Artinya, analogi spiral pertumbuhan, bangsa ini setiap mau
berkembang selalu putus ditengah jalan dan selalu harus memulainya
lagi dari bawah.
Generasi muda yang lahir dalam suasana penjajahan sudah mencoba
untuk mencari jalan keluar dan bahkan muncul dengan ide2 yang
melampaui jamannya, Sebagai misal ide persatuan dan kesatuan yang
muncul dalam soempah pemoeda sebagai solusi terhadap berbagai
keragaman yang mereka pahami saat itu. Disini kita juga bisa
melihat bagaimana eratnya hubungan komunikasi antara mereka
generasi moeda yang belajar di LN (Belanda) dan mereka yang
berjuang di tanah air.
Nah, di jaman Soekarno pembangunan karakter kebangsaan ini terjadi
untuk mewujudkan haluan negara Bhinneka Tunggal Ika. Pada jaman
ini, kerusuhan yang berbau SARA hanya terjadi sekali (Bandung)
diakhir pemerintahan Soekarno. Namun, pada jaman pemerintahan
Soeharto pengkotakan dilakukan dan pemerintah melalui militer
berperan sebagai penjaga kotak-kotak itu. Model ini malah
melahirkan ratusan kerusuhan SARA dimana-mana yang semakin
meningkat bahkan menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto.
Para generasi moeda dijaman penjajahan sudah berpikir mengenai
masa depan (cecunguk dan behgundal juga ada sih pada saat itu
namun tidak membudaya dan dominan sepertti sekarang). Kalau kita
membaca kisah pertentangan ide antara Soekarno, Tan Malaka,
Semaun, dan Musa semasa moeda mereka entah itu di tempat kost atau
di organisasi, sungguh sangat membanggakan kalau kita melihatnya
dengan kaca mata saat ini. Dan, sekaligus kita melihat bahwa
generasi muda kita
mengalami kemunduran yang luar biasa.
Pembangunan semangat kebangsaan melalui P4 jelas merupakan tesis
yang gagal dari pemerintahan Soeharto karena justru dari sanalah
sebenarnya disamping kita melihat semakin banyakanya kerusuhan
SARA juga sekarang kita melihat bagaimana generasi muda kurang
tertarik berpikir mengenai masa depan bangsa dan lebih suka
hal-hal yang pragmatis dan serba enak dan menyenangkan tanpa mau
berkorban.
Kalau kita kembali ke jaman anak moeda Soekarno dkk maka kita
bisa melihat bagaimana pemuda Sekarno berani mempertahankan idenya
didepan pengadilan Belanda di Bandung melalui Indonesia
Menggoegat. Bila ini direntang ke masa pemerintahan Soeharto maka
anak-anak muda model Soekarno ini jelas harus dijenazahkan. Lihat
sebagai misal para aktivis itu. Budiman S dkk seharusnya sudah
menjenazah. Namun, di sisi yang lain mereka yang dekat dengan
kekuasaan dan mendukung pemerintah (lihat kekayaan pengurus
Golkar, PPP, PDI dari pusat hingga ke daerah) akan memperoleh
kemuliaan hidup yaitu Kekuasaan, Kekayaan, dan Kehormatan.
Disinilah sebenarnya asal muasal jiwa dan semangat cecunguk dan
begundal itu muncul dan sekaligus lunturnya atau lebih tepatnya
hancurnya bibit-bibit generasi muda yang mempunyai potensi untuk
memikirkan bangsa dan negaranya. Yang tidak tahan ya lebih baik
berkarya di luar, misal Iwan Jaya Azis, Arief Budiman, dll (yang
saya yakin umlahnya cukup banyak) Bangsa ini jelas memiliki lebih
banyak doktor dan profesor di berbagai bidang termasuk bidang
politik di banding Malaysia, Singapore, Thailand dan saya yakin
bahwa mereka lebih pandai, namun apa yang terjadi dengan bangsa
ini? Mari kita melihat apakah para lawyer kita yang kaya-kaya itu
mampu dan berani berhadapan dalam sebuah pengadilan asing untuk
membela client mereka yang bersengketa di negara lain kalau itu
dibandingkan dengan Soekarno dimana dulu pernah menghadapi
sendiri?
Kini, ketika era pemerintahan soeharto yang telah terbukti
memasung idealisme dengan isme pembangunan, ke-pusat-an dan
ke-sama-annya (Rm Mangun menyebutnya sebagai praktek pemerintahan
komunis) dan bukan Persatuan dan Kesatuan didalam keragaman,
termasuk ide "tumpes kelor" atau babat habis tanpa sisa terhadap
setiap ide yang bertentangan atau mengganggu ismenya, telah
berhasil dihancurkan justru muncul kembali semangat tumpes kelor
tersebut. Padahal, sumber pengetahuan itulah yang dulu dibaca oleh
para generasi moeda yang kemudian melahirkan tesis mengenai negara
dengan dasar Pancasila dan berhaluan negara Bhinneka Tungal Ika.
Mestinya, generasi muda saat ini lebih mampu melanjutkan spiral
pertumbuhan itu untuk melihat Indonesia masa yad karena
sumber-sumber mereka seperti informasi dan teknologi jauh
melampaui generasi 28 atau Soekarno dkk. Di sisi yang lain, ketika
semakin banyak tempat beribadah dibangun justru semakin banyak
pula kasus-kasus yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama
(apapun) semakin banyak terkuak. Ujung-ujungnya ternyata memang
kemuliaan hidup atau kalau menurut bahasanya mBah Soel adalah
BARANG KADONYAN. Nah tampaknya sila pertama dasar negara perlu
diubah menjadi "Kekayaan, Kekuasaan, dan Kehormatan yang maha
kuasa".
Bagaimana kabar Jacob Utama Bung? he... he.... Arwah Kasimo
mungkin tidak tenteram meliat perkembangan yang terjadi...
��
----- Original Message -----
From: Daniel H.T <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, May 05, 2001 5:34 PM
Subject: [Kuli Tinta] Gramedia "Mendukung" Pemberangusan Kebebasan
Berekspresi
Ternyata, sikap memberangus kebebasan berekspresi yg diekspresikan
oleh
sekelompok orang yg tergabung dlm Aliansi Anti Komunis (AAK),
termasuk
sebagian mahasiswa yg katanya calon intelektual, dng membakar
buku-buku yg
menulis ttg teori2 sosialis, marxisme, dan komunisme secara tak
langsung
didukung pula oleh penerbit buku dan toko buku tertentu. Yg
seharusnya
mereka justru turut melawan bentuk2 ekspresi yg jauh dari perilaku
intelektual tsb.
Sepengetahuan saya Grup Gramedia-Kompas adalah kelompok yg paling
terkenal
sering memposisikan diri dng "politik mencari aman sendiri."
Bilamana perlu,
atau tidak mau ambil pusaing, kalau "politik mencari aman"-nya itu
merugikan, atau mengorbankan orang lain, atau publik. Yang penting
selamat.
Demikianlah dalam kasus intimidasi dari sekelompok orang, yg
katanya akan
melakukan sweeping terhadap buku2 yg "berbau kiri" di toko2 buku
tgl 20 Mei
nanti. Grup Gramedia-Kompas kembali mengambil posisi dng "politik
mencari
aman sendiri" itu, yakni dng pagi2 sudah menarik semua buku2 yg
"berbau
kiri" itu dari seluruh toko buku Gramedia yg dimilikinya. Demikian
pula
penerbit Gramedia yg ikut menerbitkan buku2 tadi meminta (menarik)
kembali
semua buku2-nya itu dari seluruh toko buku (Kompas, 05/05/01).
Tidak mau
tau kalau kebijaksanaannya itu sama artinya ikut mendukung aksi
para
pembunuh kebebasan berekspresi dan pembunuh perilaku
intelektualitas
manusia2 Indonesia.
Dengan kebijaksanaan seperti ini (selalu kompromis dng perilaku2
picik),
grup Gramedia-Kompas, khususnya dlm kasus ini penerbit Gramedia
(KPG) dan
Toko Buku Gramedia turut mengecewakan mereka yg mengdepankan
kebebasan
berekspresi tsb. Sangat ironis, mereka yg sebenarnya menjadi salah
satu
penopang utama, dan alat utama melahirkan buku2 (penerbit dan toko
buku) yg
merupakan prasarana kebebasan berekspresi dan mendidik masyarakat
itu justru
mengambil posisi seperti ini.
Kalau alasannya takut dng tindakan destruktif, apakah tidak bisa
dng
mengandalkan pihak kepolisian? Apakah kekuatan aliansi tsb
sedemikian kuat
dan luar biasanya sampai grup Gramedia-Kompas pagi2 sudah
sedemikian
ketakutan? Dan, tidak mempercayai lagi kemampuan kepolisian?
Percuma, semua perjuangan org2 yg menentang kebijakan pihak
pemerintah (c.q.
Kejaksaan Agung) yg selama pemerintahan rezim Orde Baru selalu
melarang
penerbitan buku2 seperti itu. Kalau sekarang malah ada sekelompok
orang yg
berpikir picik seperti kelompok AAK. Apalagi kemudian ditambah
lagi dng
sikap mencari aman dari grup Gramedia-Kompas ini. Tidak
berlebihan, kalau
dikatakan bahwa AAK yg "didukung" grup Gramedia-Kompas telah
mengambilalih
peran Kejaksaan Agung di masa rezim Orde Baru itu u/memberangus
buku2 yg
"berbau kiri" itu.
Ketika pasar buku2 tsb prospektif (terbukti selalu laku keras),
grup
Gramedia ikut2-an menerbitkan buku2 tadi. Tetapi, begitu ada
reaksi dari
kelompok yg bernama AAK itu, tanpa berpikir panjang, tanpa komando
mereka
langsung menarik buku2-nya itu.
Bagaimana komentar Anda?
==============
Sabtu, 5 Mei 2001
Dipertanyakan, Dasar Hukum "Sweeping" Buku Berbau Kiri
Jakarta, Kompas
......... <dihapus>
Situasi berbeda tampak pada sejumlah Toko Buku Gramedia. Di Toko
Buku
Gramedia Melawai (juga di kawasan belanja Blok M, Jakarta
Selatan),
misalnya, saat ini sudah tidak lagi dipajang buku-buku yang
dianggap "berbau
kiri" tersebut, termasuk sejumlah buku karya sastrawan Pramoedya
Ananta Toer
yang pelarangannya sudah dinyatakan dicabut oleh pihak Kejaksaan
Agung.
Bahkan buku Pramoedya yang cukup laris berjudul Perempuan Remaja
dalam
Cengkeraman Militer terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG),
sejak
beberapa hari terakhir juga "hilang" dari peredaran. Menurut
seorang
karyawan bagian informasi di toko buku tersebut, buku-buku
tersebut telah
ditarik oleh penerbitnya.
Dari KPG yang menerbitkan sejumlah buku yang dituding berbau paham
komunis
itu diperoleh keterangan, penerbit memang tidak lagi mengirimkan
buku-bukunya ke Toko Buku Gramedia. Adapun penarikan sebagian
produksi KPG
itu sesuai permintaan pihak toko buku sekitar dua minggu lalu.
Produk buku
KPG yang termasuk laris, namun kini terpaksa ditarik peredaran
dari toko
buku tertentu, itu di antaranya Palu Arit karya Hermawan Sulistyo
serta
Perempuan Remaja dalam Cengkeraman Militer dan Kronik Revolusi
1945, 1946,
1947 karya Pramoedya Ananta Toer.
"Buku Palu Arit sudah masuk cetakan kedua, sedangkan penjualan
novel
Pramoedya juga amat cepat," jelas Christina, Manajer Bisnis KPG.
Perlu
diketahui, buku Kronik Revolusi (jilid pertama) dan Palu Arit
adalah buku
yang penerbitannya didanai Adi Karya Ikapi tahun 1999.
..... <dihapus>
Salam Sejahtera
DANIEL HT
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--