Mestinya Golkar harus bersembunyi dan membubarkan diri mengingat demikian
jahatnya partai tersebut terhadap rakyat jelata, sebagaimana jahat "tokenya",
Suharto. Sebaliknya mereka makin bangga menampilkan diri di paska kejatuhan
Suharto. Ini menjadi indikator benarnya sebagaimana dikatakan A Umar Said bahwa
priode Yudhoyono - Kalla adalah orde baru jilid II
BISAI <[EMAIL PROTECTED]> skrev: KOMENTAR BISAI:
Golkar adalah sebuah partai oportunis sejak mula. Suharto menjadi besar
adalah juga dibesarkan oleh ideologi oportunis yang sudah menjadi bakatnya
mungkin sejak dia dilahirkan. Para pemimpin golkar adalah para pemimpin
oportunis yang di masa hidup suharto bisa membesar karena dibawah asuhan yang
dikawal senjata, militerisme, kediktatoran suharto dan Suhartoisme suharto itu
sendiri. Sebuah partai oportunis tidak mungkin mempuyai cita-cita mulia seperti
memakmurkan kehidupan rakyat, mengangkat martabat bangsa, menghidupkan dan
mengembangkan demokrasi bagi rakyatnya karena setiap pemimpin oportunis hanya
memikirkan dan betindak untuk kepentingan mereka sendiri-sendiri dengan cara
klassiek: demagogi, janji-janji kosong, serta memalsukan fakta-fakta perbuatan
mereka yang merugikan kepentingan rakyat.
Dalam sejarah Orba dan Golkar yang sepanjang sejarah kekuasaan suharto,
semua demagogi politik mereka selalu terbuktikan: mempropagandakan kemakmuraan
semu sebagai kemakmuran seluruh rakyat padahal kemakmuran itu hanyalah
dinikmati segelintir para penguasa, pemimpin-pemimpin negara, para konglomerat,
kapitalis birokrat, para koruptor dan tentu saja para personil militer, perwira
tinggi atau para jenderal yang menikmati kemakmuran pembagian rejeki haram
hasil rampokan milik negara dan rakyat. Tidaklah mengherankan kalau kemakmuran
semu yang sama sekali tidak dinikmati rakyat itu mereka anggap sebagai jasa
besar suharto dalam memakmurkan segelintir kecil pemilik negeri dan penguasa
negara di kalangan mereka sendiri (Suharto- Orba - Golkar). Jasa suharto dalam
hal memakmurkan dan memperkaya para kroni dan keluarga serta dirinya sendiri
itu memang jasa sungguh, memang berkat jasa dialah semua kroni-kroni dan
keluarganya menjadi kaya raya, para milyuner besar yang hidup
dalam kemakamuran nyata.
Sedangkan rakyat selalu hidup dalam kemiskinan sepanjang masa tapi dibikin
mabuk oleh demagogi-demagogi mereka dan dipaksa percaya bahwa mereka hidup
dalam kemakmuran, kenyang, bebas serta aman sentosa. Keperkasaan demagogi
mereka ditunjang kuat oleh senjata, tekanan, ancaman, infiltrasi, terror gelap
dan terang, bujukan dan segala macam metode dari yang paling halus hingga yang
paling brutal dan berdarah.
Kenyataan terbaru dari demagogi besar Orba dan Golkar, seperti kita
tahu, adalah berkeras kepala tanpa sedikitpun punya etika, tanpa secuil moral,
tanpa rasio, ingin memaksakan kepada rakyat bahwa suharto yang koruptor besar,
algojo pembunuh 3 juta rakyat tak bersalah, teroris dari bermacam peristiwa
nasional (Tanjong Priok, Triksakti, Timor Timur. dsb, dsb) agar suharto
diangkat jadi "pahlawan nasional". Hal itu persis mereka lakukan dalam
kesempatan ketika suharto hampir mati dan sesudah kematiannya. Begitulah kaum
oportunis selalu menggunakan kesempatan yang mereka anggap paling baik
meskipun kesempatan itu sangat absurd dan memalukan bahkan sangat brutal. Tapi
para oportunis memang hidup dari setiap kesempatan yang mereka anggap akan
menguntungkan mereka.
Sekarang putri sulung suharto yang dipanggil Tutut itu, mereka jadikan
bola pimpong antara yang akan merenggutnya (Golkar) dan yang mau
mempertahankannya (PKPB- Hartono). Orang-orang, banyak yang tahu bahwa suharto
sesungguhnya diruntuhkan oleh teman-temannya sendiri dengan menunggangi para
mahasiswa. Mereka sangat tepat pada waktunya dan cepat menggunakan kesempatan
oportunis yang "nu of nooit "itu dan mereka berhasil dengan gemilang (kaum
oportinis Orba-Golkar) yang tentu saja membikin keluarga suharto marah dan
"dendam". Tapi dendamnya kaum oportunis cuma seusia hangatnya tahi ayam. Begitu
tampak titik-titik terang yang bisa dinikmati bersama, semua dendam dan
permusuhan bisa diurus cepat dan ditiadakan dalam sekilas. Memang Tutut dan
Golkar saling memerlukan, terutama Tutut yang hanya seorang perempuan yang baru
kehilangan sang ayah. Dendam keluarga bagi kaum oportunis belum seharga sebutir
beras. Sesudah suharto mati, Tutut tidak akan punya harga politik yang
bisa diperhitungkan dan tanpa perhitungan oportunis, dia cuma akan jadi
perempuan biasa meskipun uangnya berlimpah dan yang akan menyelamatkan uangnya
dan uang adik-adiknya cumalah politik dan politik itu adalah cuma Golkar yang
juga akan kebagian harta haram peninggalan sang koruptor paus. Pembagian dan
perhitungan oportunis itu sangat bisa dimaklumi dan tak seorangpun yang bisa
menghambatnya. Politik oportunis memang tidak mengenal malu, tidak mengenal
rasa tahu diri, tidak mengenal segan dan jijik menjilat kembali ludah sendiri
yang sudah diludahkan ke tanah dan tentu saja sama sekali tidak mengenal
"kepribadian". Satu-satunya yang mereka kenal adalah keuntungan pribadi yang
itu bisa untuk sementara waktu dilakukan bersama-sama agar punya kekuatan.
Indonesia sedang hidup dalam abad oportunis yang tak pernah `berubah dari
abad ke abad. Revolusi mungkin tidak akan pernah datang dalam seribu tahun
mendatang sedangkan oportunisme di Indonesia hanya bisa dikalahkan dengan
revolusi. Apakah pil pahit oportunisme ini akan terus ditelan selama ribuan
tahun?. Hanya rakyat Indonesia yang bisa menjawabnya.
BISAI.
----- Original Message ----- From: samiaji
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, February 09, 2008 6:50 PM
Subject: [HKSIS] Wajar Kalau Mbak Tutut Kembali Merapat ke Golkar / Hartono:
Keluarga Cendana Murka Terhadap Golkar
09/02/08 23:15
Wajar Kalau Mbak Tutut Kembali Merapat ke Golkar Jakarta (ANTARA News) -
Mantan Ketua DPP Golkar Pinantun Hutasoit berpendapat wajar kalau putri sulung
mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, yang akrab dipanggil Mbak
Tutut menyatakan siap kembali `merapat` ke Partai Golkar.
"Wajar karena Mbak Tutut adalah kader Golkar dan pernah menjadi fungsionaris
Golkar, dan dia tak pernah menyatakan berhenti dari partai tersebut. Karena
itu, kalau dia menyatakan siap kembali ke Golkar, saya kira itu pikiran yang
jernih dan bijaksana," kata Pinantun di Jakarta, Sabtu, menanggapi pernyataan
Ketua Partai Golkar Muladi dan pernyataan Mbak Tutut.
Muladi menyatakan partai berlambang pohon beringin itu terbuka bagi keluarga
Soeharto yang ingin bergabung. "Kita terima keluarga Soeharto dengan legowo.
Karena memang asal usulnya dari Golkar," katanya, di Batam, Kamis (7/2) malam.
Sebelumnya, Tutut menyatakan dirinya siap `merapat` ke Partai Golkar. Sedangkan
Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla berpendapat, Golkar tidak memaksa atau
tidak melarang keluarga Soeharto kembali bergabung.
Pinantun, salah seorang sesepuh Golkar, berpendapat, "Sangat bijak kalau Mbak
Tutut kembali ke Golkar, karena Golkar tetap menganggap Pak Harto itu pemimpin."
Ia berpendapat, Partai Golkar dalam perjalanannya memang terdapat banyak
kelemahan. "Tapi kelemahan itu bisa diperbaiki bersama, sehingga Golkar tetap
menjadi partai besar yang dicintai rakyat."
Ia menyatakan percaya, jika Mbak Tutut kembali ke Golkar, dia akan memperkaya
khazanah pemikiran pada partai tersebut dalam memperjuangkan kepentingan bangsa
dan negara. (*)
Harian Komentar
05 Februari 2008
Hartono: Keluarga Cendana Murka Terhadap Golkar
Ketua Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) R Hartono, membantah bahwa putri mantan
Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut, akan kembali ke
Golkar seperti yang disampaikan anggota Fraksi Partai Golkar, Yuddy Chrisnandi
dan Wasekjen Golkar Rully Chairul Azwar sebelumnya.
Tidak mungkin Tutut akan bergabung dengan orang-orang yang mengkhianati
Soeharto. Lagi pula orang-orang Cendana sudah murka pada Golkar, di mana banyak
orang-orang yang menurunkan Soeharto. Jadi bagaimana mau masuk Golkar, jelas
Hartono, Senin (04/02).
Menurut Hartono, Soeharto masih menjadi orang nomor satu di PKPB. Kenapa Yuddy
dan Rully berkata demikian, karena mereka masih polos, mereka masih anak didik
saya, jelas Hartono. Menurut mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini, pernyataan
kedua pejabat Golkar itu, menggambarkan ketakutan Golkar terhadap kekuatan
PKBP. Yang memiliki massa adalah Tutut. Dia yang mempunyai kuasa dari saya,
tegas R Hartono.(okz)
---------------------------------
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og notisblokk.