Pertanyaannya mengapa baru sekarang GD mengganti Marzuki ?
Gd sangat percaya ucapan seseorang atau istilahnya kompromi. Mega, Taufik
Kiemas, Akbar dll mengiming2 tidak ada Memo I, II dan SI. Selama iming2
berjalan, Marzuki tetap dipertahankan. Presiden tidak menghiraukan
permintaan2 untuk mengganti Marzuki. Padahal kenyataannya semua tahu.
Sampai terakhirpun Akbar dan Amien mengatakan belum tentu pertanggungan
jawaban Presiden ditolak, maksudnya yah itu Presiden tenang2 aja.
Memang sudah sangat terlambat.
Ada anekdot bahwa GD menipu Amien bahwa kalau dia jadi Presiden, Amien dkk
akan diberi jabatan yang strategis. Nyatanya tidak. Sekarang GD balik
ditipu bahwa nggak ada Memo dan SI. Nyatanya hehehhe ini baru lucu.
Ridwan
--------------------------------------------------
At 06:35 PM 6/17/01 -0700, you wrote:
>
>--- �� <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> 10. Kenapa hanya ada satu Baharuddin Lopa?
>>
>http://www.satunet.com/artikel/isi/01/06/17/55066.html
>>
>> Baru kali ini ada Jaksa Agung yang didemo masyarakat
>> dengan penuh
>> dukungan
>> terhadap langkah-langkahnya.
>> ====================
>>
>> Berbagialah orang tua dan mereka yang telah
>> mempengaruhi hidup
>> Lopa.
>>
>> Lopa, janga lupa engkau kini mempunyai itu gunting
>> untuk memotong
>> belalai gurita. Dulu engkau mengatakan mari
>> berikhtiar karena
>> gurita itu besar sekali dan nelalinya banyak sekali,
>> namun kini
>> saatnya kita bersama-sama mengatakan mari kita
>> hancurkan itu
>> belalai dan kepalanya!
>>
>> ��
>> (salam dari Yogya untuk Lopa)
>------------------------
>
>Kengerian DPR, yang kemudian berharap untuk
>menyegerakan SI, boleh dipastikan, bukan ngeri sama
>dekritnya GD, tetapi lebih ngeri kepada gunting Lopa.
>Lopa benar-benar sebuah 'mesin' hukum, yang sekali
>jalan ya harus jalan, kecuali secara fisik dihentikan
>(baca: dimatikan).
>
>Percepartan SI, dengan agenda utama lengsernya GD
>(terbukti tak ada rantap penerimaan
>pertanggung-jawaban presiden), boleh jadi akan
>menggulirkan Mega sebagai presiden. Kalau melihat
>bidikan-bidikan Lopa banyak terarah ke kroni-nya Mega,
>maka hampir bisa dipastikan, kabinet mendatang pasti
>tanpa Lopa. Diberhentikan dengan hormat, disertai
>ucapan terimakasih.
>
>Buat Lopa, barangkali sudah sangat cukup, sama
>cukupnya ketika ia 'cuma' didubeskan. Tetapi tidak
>bagi kita yang merindukan penegakan hukum, lebih-lebih
>korupsi, yang membuat setelan negeri ini harus dipaksa
>untuk menjalankan skema naik harga, nguber setoran,
>untuk bayar utang. Coba sekali-sekali dirunut, sejak
>kapan, sih, yang namanya telkom, pln, pertamina, dan
>berbagai perusahaan yang menguasai hajat hidup itu
>mulai dirundung keharusan mengembalikan utang karena
>biaya dan investasi blangsak kayak begitu? Siapa tahu,
>'Pertamina itu dulu nggak apa-apa, tapi sejak
>pembangunan kilang ini-itu, mulailah perusahaan ini
>harus menanggung rudin'. Juga PLN.
>
>Bayangin, hanya karena nurutin rezim sebelumnya, yang
>menghasilkan listrik swasta, dan harus pula membayar
>harga mahal (dan konyolnya, jual murah), masa iya
>rakyat yang mesti membayar dengan kenaikan harga? Yang
>bener aja.
>
>Lopa, maju terus.
>
>(Salam dari Surabaya, untuk Lopa)
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--