Alasan inilah yg sdh diduga. Demi kepentingan bisnis!
Demi kepentingan bisnis, apapun dikorbankan. Demi kepentingan bisnis,
persetan dng idealisme mengembangkan perilaku intelektualisme masyarakat.
Maka, tidak heran demi kepentingan bisnis pelbagai macam praktek kolusi dan
korupsi merebak pd penerbitan dan perderan buku2 pelajaran sekolah (seperti
yg bisa dibaca dlm salah satu rubrik investigasi majalah Tempo).

Anda boleh saja berbisnis. Tetapi, di dalam suatu bisnis penerbitan buku --
dlm kasus ini, terutama buku2 non fiksi -- Anda harus mempunyai sedikit
idealisme dan kesadaran bahwa bisnis yg Anda lakukan tidak semata-mata
dagang an sich. Di dlm-nya terkandung unsur dan tujuan yg mulia, yakni
mencerdaskan kehidupan berbangsa. Agar rakyat terbuka cakrawalanya, tidak
mudah dibodohi o/ penguasa yg lalim, maupun pihak2 luar lainnya.

Pers Indonesia dikatakan telah kehilangan idealismenya dlm peran memberi
informasi yg layak dalam kerangka mengcerdaskan kehidupan masyarakat tsb.
Sehingga dari sini lahirlah berita2 yg sepenuhnya sensasional, yg sepenuhnya
berbau kekerasan, provokatif, penuh dng isu2 murahan, dsb-nya, semuanya
hanya untuk koran, tabloid, dan majalahnya, atau televisinya paling banyak
ditonton orang. Maka, seperti yg pernah ditulis o/ Sdr. Indra bahwa dia
merasa heran banyak sekali feature  berita dari masyarakat kita sangat
jarang ditulis dan diliput media massa. Ironisnya, orang asinglah (baca:
media asing) yg lebih banyak membuat feature2 demikian dng sangat apik dan
menyentuh perasaan. Sementara pd media massa kita, yang ada hanya berita2
pembunuhan, bentrokan, pencurian, penculikan, teror, pertikaian
antarpolitisi, dan berita2 kekerasan lainnya. Maka, tak heran perilaku
masyarakat kita sehari-hari pun tak jauh dari hal-hal yg jauh dari peradaban
itu. Itu semua karena dunia pers kita hanya dipandang dari segi bisnis
semata. Rakyat pun terkorbankan dng kehidupan kemasyarakatan yg banyak yg
masih jauh dari harapan.

Dlm kaitannya dng itu, kebijakan pihak penerbit dan toko buku Gramedia layak
sirespon dng pandangan negatif sebagaimana saya singgung dlm tulisan
terdahulu. Bagaimana maksud dan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa itu
bisa diwujudkan kalau begitu ada ancaman terhadapnya kita semua lantas
bersikap kompromis? Bagaimana Anda bisa mengatakan biarlah sampai AAK masuk
kandang, barulah buku2 itu dikeluarkan lagi, kalau Anda selalu kompromis dan
ketakutan dng mereka? Membiarkan mereka "menang" dan seolah-olah menjadi
polisi, sekaligus jaksa dan hakim dlm menentukan suatu buku boleh
diterbitkan dan dijual kepada masyarakat luas?

Gerakan picik seperti itu harus dilawan. Dlm bentuk seperti solidaritas para
penerbit dan toko buku plus para penulis, masyarakat pencinta buku
khususnya, dan masyarakat luas pd umumnya.

Seperti yg saya tanyakan pd tulisan tsb, apakah sedemikian signifikannya
kekuatan AAK itu sampai bisa membuat kita semua ketakutan dan langsung
bersembunyi? Gerakan picik ini mirip dng apa yg sdh beberapakali dilakukan
o/ pihak2 tertentu dlm bersikap terhdp pemberitaan suatu media massa. Berita
suatu media massa yg tidak berkenan dihatinya dilawan dng cara2 anarkisme,
seperti membawa sekian banyak massa u/ menduduki kantor media tsb. Contohnya
dng apa yg pernah terjadi pd Jawa Pos vs Banser NU sampai koran tsb tidak
bisa terbit sampai dua hari berturut-turut.

Anda boleh 'masa bodoh" dng "bersanta-santai sajalah" karena Anda
mempersetankan tujuan mulia di balik bisnis penerbitan dan toko buku.
Seperti yg mungkin diterapkan oleh Gramedia.

Saya masih ingat satu lagi contoh dari Gramedia dan mungkin juga penerbit2
tertentu lainnya, yg ketika mempredeksi sebuah buku akan laku keras, mereka
menerbitkan mengedar beberapa judul buku fiksi tertentu yg terdiri dari
beberapa jilid. Jilid pertama dicetak dan diedarkan, menyusul jilid ke-2,
ke-3, dst. Tetapi mendadak putus di tengah. Kelanjutan dari jilid2 tersebut
tidak dicetak lagi. Alasannya apa? Karena ternyata respon pasar tidak
seperti yg diharapkan. Peminatnya kurang. Maka, yg menderita kerugian adalah
mereka yg telah telanjur membeli jilid2 buku tsb karena tidak bisa membaca
kelanjutannya. Demi kepentingan bisnis, persetan dng mereka yg terus
menungga tanpa hasil terhadap kelanjutan jilid2 buku tsb. Ini pernah
dikeluhkan dlm suatu surat pembaca di sebuh koran beberapa tahun yg lalu.
Tetapi, pihak Gramedia hanya diam saja. Jika ada sedikit saja rasa tanggung
jawab, mereka seharusnya tetap mencetak kelanjutan jilid2 buku tadi sampai
tamat -- meskipun peminatnya ternyata jauh dari harapan. Tentu saja
cetakannya tidak lagi sebanyak sebelumnya. Agar mereka yg telah telanjur
membeli jilid2 sebelumnya bisa membeli dan membaca sampai tamat.

----- Original Message -----
From: Leo Johan Susanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, May 05, 2001 11:57 PM
Subject: Re: [t-net] Gramedia "Mendukung" Pemberangusan Kebebasan
Berekspresi


> saya lihat sih ini gerakan yang wajar sebagai orang dagang.
> mereka deliver kalo permintaan pasar naik
> mereka masukin ke gudang kalo ada ancaman.
>
> santai aja, kalo si AAK sudah masuk kandang, itu buku juga pasti keluar
lagi
>
> dan lagi pula, apa baiknya jika kita mengkritik Gramedia ? dia victim kok,
> dia musti menjaga kelangsungan hidup dia kok. yang perlu di gebukin rame
> rame pakai kata kata adalah si AAK.
>
> minta bantuan polisi? he he he....... nanti hutang budi dan duit lagi.
>
> realitis sajalah.....
>
> Leo
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Daniel H.T" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, May 05, 2001 3:34 AM
> Subject: [t-net] Gramedia "Mendukung" Pemberangusan Kebebasan Berekspresi
>
>
> > Ternyata, sikap memberangus kebebasan berekspresi yg diekspresikan oleh
> > sekelompok orang yg tergabung dlm Aliansi Anti Komunis (AAK), termasuk
> > sebagian mahasiswa yg katanya calon intelektual, dng membakar buku-buku
yg
> > menulis ttg teori2 sosialis, marxisme, dan komunisme secara tak langsung
> > didukung pula oleh penerbit buku dan toko buku tertentu. Yg seharusnya
> > mereka justru turut melawan bentuk2 ekspresi yg jauh dari perilaku
> > intelektual tsb.
> >
> > Sepengetahuan saya Grup Gramedia-Kompas adalah kelompok yg paling
terkenal
> > sering memposisikan diri dng "politik mencari aman sendiri." Bilamana
> perlu,
> > atau tidak mau ambil pusaing, kalau "politik mencari aman"-nya itu
> > merugikan, atau mengorbankan orang lain, atau publik. Yang penting
> selamat.
> >
> > Demikianlah dalam kasus intimidasi dari sekelompok orang, yg katanya
akan
> > melakukan sweeping terhadap buku2 yg "berbau kiri" di toko2 buku tgl 20
> Mei
> > nanti. Grup Gramedia-Kompas kembali mengambil posisi dng "politik
mencari
> > aman sendiri" itu, yakni dng pagi2 sudah menarik semua buku2 yg "berbau
> > kiri" itu dari seluruh toko buku Gramedia yg dimilikinya. Demikian pula
> > penerbit Gramedia yg ikut menerbitkan buku2 tadi meminta (menarik)
kembali
> > semua buku2-nya itu dari seluruh toko buku (Kompas, 05/05/01).  Tidak
mau
> > tau kalau kebijaksanaannya itu sama artinya ikut mendukung aksi para
> > pembunuh kebebasan berekspresi dan pembunuh perilaku intelektualitas
> > manusia2 Indonesia.
> >
> > Dengan kebijaksanaan seperti ini (selalu kompromis dng perilaku2 picik),
> > grup Gramedia-Kompas, khususnya dlm kasus ini penerbit Gramedia (KPG)
dan
> > Toko Buku Gramedia  turut mengecewakan mereka yg mengdepankan kebebasan
> > berekspresi tsb. Sangat ironis, mereka yg sebenarnya menjadi salah satu
> > penopang utama, dan alat utama melahirkan buku2 (penerbit dan toko buku)
> yg
> > merupakan prasarana kebebasan berekspresi dan mendidik masyarakat itu
> justru
> > mengambil posisi seperti ini.
> >
> > Kalau alasannya takut dng tindakan destruktif, apakah tidak bisa dng
> > mengandalkan pihak kepolisian? Apakah kekuatan aliansi tsb sedemikian
kuat
> > dan luar biasanya sampai grup Gramedia-Kompas pagi2 sudah sedemikian
> > ketakutan? Dan, tidak mempercayai lagi kemampuan kepolisian?
> >
> > Percuma, semua perjuangan org2 yg menentang kebijakan pihak pemerintah
> (c.q.
> > Kejaksaan Agung) yg selama pemerintahan rezim Orde Baru selalu melarang
> > penerbitan buku2 seperti itu. Kalau sekarang malah ada sekelompok orang
yg
> > berpikir picik seperti kelompok AAK. Apalagi kemudian ditambah lagi dng
> > sikap mencari aman dari grup Gramedia-Kompas ini. Tidak berlebihan,
kalau
> > dikatakan bahwa AAK yg "didukung" grup Gramedia-Kompas telah
mengambilalih
> > peran Kejaksaan Agung di masa rezim Orde Baru itu u/memberangus buku2 yg
> > "berbau kiri" itu.
> >
> > Ketika pasar buku2 tsb prospektif (terbukti selalu laku keras), grup
> > Gramedia ikut2-an menerbitkan buku2 tadi. Tetapi, begitu ada reaksi dari
> > kelompok yg bernama AAK itu, tanpa berpikir panjang, tanpa komando
mereka
> > langsung menarik buku2-nya itu.
> >
> > Bagaimana komentar Anda?
> >
> > ==============
> >  Sabtu, 5 Mei 2001
> >
> > Dipertanyakan, Dasar Hukum "Sweeping" Buku Berbau Kiri
> >
> > Jakarta, Kompas
> >
> > ......... <dihapus>
> >
> > Situasi berbeda tampak pada sejumlah Toko Buku Gramedia. Di Toko Buku
> > Gramedia Melawai (juga di kawasan belanja Blok M, Jakarta Selatan),
> > misalnya, saat ini sudah tidak lagi dipajang buku-buku yang dianggap
> "berbau
> > kiri" tersebut, termasuk sejumlah buku karya sastrawan Pramoedya Ananta
> Toer
> > yang pelarangannya sudah dinyatakan dicabut oleh pihak Kejaksaan Agung.
> > Bahkan buku Pramoedya yang cukup laris berjudul Perempuan Remaja dalam
> > Cengkeraman Militer terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), sejak
> > beberapa hari terakhir juga "hilang" dari peredaran. Menurut seorang
> > karyawan bagian informasi di toko buku tersebut, buku-buku tersebut
telah
> > ditarik oleh penerbitnya.
> >
> > Dari KPG yang menerbitkan sejumlah buku yang dituding berbau paham
komunis
> > itu diperoleh keterangan, penerbit memang tidak lagi mengirimkan
> > buku-bukunya ke Toko Buku Gramedia. Adapun penarikan sebagian produksi
KPG
> > itu sesuai permintaan pihak toko buku sekitar dua minggu lalu. Produk
buku
> > KPG yang termasuk laris, namun kini terpaksa ditarik peredaran dari toko
> > buku tertentu, itu di antaranya Palu Arit karya Hermawan Sulistyo serta
> > Perempuan Remaja dalam Cengkeraman Militer dan Kronik Revolusi 1945,
1946,
> > 1947 karya Pramoedya Ananta Toer.
> >
> > "Buku Palu Arit sudah masuk cetakan kedua, sedangkan penjualan novel
> > Pramoedya juga amat cepat," jelas Christina, Manajer Bisnis KPG. Perlu
> > diketahui, buku Kronik Revolusi (jilid pertama) dan Palu Arit adalah
buku
> > yang penerbitannya didanai Adi Karya Ikapi tahun 1999.
> >
> > ..... <dihapus>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Salam Sejahtera
> >
> >   DANIEL HT
> >
> >
> > -=Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa=-
> >
> > Homepage : http://www.tionghoa-net.com
> > Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
> > Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
> >
> > Your use of Yahoo! Groups is subject to
http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
> >
> >
> >
>
>
> -=Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa=-
>
> Homepage : http://www.tionghoa-net.com
> Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
> Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
>
> Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
>


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke