Dear All;
Saat ini memang agak sulit untuk mengaku sebagai orang  Indonesia (apalagi
dari pemerintah RI) di fora internasional. Akhir-akhir ini (karena berbagai
tragedi kekerasan dan terutama di Timtim) nama Indonesia  sudah mulai
diasosiasikan mirip dengan Serbia, (Burundi, atau Rwanda?).Seperti diketahui
di tempat-tempat tersebut 'genocide' terjadi dan pemerintahnya tidak
mengambil tindakan yang memadai untuk mencegahnya dan bahkan diduga ikut
terlibat.  Pasti kita tidak rela, tetapi itu tidak cukup. Yang diperlukan
untuk rehabilitasi nama Indonesia adalah:
1.  bukti-bukti nyata bahwa hal itu memang tidak pernah terjadi di
Indonesia, atau 
2. kalau memang hal itu pernah terjadi maka ada mekanisme yang menjamin
pencegahan hal semacam itu untuk terjadi, atau 
3. paling tidak rakyat (dengan mekanisme tertentu) tidak akan pernah
membiarkan pemerintah yang pernah dan akan membiarkan hal itu terjadi. 
Pasti semuanya dengan konsekuensi bahwa mereka yang terlibat ditindak dengan
setimpal (bukan di'cover up' dengan tragedi lain yang lebih besar).
Biyanto
At 23:28 20/09/99 +0700, you wrote:
>Teman-teman semua, akibat peristiwa berdarah di Timtim, dunia internasional
>mencampuradukkan semua persoalan menjadi satu. Mungkin teman-teman sudah
>mendengar akan ada seminar mengenai terumbu karang di Bali. Seminar mengenai
>terumbu karang tahun 2000 yang direncanakan diselenggarakan di Bali, sudah
>mulai ada yang mengkampanyekan untuk diboikot. Apa hubungannya antara
>keselamatan terumbu karang indonesia dengan kebijakan pemerintah di Timtim.
>Jelas-jelas orang bodoh saja tahu ngak ada hubungannya. Saya kira di setiap
>pertemuan lingkungan tingkat internasional pasti negara-negara lain berusaha
>menekan Indonesia dengan alasan Timtim. Bagaimana ini?
>Salam,
>Harry Surjadi
>
>
>>Dear All,
>>Komentar:
>>Blunder memang selalu mahal ongkosnya. Sialnya yang  bayar blunder pemimpin
>>selalu rakyat. Jangan sampai rakyat juga harus bayar dengan eksploitasi
>rasa
>>nasinalisme berlebihan atas blunder yang mereka bikin.
>>
>>At 14:08 14/09/99 +0700, you wrote:
>>>Dear All,
>>>
>>>Saya ingin menguatarakan pendapat kepada masyarakat :
>>>
>>>Saya tidak keberatan International Peace Keeping Force masuk Indonesia,
>>>toh nantinya akan juga demikian,
>>>tetapi yang menjadi masalah adalah :
>>>
>>>Who is going to pay ?
>>>Amerika ini biasanya berkedok humanitarian tetapi belakang kwitansinya
>>>diberikan kepada orang lain,
>>>bertindak seperti missionries. Ingat kuwait yang membayar adalah Saudi
>>>Arabia. Karena UN sendiri sudah
>>>kebanyakan uang.
>>>
>>>For How Long ?
>>>Masalah East Timor bakal lama sekali kalau kita harus menunggu sampai
>>>negeri ini berdiri sendiri.
>>>
>>>How Much ?
>>>Kalau jumlah budget yang dihadapkan kepada kita terlalu besar, evaluate
>>>sekali kalau kemerdekaan East
>>>Timor). Saudi Arabia harus membayar 50 billion dollar untuk perang
>>>Kuwait.
>>>
>>>Pemerintah Indonesia harus transparant dalam hal ini.
>>>
>>>
>>>
>>>Sincerely,
>>>
>>>
>>>Letter from London
>>>
>
>>>
>>>
>>
>>Johannes Subijanto
>>Head, Division of Wild Flora and Fauna Traffic
>>Directorate General of Forest Protection and Nature Conservation
>>Manggala Wanabakti Bldg. Block VII 7th Floor - Jalan Gatot Subroto, Jakarta
>>Indonesia
>>Phone & Fax 62 21 5720227
>>
>>
>>---------------------------------------------------------------------
>>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
>

Johannes Subijanto
Head, Division of Wild Flora and Fauna Traffic 
Directorate General of Forest Protection and Nature Conservation
Manggala Wanabakti Bldg. Block VII 7th Floor - Jalan Gatot Subroto, Jakarta 
Indonesia
Phone & Fax 62 21 5720227


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke