Ternyata, sikap memberangus kebebasan berekspresi yg diekspresikan oleh
sekelompok orang yg tergabung dlm Aliansi Anti Komunis (AAK), termasuk
sebagian mahasiswa yg katanya calon intelektual, dng membakar buku-buku yg
menulis ttg teori2 sosialis, marxisme, dan komunisme secara tak langsung
didukung pula oleh penerbit buku dan toko buku tertentu. Yg seharusnya
mereka justru turut melawan bentuk2 ekspresi yg jauh dari perilaku
intelektual tsb.
Sepengetahuan saya Grup Gramedia-Kompas adalah kelompok yg paling terkenal
sering memposisikan diri dng "politik mencari aman sendiri." Bilamana perlu,
atau tidak mau ambil pusaing, kalau "politik mencari aman"-nya itu
merugikan, atau mengorbankan orang lain, atau publik. Yang penting selamat.
Demikianlah dalam kasus intimidasi dari sekelompok orang, yg katanya akan
melakukan sweeping terhadap buku2 yg "berbau kiri" di toko2 buku tgl 20 Mei
nanti. Grup Gramedia-Kompas kembali mengambil posisi dng "politik mencari
aman sendiri" itu, yakni dng pagi2 sudah menarik semua buku2 yg "berbau
kiri" itu dari seluruh toko buku Gramedia yg dimilikinya. Demikian pula
penerbit Gramedia yg ikut menerbitkan buku2 tadi meminta (menarik) kembali
semua buku2-nya itu dari seluruh toko buku (Kompas, 05/05/01). Tidak mau
tau kalau kebijaksanaannya itu sama artinya ikut mendukung aksi para
pembunuh kebebasan berekspresi dan pembunuh perilaku intelektualitas
manusia2 Indonesia.
Dengan kebijaksanaan seperti ini (selalu kompromis dng perilaku2 picik),
grup Gramedia-Kompas, khususnya dlm kasus ini penerbit Gramedia (KPG) dan
Toko Buku Gramedia turut mengecewakan mereka yg mengdepankan kebebasan
berekspresi tsb. Sangat ironis, mereka yg sebenarnya menjadi salah satu
penopang utama, dan alat utama melahirkan buku2 (penerbit dan toko buku) yg
merupakan prasarana kebebasan berekspresi dan mendidik masyarakat itu justru
mengambil posisi seperti ini.
Kalau alasannya takut dng tindakan destruktif, apakah tidak bisa dng
mengandalkan pihak kepolisian? Apakah kekuatan aliansi tsb sedemikian kuat
dan luar biasanya sampai grup Gramedia-Kompas pagi2 sudah sedemikian
ketakutan? Dan, tidak mempercayai lagi kemampuan kepolisian?
Percuma, semua perjuangan org2 yg menentang kebijakan pihak pemerintah (c.q.
Kejaksaan Agung) yg selama pemerintahan rezim Orde Baru selalu melarang
penerbitan buku2 seperti itu. Kalau sekarang malah ada sekelompok orang yg
berpikir picik seperti kelompok AAK. Apalagi kemudian ditambah lagi dng
sikap mencari aman dari grup Gramedia-Kompas ini. Tidak berlebihan, kalau
dikatakan bahwa AAK yg "didukung" grup Gramedia-Kompas telah mengambilalih
peran Kejaksaan Agung di masa rezim Orde Baru itu u/memberangus buku2 yg
"berbau kiri" itu.
Ketika pasar buku2 tsb prospektif (terbukti selalu laku keras), grup
Gramedia ikut2-an menerbitkan buku2 tadi. Tetapi, begitu ada reaksi dari
kelompok yg bernama AAK itu, tanpa berpikir panjang, tanpa komando mereka
langsung menarik buku2-nya itu.
Bagaimana komentar Anda?
==============
Sabtu, 5 Mei 2001
Dipertanyakan, Dasar Hukum "Sweeping" Buku Berbau Kiri
Jakarta, Kompas
......... <dihapus>
Situasi berbeda tampak pada sejumlah Toko Buku Gramedia. Di Toko Buku
Gramedia Melawai (juga di kawasan belanja Blok M, Jakarta Selatan),
misalnya, saat ini sudah tidak lagi dipajang buku-buku yang dianggap "berbau
kiri" tersebut, termasuk sejumlah buku karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer
yang pelarangannya sudah dinyatakan dicabut oleh pihak Kejaksaan Agung.
Bahkan buku Pramoedya yang cukup laris berjudul Perempuan Remaja dalam
Cengkeraman Militer terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), sejak
beberapa hari terakhir juga "hilang" dari peredaran. Menurut seorang
karyawan bagian informasi di toko buku tersebut, buku-buku tersebut telah
ditarik oleh penerbitnya.
Dari KPG yang menerbitkan sejumlah buku yang dituding berbau paham komunis
itu diperoleh keterangan, penerbit memang tidak lagi mengirimkan
buku-bukunya ke Toko Buku Gramedia. Adapun penarikan sebagian produksi KPG
itu sesuai permintaan pihak toko buku sekitar dua minggu lalu. Produk buku
KPG yang termasuk laris, namun kini terpaksa ditarik peredaran dari toko
buku tertentu, itu di antaranya Palu Arit karya Hermawan Sulistyo serta
Perempuan Remaja dalam Cengkeraman Militer dan Kronik Revolusi 1945, 1946,
1947 karya Pramoedya Ananta Toer.
"Buku Palu Arit sudah masuk cetakan kedua, sedangkan penjualan novel
Pramoedya juga amat cepat," jelas Christina, Manajer Bisnis KPG. Perlu
diketahui, buku Kronik Revolusi (jilid pertama) dan Palu Arit adalah buku
yang penerbitannya didanai Adi Karya Ikapi tahun 1999.
..... <dihapus>
Salam Sejahtera
DANIEL HT
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--