From: "Fami Fachrudin" <[EMAIL PROTECTED]>
nanggapin
From: GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
dalam
Subject: [indonesia_damai] Re: [Kuli Tinta] Sebagian Besar Mahasiswa Anti
Gus Dur?
GN: (durung sugih)
> Untuk yang anti, landasan mereka sekedar politis, yang
> banyak trik dan bungkus-bungkus. Jelas ini tak cukup
> untuk membuat mereka benar-benar self-confident. Beda
> dengan yang pro, lebih-lebih pasukan FPK, yang antara
> lain juga didasari oleh niat bulatnya, bahkan rela
> mati segala. Ini akan menimbulkan dorongan motivasi
> dan emosional yang sangat kuat. Dengan melihat ini,
> maka angka-angka menjadi absurd. Lebih-lebih jika para
> 'penyambut' memang berniatkan untuk adu keras.
>
===> FF (wis sugih):
Jangan dikira lho yang anti itu semua politis. Ada juga yang ideologis dan
siap mati.
Jangan pula dikira yang pro itu semua rela mati. Ada juga yang sekedar untuk
mempertahankan periuk.
<===
KDP (isih uwong durung sugih pisan):
Wah, kalau bicara ke ada dan tidaknya pendukung yang
sekedar periuk atau sebaliknya peng-kontra yang ideologis,
ya ndak selesai debatnya Mas. Biarlah sekarang terus-
terang pada thread ini aku bantu Cak Gigih deh...:-)) biasanya
cumak gojegan dan cekakakan thok kok...
Anggap saja sekarang ini FPK yang punya PBM itu
pendukung GD dengan segala alasan. Baik itu idiologis,
taklid picek ataupun sekedar jaga periuk. Kalau
ditambah dengan pro-GD di parlemen paling-paling
ketambahan PKB (11%) dan (mungkin) PDKB. Jadi,
keseluruh sisanya di parlemen adalah kontra GD. Kontra
GD kalau dikasarkan akan menjadi 89% DPR. Kalau
itu mencerminkan pemilih yang demokratis, brarti
ada 89 juta rakyat yang kontra GD, dan hanya sekitaran
11 juta lainnya pro GD. Secara itung-itungan aljabar,
jelas GD keok. Nah apakah ini mencerminkan suatu
kontra ideologis yang valid? Atau sekedar politis,
seperti sinyalir Cak Gigih?
OK, aku mau kasih itungan itungan "denggleng" dengan
melihat (tak usah banyak-banyak lah...) cukup dari
4 tokoh nasional (ada yang protes biarin, faktual,
memang 4 tokoh ini yang dibicarakan) GD, AT, AR
dan MW. Dari keempatnya 3 adalah ketum DPP
partai politik. Ketiganya terlihat jelas memanfaatkan
kedudukannya sebagai ketum partai untuk kepentingan
partai. AR ber-rakernas di Sanur, kelihatan memanfaatkan
kedudukannya sebagai ketua MPR, yang jelas tertandai
dengan adanya tandang lintas 7 fraksi Di Bali....
AT juga bebas menggalang massa di luar kepentingan
kampanye, dengan berseragam partai, sementara itu
beliau adalah ketua DPR. MW tak ketinggalan, meskipun
hadir rapat partai nyetir VW new-beetle item, tetap saja
pengawalannya adalah ala WAPRES. Bahkan sebagai
Wapres yang perempuan, memperingati hari Kartini
saja, mengapa harus di depan khalayak PDI-P belaka?
Gimana mau tidak disebut politis belaka? Memang sih
MW paling buingung setengah Dherrr. Anak buah macam
PA, AP, HA dll, selalu bicara atas nama MW tentang
sikap FPDI-P, sementara kenyataan MW adalah anggota
kabinet GD... lho lak Buingung temen Yu Mega itu?
Atau tetap bertahan dengan pertentangan ideologis?
Lhah, lha wong fatwa saja bisa dituker-tuker tempatnya
kok berideologis....? Yang lain semisal YIM pun ketua
partai (PBB), HM ketua partai (PBB yang lain),
HN pun ketua partai (PK). Tinggal MA (PKB) saja kan
kelimpungan nangkring di MPR... :-(P
Tentang silent majority? Aku kok berpendapat banyak
yang silent juga yang memang sudah nggak peduli.
Atau yang silent-silent but warmonger? Termasuk itu lho
yang bikin dollar nanjak mulu, adu-adu antara Ginanjar
dengan Kejagung... dll. Yang jelas kata pak Ustadz al-
Mudurini ku, kalau yang seagama dengan GD, kaum
abangannya masih lebih sreg dengan GD dibanding
yang lain... ;-((
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
sombong gak sombong, sugih durung karuan.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--