Mas kalo aku sih sederhana aja.
Udah ngak percaya yang namanya propesorke,pakarke,
ahlike, pengamatke, gurubesar/kecilke dst dstdsdt.
Aku liat dari hartakarunnya aja Ki, kalo isinya udah
miliaran wah ngak percaya deh apa yang dia ngomongin.
Mendingan ntarliat kalo KPKPN uadh umumin itu hartanya
Suwoto, Bagir dan Harun.baru dah kita tau.
Kayanya sih yang namanya Harun sih beneran dikit
kaliyah.
Cuman Aki musti nagjarin tahan emosi...
Salam
--- Ki Denggleng Pagelaran <[EMAIL PROTECTED]>
wrote: > [Berhubung kontak Gineng-Pameling, Pagelaran
-
> Banyumanik
> gagal dilakukan, terpaksa pertanyaanku untuk Kang
> Sondong
> Mandali tidak atau belum mendapatkan klarifikasi. Ah
> mungkin
> sekarang Kang Sondong sedang nglaras VCD atau MP3.
> Besok mungkin dapat tak kontak.]
>
> Tertawa-tawa aku menonton Debat Minggu Ini di SCTV.
> Betapa
> tiga guru besar hukum ketata-negaraan mampu
> memberikan
> gambaran, mengapa Hukum tidak pernah 'rigid' di
> negeri yang
> menyatakan dirinya sebagai Negara Hukum. Hukum
> menjadi
> 'wot ogal-agil' yang dijaga 2 Raksasa (Bala Upata
> dan Cingkara
> Bala). Padahal itu berupa pijakan batu yang selalu
> 'ogal-agil'
> tidak mantap dan tidak stabil, sebagai titian menuju
> alam
> pasca-kehidupan (di dunia wayang lho... bukan
> akhirat).
> Seharusnya Hukum kan menjadi 'Lawang Seketeng' atau
> 'Sela Metangkep' yang mampu membedakan yang benar
> dan batil. Al-Huda lah, istilah religiusnya.
>
> Betapa pendapat dan pikiran Harun yang tegas tanpa
> kompromi dan miyar-miyur, selalu dikonter (be
> countered?)
> oleh Suwoto dan Bagir dengan pemlintiran dan
> pencarian
> celah-celah bahasa hukum. Menarik pendapat Suwoto,
> yang memisahkan antara keputusan politik dengan
> keputusan
> hukum. Sehingga mengesankan negara ini bersifat
> dualistik.
> Sebagai negara berdasarkan hukum dan negara
> berdasarkan
> politik. Ahaaa, rupanya politik sedang naik pangkat,
> mengalah-
> kan hukum. Ah, sayang Manase Malo tidak dilibatkan.
> Di Paripurna DPR kemarin, tegas sekali Manase Malo
> menegaskan bahwa 'tidak ada negara yang berdasarkan
> kekuasaan politik belaka, yang ada politik harus
> juga
> berdasarkan hukum.'
>
> Menarik pula pendapat Suwoto yang menjelaskan bahwa
> Harun berpikir atas dasar konstitusi dalam arti
> sempit.
> Bagir juga menjelaskan bahwa konstitusi mencakup
> seluruh
> sistem hukum... lho? Payah pula aku cari-cari apa
> makna
> konstitusi yang sekarang naik daun dengan
> konstitusional
> ini. Terbentur-bentur hanya pada suatu formula dasar
> bagaimana suatu negara diselenggarakan dengan contoh
> 'look: The Constitution of The United State' Tak
> lain hanyalah
> Undang Udang Dasar. Pun begitu sejak SMP aku selalu
> dicekoki dengan landasan konstitusional UUD-45....
> negitu selalu mengikuti landasan Idiologi Pancasila
> dan
> landasan landasan lain tidak tersintuh.
>
> Wah payah juga, ketika Suwoto menjabarkan tentang
> istilah berhalangan tetap dan berhalangan sementara
> untuk presiden yang menggunakan suatu Tap MPR tahun
> 1973. Ada tiga macam berhalangan tetap, dan
> berhalangan
> sementaranya cukup dirumuskan berhalangan di luar
> ke-3 macam berhalangan tetap itu. Goblig temen....
> lha terus apa bentuknya. Aha, mungkin ketika sedang
> sidang Presiden kebelet pipis sehingga pamit ke
> toilet
> ini termasuk berhalangan sementara?
>
> Terakhir istilah GBHN. Di UUD 45 yang rumusannya
> garis-garis besar DARIPADA haluan negara dijadikan
> pembeda dengan GBHN yang tanpa DARIPADA sehingga
> GD tetap melanggar GBHN tanpa DARIPADA itu.
> Oh, mungkinkah seorang guru-besar tidak pernah
> mengikuti perkembangan ejaan bahasa indonesia?
> Sehingga kata-kata bahasa indonesia 'daripada'
> yang dulu sangat lajim muncul dalam rumusan-2
> hukum kemudian menjadi semacam 'krama-inggil'
> di jaman HMS seharusnya tidak perlu ada dalam
> aturan EJAAN BAHASA INDONESIA?
>
> Maka hanya ada pendapat akhir dari ku, bahwa
> para pemikir hukum-pun tidak perlu punya prinsip
> teguh. Boleh 'miyar-miyur' sesuai tiupan angin
> buritan. 32 halaman GBHN produk SUMPR 1999,
> sudah dilanggar oleh presiden, tanpa harus
> menjelaskan
> bagian yang mana. Pokoke Haluan sudah dilanggar
> titik!.
>
> Aku khawatir haluan itu sedang menuju batu karang
> yang akan mengkandaskan bahtera NKRI...
>
> Ki Denggleng Pagelaran
> --------------------------
> apa bedane uwong ambek
> manungsa?
>
>
>
> ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
> Berkeadilan............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda
> lakukan sendiri
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
> http://www.indokado.com<--
>
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--