Cak Gigih,
( pengalaman anda sangat menarik, gantian saya, ya ?)

Kita ini masing-masing cuma "kintir" ( hanyut) dalam kehidupan . Nasib punya
orang tua kyai NU yang dulu masuk daftar disembelih Pemuda Rakyat di Solo
dulu, diluar kuasa saya untuk bisa dihilangkan. Rapat-rapat PKI, dengan
gambar Lenin dan Marx segede pohon kelapa masih teringat sejak SMP dulu.
Begitu pula dengan sepatu Bot Pemuda Rakyat dari Sukar, Bedjo, dan Karno.
Mereka sering melotot dan mengejek saya ketika pergi ngaji. Dan Bung Karno
yang berada pada satu sisi dengan mereka...Dan gembiranya kita sekeluarga
waktu Bung Karno lengser........

Dengan background semacam itu, aliran kali saya tidak memungkinkan simpati
pada PDIP Banteng melotot itu. Malahan takut  dan ngeri , kalau melihat
Satgas di Posko-Posko. Begitu pula dengan Mega: sudah biasa-biasa.., anaknya
Bung Karno lagi !.  Apa kita mau dibawa makan jagung lagi ?. .. Apalagi
Megawati ( PDIP) melakukan kesalahan fatal yang mencemaskan orang-orang
Muslim ( tentunya bukan semua, hanya yang punya latar belakang yang mirip
saya . Santri lah gampangannya) ,  komposisi calon anggota MPR-nya tidak
mempertimbangkan psikologi orang Islam. ( Banyak Kristen-nya). ..Kemudian
Mega yang menang diam saja, tidak melakukan inisiatip memberikan pengertian
dan pendekatan kepada kelompok lain. Ya tidak ada pilihan lain. Mega tidak
bisa diterima sama sekali. Ya jatuh, lha wong cuma mendapat 30 %.

Dengan berlalunya waktu, semua dari kita masing-masing belajar satu-sama
lain. PDIP ( dan Mega) saat ini amat menyadari posisinya. Semuanya telah
banyak menghilangkan kecurigaan satu-sama lain. Saat ini, kalau ada
pemilihan lain, bukan tidak ada kemungkinan saya nyoblos Mega ( apalagi
kalau performance-nya dalam empat tahun mendatang ini bisa bagus).

Demikianlah pengamatan dan pandangan saya yang amat subyektif. Tentunya anda
semua memiliki pandangan-pandangan subyektif masing-masing. Kesemuanya
tentunya ikut mewarnai keseluruhan kehidupan berbangsa kita. Bertambahnya
kayanya kita akan posisi subyektif yang macam-macam itu, tentunya pada
waktunya bakal memudahkan solusi maju buat negeri yang kita cintai ini.

Kita ini masing-masing cuma kintir.......

Wassalam,
Abdullah Hasan.


----- Original Message -----
From: "GIGIH NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, May 25, 2001 7:50 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] DENDANG GIGIH NUSANTARA.


Wak Hasan, yth.

Lama ndak ketemu, ya?

Soal aku dulu 'terlihat' mencintai Mega (dhi. PDI-P),
yang antara lain aku buktikan dengan menyetor lima
suara bulat-bulat pada saat Pemilu, boleh jadi Wak
Hasan benar adanya. Bahkan identitas itu pula yang
kemudian begitu melekat kepada diri saya. Ingat, WAM,
kan Wak ?

Mohon dimaklumi. Saat itu, pemikiran saya cuma satu,
jangan lagi Golkar mengulang kekuasaannya dengan
menang pemilu tersebut. Entah Golkar berubah atau
tidak, setidaknya aku mencoba mengurangi trauma Orba
yang begitu menghimpit sepanjang lebih tiga dasawarsa
tersebut.

Maka, satu-satunya pilihan, adalah partai yang
menyandang 'citra' (tanda kutip) nasionalis. dan di
antara dari beberapa partai, yang terlihat masih punya
basis kuat adalah PDI-P, yang karena anaknya, si Mega,
membuat kemungkinan pertautan antara bapaknya dengan
massa di bawah, yang belum terlalu lupa kepada beliau.
Partai nasionalis (sekuler) lain sih ada, cuma mereka
belum memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengan
rakyat.

Itu sebabnya, mengapa lalu PDI-P aku jadikan tumpuan,
yang dengan berbagai cara aku coba yakinkan kepada
lingkunganku, bisa anak-bojo, teman kantor, sopir bemo
dan tukang becak, serta di milis. Bukan PDI-P-nya
semata. Bukan Meganya semata-mata. Tetapi itulah
pilihan yang paling josss untuk menangkal Golkar.

Alhamdulilah, Golkar tak jadi urutan kesatu. Untuk
sementara, boleh. Tapi berada di urutan kedua, tetap
menghantui pikiran saya. Potensinya untuk mengulang
pola lamanya, yang karena masih terlalu dekat
jaraknya, tentu tak memungkinkan mereka membilas
bersih dari anasir yang sudah terlanjur enak dengan
pola lama tadi.

Tetapi harapan ternyata tak selalu menjadi kenyataan.
Ketika bangun, semua mimpi indah cuma sekedar cerita
belaka. Kini, PDI-P sangat mengecewakanku. Terlalu
bodoh mereka memperlakukan perjalanan bangsa ini,
hanya demi kekuasaan yang terbukti gampang sekali
digagalkan oleh mereka yang tak suka PDI-P. Namun
kegampangan ini tak membuat mereka melek, bahwa mereka
harus kembali bekerja keras mempersiapkan pemilu
berikutnya, untuk merangkul rakyat dengan
agenda-agenda nyata, sehingga rakyat yang tercekik
sepanjang 30-an tahun itu bisa agak longgaran dikit.

Alih-alih untuk mempersiapkan diri, dan berusaha
merebut kekuasaan secara cantik, sikap-sikap para elit
dari PDI-P ini malah membuat berantakan negeri ini
benar-benar. Ditambah lagi dengan sikap ngambangnya si
Ketua Umum (namanya Mega, ya ?), yang membuat rasa
sakit ini berkepanjangan. Kalau mau rebut, ya rebut,
dengan segala konsekwensinya. Kalau masih ragu-ragu,
ya tunda sampai 2004. Ini mah kayak gatel yang bukan
dioles salep atau apa kek, tapi cuma digaruk
pelan-pelan. Gatel terus, kan?

Maka, wak, kalau ada pemilu lagi, dipercepat atau
tidak, akan aku buktikan teoriku, bahwa sikap PDI-P
selama menang baru-baru ini sampai kini, sama sekali
tak menguntungkannya. Amat yakin aku mengatakan, PDI-P
pasti turun perolehan suaranya. Cuma sayangnya, ada
sisi ketakutan lainnya, yaitu, bahwa peluang itu
diambil oleh Golkar.

Salam hormat, Wak.

=====


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke