Teman-teman anggota mailing list Lingkungan, saya kutipkan sepotong pidatonya Menteri
Lingkungan Hidup Panangian Siregar saat melantik Prof Dr Ir Hadi Alikodra tanggal 27
September 1999. Setelah itu saya membuka komentar dari teman-teman sekalian.
Dikutip persis dari naskah pidato Panangian Siregar (halamn 4-8):
Alinea ketiga, halaman 4:
Sejak saya menerima jabatan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal hingga
kini, saat Kabinet reformasi Pembangunan akan berakhir, saya telah mendapat banyak
tantangan dan kritikan dari berbagai kalangan, khususnya lembaga swadaya masyarakat,
dan individu termasuk salah satu sejawat pendahulu saya yaitu Saudara Sarwono
Kusumaatmadja. Sebagian kecil media massa yang memiliki tiras cukup besar juga secara
a priori senantiasa menyampaikan berita yang jelek mengenai saya, dalam pelbagai
kesempatan yang dimungkinkan. Adanya hak jawab tidak selalu efektif karena hak jawab
kami selalu disajikan dalam kolom yang berbeda seperti surat pembaca dan sikap a
priori sebagian kecil media massa yang sudah a priori tersebut. Berita-berita mengenai
kami tidak disajikan secara berimbang dan cenderung menonjolkan hanya
kelemahan-kelemahan, memojokkan, menghujat, sementara kinerja kami sama sekali tidak
ditonjolkan. Karena itu, selama ini kami memandang tidak bermanfaat dan hanya membuang
energi apabila kami menanggapi kritikan-kritikan yang tidak mendasar, bersifat a
priori, tidak obyektif, lebih banyak bohongnya, dan hanya dimanfaatkan lebih hanya
sebagai komoditas politik. Kami memilih tetap bekerja, terutama melakukan pembenahan
internal organisasi karena tidak banyak orang yang tahu bahwa organisasi internal,
khususnya Bapedal, sangat rapuh dan kacau. Kekacauan ini merupakan warisan Saudara
Sarwono Kusumaatmadja selama lima tahun masa jabatannya sebagai MENLH/Kepala Bapedal.
Selama ini, Saudara Sarwono yang selalu melancarkan kritikan dan bahkan penghinaan
kepada kami dengan mengatakan bahwa kami tidak berbobot, bodoh, dan tidak pantas
menjadi MENLH/Kepala Bapedal. Padahal menurut hemat kami, Saudara Sarwono sendirilah
yang tidak layak menjadi MENLH/Kepala Bapedal dengan alasan-alasan sebagai berikut:
1. Bnyak (sic) pihak yang mengetahui betul bahwa Saudara Sarwono senantiasa mengalami
kegagalan, baik sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN), dan
apalagi sebagai MENLH/Kepala Bapedal. Karena tidak berhasil sebagai MENPAN, maka
mantan Presiden Soeharto memindahkan Saudara Sarwono ke Kantor MENLH/Bapedal yang
ternyata malah lebih keliru.
2. Bapedal ditinggalkan dalam keadaan kacau akibat dibiarkannya Bapedal
terkotak-kotak, jalan sendiri-sendiri antar unit, agar tidak kompak dan mudah
dikuasai. Akibatnya, pengganti Saudara Sarwono mendapat kesulitan dalam melaksanakan
tugas sebagai MENLH/Kepala Bapedal karena terus-menerus disabot oleh staf yang setia
kepada Saudara Sarwono sampai waktu yang cukup lama yaitu 8 bulan.
Dalam hal ini, kami harus memberanikan diri untuk mengambil tindakan untuk memecat
mereka-mereka ini dari jabatannya demi untuk keselamatan dan berjalannya kembali
Kantor MENLH/Bapedal secara normal. Selama 8 bulan kami terus disabot, tidak diberi
bahan-bahan yang diperlukan oleh pimpinan dalam membuat kebijaksanaan, baik mengenai
data-data maupun hasil kegiatan-kegiatan yang selama ini dikerjakan. Sungguh
mengecewakan bahwa dalam era Reformasi sekarang ini masih banyak pejabat di Kantor
MENLH dan Bapedal mempunyai cara berpikir pola orde baru yang memberikan kesempatan
KKN berkembang subur. Kami membaca gejala ini dan berupaya mempersatukan organisasi
ini agar dapat berjalan dalam kebersamaan, kompak, dan memiliki "esprit de corps",
bukan saja sebagai Bapedal tetapi sebagai Kantor MENLH/Kepala Bapedal.
3. Selama ini, beberapa pejabat dan staf cenderung membuat kotak masing-masing, tidak
merasa memiliki organisasi tersebut, dan bahkan cenderung merasa bahwa organisasi
adalah bagian perusahaan milik sendiri, dan mengabaikan adanya satu pimpinan yaitu
MENLH/Kepala Bapedal.
4. Berbagai program andalan menjadi kontroversial dan menjadi sumber dari tumbuh
suburnya kolusi, korupsi, dan nepotisme. Pihak luar memandang bahwa Prokasih dan
Proper Prokasih selama ini berhasil misalnya, dan mandeg pada masa kami menjabat.
Kenyataannya memperlihatkan bahwa Kali Cipinang di muka hidung kami saja masih kotor,
banyak sampah dan tidak layak berada di lingkungan Kantor kami.
5. Mengenai tanah galian Mass Rapid Transport (MRT) dari Singapura, Sudara Sarwono
membolehkan masuknya tanah galian tersebut ke Indonesia dan memberikan rekomendasinya,
tetapi ikut pula dia menuduh kami memasukkan limbah B3; padahal kami hanya memperkuat
rekomendasi yang telah ia berikan kepada dua perusahaan yaitu PT Madya Kertaraharja
dan PT Asihnusa Putra Sekawan.
6. Program lain adalah Adipura, yang banyak mengundang kecurigaan berbagai kalangan,
termasuk terjadinya praktek KKN di kalangan para pejabat penilai Adipura dan pejabat
yang kotanya dimenangkan. Banyak kota yang memenangkan Adipura terlihat bersih pada
saat-saat penilaian, tetapi kembali kotor di saat lain. karena itu, program Adipura
ini sedang dievaluasi kembali dan akan ditingkatkan sistemnya, misalnya penilaian
dilakukan secara permanen sepanjang tahun.
Saudara-saudara,
Keadaan "kacau" yang ditinggalkan Saudara Sarwono ini, menjadi tugas kami bisa menjadi
ringan dan bisa menjadi berat. Pilihan pertama, tugas kami menjadi ringan apabila kami
meneruskan pola lama yang menimbulkan pengkotak-kotakan dan pengkavlingan sementara
kami mengambil keuntungan dari keadaan itu, tetapi organisasi Bapedal dan budaya
kerjanya tidak akan pernah menjadi sehat. Pilihan kedua adalah pilihan yang telah kami
ambil, dengan segala konsekuensi tugas kami disabot dan pejabat kunci tidak mau
bekerjasama dan mendukung kami karena sudah keenakan dengan pola lama. Akibatnya,
selama setahun pertama praktis kami mengalami banyak kesulitan sampai kami berhasil
mempersatukan Kantor MENLH/Bapedal dan "menyingkirkan" pejabat-pejabat yang cenderung
tidak mau bekerjasama.
Dapat dipahami mengapa kinerja kami ke luar tidak terlalu nampak, karena selain memang
disabot, kami sibuk dengan pembenahan ke dalam selama tujuh bulan terakhir. Apa yang
telah kami lakukan mudah-mudahan akan menguntungkan bagi pengganti kami kelak, karena
sistem yang berlandaskan tertib administrasi, keterbukaan, kebersamaan, dan
kekeluargaan sudah kami rintis pengembangannya dan belajar kembali untuk membuat bahan
Nota Keuangan dan Rencana Kerja, baik berupa Daftar Usulan Kegiatan (DUK) maupun
Daftar Usulan Proyek (DUP) untuk tahun 2000/2002, dengan mengutamakan daftar urutan
prioritas yang bersumber dari hasil-hasil Rakornas II Pengelolaan Lingkungan Hidup
berupa Kebijaksanaan Nasional dalam pengelolaan lingkungan hidup dan dilandasi
Undang-Undang nomor 22 Tahun 1999, Undang-Undang nomor 25 Tahun 1999, dan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997.
Demikian pula mengenai perencanaan jangka panjang, menengah, dan tahunan. Kami telah
menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional kedua Pengelolaan Lingkungan Hidup yang
dihadiri oleh seluruh pihak (stakeholders) termasuk beberapa LSM terkemuka. jadi
Rakornas ke-II PLH yang lalu bukanlah Rakornas MENLH/Kepala Bapedal, tetapi adalah
Rakornas kita semua. Salah satu hasil Rakornas yang penting adalah program pengelolaan
lingkungan hidup lima tahun mendatang yang bukan merupakan hasil kami tetapi merupakan
hasil para peserta. kami berharap hasil Rakornas tersebut juga akan menjadi masukan
bagi penyusunan GBHN 2000 dan rencana jangka menengah pemerintah yang baru.
Semua langkah yang telah kami ambil ini adalah langkah yang disesuaikan dengan
semangat reformasi yang diperuntukkan bagi kebaikan lembaga Kantor MENLH/Bapedal ke
depan yang akan dimpimpin oleh Menteri baru dan bukan untuk kami pribadi. Kami
berharap agar upaya yang telah kami lakukan akan dapat berbuah pada masa Kabinet
mendatang hasil Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999.
Itulah sepotong kutipan (persis seperti adanya) dari sambutan Panangian Siregar.
Silahkan mengomentasi demi kebaikan lingkungan hidup Indonesia, kebenaran, dan
kejujuran.
Salam,
Harry Surjadi
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/