalah Tempo, 29 April 2001, halaman 29, a.l.
> > Tempo menulis: "Yang
> > ditakutkan, kedatangan pendukung Presiden di Jakarta
> > akan 'disambut'
> > sejumlah kelompok yang ancang2 menghadapi mereka.
> > Selain mahasiswa YANG
> > SEBAGIAN BESAR ANTI-ABDURRAHMAN, ...."
> >
> > Pertanyaan saya kepada Tempo adalah darimana dan
> > bagaimana Tempo bisa
> > mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar mahasiswa
> > (khususnya di Jakarta
> > dan sekitarnya?) adalah mereka yg anti-Abdurrahman?
> > Kalau bisa Tempo lebih
> > spesifik, "sebagian besar" itu sekitar berapa
> > persen?
> >
> >
>
> Untuk yang mau 'nyambut', harap ati-ati. Ada latar
> belakang keyakinan yang pasti berbeda, yang mendasari
> sikap masing-masing, untuk anti atau pro.
>
> Untuk yang anti, landasan mereka sekedar politis, yang
> banyak trik dan bungkus-bungkus. Jelas ini tak cukup
> untuk membuat mereka benar-benar self-confident. Beda
> dengan yang pro, lebih-lebih pasukan FPK, yang antara
> lain juga didasari oleh niat bulatnya, bahkan rela
> mati segala. Ini akan menimbulkan dorongan motivasi
> dan emosional yang sangat kuat. Dengan melihat ini,
> maka angka-angka menjadi absurd. Lebih-lebih jika para
> 'penyambut' memang berniatkan untuk adu keras.
>
> Persentase sudah tak relevan ditanyakan. Yang penting,
> berapa banyak. Itu saja. Sebab, di luar FPK dengan
> pasukan berani matinya, masih ada jutaan silent
> majority yang sudah bosan dengan mulut-mulut politisi
> yang harus dibungkam.
>
> =====
> Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--