Ambara, Gede Ngurah (KPC) wrote:
> 
> Atau juga salahkan kekayaan alam didaerah-daerah (gas,minyak bumi, batubara)
> yang dirampok dari daerah (Irian Jaya, Kaltim, Riau, Achech)..dibawa ke
> Jakarta, sampai di Jakarta sebagian besar dikorupsi, sebagian lagi dipakai
> militer untuk membiayai perang melawan rakyatnya sendiri, dan hanya sedikit
> sekali kembali kedaerah, sehingga rakyat daerah tetap menderita, susah
> sekolah, jalanan berdebu/tidak ada jalan, susah air dsb : Apakah itu berarti
> kita semua bersalah...
> Yah memang kita semua bersalah karena tidak memperingatkan (tidak berani
> memperingatkan/mencegah) angkatan bersenjata jahanam yang petantang
> petenteng dengan sangkur, bedil, dan senjatanya menyiksa,membunuh dan
> menekan rakyat diseluruh Indonesia...
> 

Nah dalam kontek ini saya ingin pendapat sdr. Ambara. Informasi yang saya 
dapat dengan meningginya suhu politik antara Indonesia dan Australia saat 
ini banyak orang-orang pertambangan dari Australia yang sudah kabur dan 
mungkin berhenti berproduksi. Pastinya tambang-tambang itu belum sampai 
terbengkalai.
Ini kan potret dan bukti nyata bahwa kelakuan over eksploitatif dan 
penghancuran lingkungan oleh perusahaan jelas mendapat dukungan resmi  
dan ketika dukungan militer terhadap keamananan para penambang Australia 
itu menurun maka ketakutan perusahaan-perusahaan Australia itu setengah 
mati. Di beberapa tempat seperti di IMK (Indo Muro Kencana), rakyat sudah 
menduduki kawasan-kawasan itu.
Menurut saya, ini adalah kesempatan kita yang sangat baik untuk 
membongkar dan membenahi masalah akses rakyat terhadap 
kawasan-kawasan pertambangan. Hanya saja apakah "orang kita" di 
perusahaan-perusahaan itu mampu berpihak dan mengambil alih kendali. 
Orang-orang yang kabur itu toh kerjanya hanya mengamankan investasi 
mereka dan mempergunakan kesempatan untuk ambil untung 
sebesar-besarnya (makanya tidak segan-segan bekerja-sama dengan militer).
Tuntutan yang diusulkan perusahaan seringkali hanya soal keamanan. Kalau 
ada profesional pertambangan "orang kita" di dalam perusahaan yang orang 
asingnya sedang "kabur dan ketakutan", dalam kesempatan ini kan bisa saja 
mulai action dan bersama-sama barisan rakyat yang sudah menunggu di luar, 
untuk ambil alih, mengatur dan membuat kebijakan soal-soal teknis 
yang baik terhadap lingkungan serta mengenai akses rakyat terhadap 
pertambangan itu sendiri.
Soal tentara yang petentang-petenteng saya kira hanya tergantung siapa 
yang bayar.
Saya percaya untuk mengambil alih perusahaan yang rakus dan didukung oleh 
penguasa yang budeg itu, peranan "orang kita" yang profesional dan 
berpengalaman secara teknis akan sangat membantu rakyat secara sistematis 
merebut kembali hak-haknya. 

Wassalam,
Bambang Ryadi Soetrisno  
-- 
<apologies for cross-postings>
visit LINGKAR Website http://jupiter.centrin.net.id/~lplppr


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke