Wak Hasan, yth.

Lama ndak ketemu, ya?

Soal aku dulu 'terlihat' mencintai Mega (dhi. PDI-P),
yang antara lain aku buktikan dengan menyetor lima
suara bulat-bulat pada saat Pemilu, boleh jadi Wak
Hasan benar adanya. Bahkan identitas itu pula yang
kemudian begitu melekat kepada diri saya. Ingat, WAM,
kan Wak ?

Mohon dimaklumi. Saat itu, pemikiran saya cuma satu,
jangan lagi Golkar mengulang kekuasaannya dengan
menang pemilu tersebut. Entah Golkar berubah atau
tidak, setidaknya aku mencoba mengurangi trauma Orba
yang begitu menghimpit sepanjang lebih tiga dasawarsa
tersebut.

Maka, satu-satunya pilihan, adalah partai yang
menyandang 'citra' (tanda kutip) nasionalis. dan di
antara dari beberapa partai, yang terlihat masih punya
basis kuat adalah PDI-P, yang karena anaknya, si Mega,
membuat kemungkinan pertautan antara bapaknya dengan
massa di bawah, yang belum terlalu lupa kepada beliau.
Partai nasionalis (sekuler) lain sih ada, cuma mereka
belum memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengan
rakyat.

Itu sebabnya, mengapa lalu PDI-P aku jadikan tumpuan,
yang dengan berbagai cara aku coba yakinkan kepada
lingkunganku, bisa anak-bojo, teman kantor, sopir bemo
dan tukang becak, serta di milis. Bukan PDI-P-nya
semata. Bukan Meganya semata-mata. Tetapi itulah
pilihan yang paling josss untuk menangkal Golkar.

Alhamdulilah, Golkar tak jadi urutan kesatu. Untuk
sementara, boleh. Tapi berada di urutan kedua, tetap
menghantui pikiran saya. Potensinya untuk mengulang
pola lamanya, yang karena masih terlalu dekat
jaraknya, tentu tak memungkinkan mereka membilas
bersih dari anasir yang sudah terlanjur enak dengan
pola lama tadi.

Tetapi harapan ternyata tak selalu menjadi kenyataan.
Ketika bangun, semua mimpi indah cuma sekedar cerita
belaka. Kini, PDI-P sangat mengecewakanku. Terlalu
bodoh mereka memperlakukan perjalanan bangsa ini,
hanya demi kekuasaan yang terbukti gampang sekali
digagalkan oleh mereka yang tak suka PDI-P. Namun
kegampangan ini tak membuat mereka melek, bahwa mereka
harus kembali bekerja keras mempersiapkan pemilu
berikutnya, untuk merangkul rakyat dengan
agenda-agenda nyata, sehingga rakyat yang tercekik
sepanjang 30-an tahun itu bisa agak longgaran dikit.

Alih-alih untuk mempersiapkan diri, dan berusaha
merebut kekuasaan secara cantik, sikap-sikap para elit
dari PDI-P ini malah membuat berantakan negeri ini
benar-benar. Ditambah lagi dengan sikap ngambangnya si
Ketua Umum (namanya Mega, ya ?), yang membuat rasa
sakit ini berkepanjangan. Kalau mau rebut, ya rebut,
dengan segala konsekwensinya. Kalau masih ragu-ragu,
ya tunda sampai 2004. Ini mah kayak gatel yang bukan
dioles salep atau apa kek, tapi cuma digaruk
pelan-pelan. Gatel terus, kan?

Maka, wak, kalau ada pemilu lagi, dipercepat atau
tidak, akan aku buktikan teoriku, bahwa sikap PDI-P
selama menang baru-baru ini sampai kini, sama sekali
tak menguntungkannya. Amat yakin aku mengatakan, PDI-P
pasti turun perolehan suaranya. Cuma sayangnya, ada
sisi ketakutan lainnya, yaitu, bahwa peluang itu
diambil oleh Golkar. 

Salam hormat, Wak.

=====
+==========================================================+
| Sugih durung karuwan, sombong didisikno...               |
| Nek kate banyolan, http://matpithi.cjb.net ae, rek... |
+==========================================================+

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Auctions - buy the things you want at great prices
http://auctions.yahoo.com/

...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke