numpang tanya, ini pidato atau caci-maki. rasanya yang kayak beginian ini
sampah yang tidak ada gunanya dibaca. fakta membuktikan.....

salam,
mh
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
To: recipient list not shown: ; <recipient list not shown: ;>
Date: Tuesday, September 28, 1999 5:16 PM
Subject: [lingkungan] pidato pelantikan Wakil Kepala Bapedal


>Teman-teman anggota mailing list Lingkungan, saya kutipkan sepotong
pidatonya Menteri Lingkungan Hidup Panangian Siregar saat melantik Prof Dr
Ir Hadi Alikodra tanggal 27 September 1999. Setelah itu saya membuka
komentar dari teman-teman sekalian.
>
>Dikutip persis dari naskah pidato Panangian Siregar (halamn 4-8):
>
>Alinea ketiga, halaman 4:
>
>Sejak saya menerima jabatan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal
hingga kini, saat Kabinet reformasi Pembangunan akan berakhir, saya telah
mendapat banyak tantangan dan kritikan dari berbagai kalangan, khususnya
lembaga swadaya masyarakat, dan individu termasuk salah satu sejawat
pendahulu saya yaitu Saudara Sarwono Kusumaatmadja. Sebagian kecil media
massa yang memiliki tiras cukup besar juga secara a priori senantiasa
menyampaikan berita yang jelek mengenai saya, dalam pelbagai kesempatan yang
dimungkinkan. Adanya hak jawab tidak selalu efektif karena hak jawab kami
selalu disajikan dalam kolom yang berbeda seperti surat pembaca dan sikap a
priori sebagian kecil media massa yang sudah a priori tersebut.
Berita-berita mengenai kami tidak disajikan secara berimbang dan cenderung
menonjolkan hanya kelemahan-kelemahan, memojokkan, menghujat, sementara
kinerja kami sama sekali tidak ditonjolkan. Karena itu, selama ini kami
memandang tidak bermanfaat dan hanya membuang energi apabila kami menanggapi
kritikan-kritikan yang tidak mendasar, bersifat a priori, tidak obyektif,
lebih banyak bohongnya, dan hanya dimanfaatkan lebih hanya sebagai komoditas
politik. Kami memilih tetap bekerja, terutama melakukan pembenahan internal
organisasi karena tidak banyak orang yang tahu bahwa organisasi internal,
khususnya Bapedal, sangat rapuh dan kacau. Kekacauan ini merupakan warisan
Saudara Sarwono Kusumaatmadja selama lima tahun masa jabatannya sebagai
MENLH/Kepala Bapedal.
>
>Selama ini, Saudara Sarwono yang selalu melancarkan kritikan dan bahkan
penghinaan kepada kami dengan mengatakan bahwa kami tidak berbobot, bodoh,
dan tidak pantas menjadi MENLH/Kepala Bapedal. Padahal menurut hemat kami,
Saudara Sarwono sendirilah yang tidak layak menjadi MENLH/Kepala Bapedal
dengan alasan-alasan sebagai berikut:
>
>1. Bnyak (sic) pihak yang mengetahui betul bahwa Saudara Sarwono senantiasa
mengalami kegagalan, baik sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara (PAN), dan apalagi sebagai MENLH/Kepala Bapedal. Karena tidak
berhasil sebagai MENPAN, maka mantan Presiden Soeharto memindahkan Saudara
Sarwono ke Kantor MENLH/Bapedal yang ternyata malah lebih keliru.
>
>2. Bapedal ditinggalkan dalam keadaan kacau akibat dibiarkannya Bapedal
terkotak-kotak, jalan sendiri-sendiri antar unit, agar tidak kompak dan
mudah dikuasai. Akibatnya, pengganti Saudara Sarwono mendapat kesulitan
dalam melaksanakan tugas sebagai MENLH/Kepala Bapedal karena terus-menerus
disabot oleh staf yang setia kepada Saudara Sarwono sampai waktu yang cukup
lama yaitu 8 bulan.
>
>   Dalam hal ini, kami harus memberanikan diri untuk mengambil tindakan
untuk memecat mereka-mereka ini dari jabatannya demi untuk keselamatan dan
berjalannya kembali Kantor MENLH/Bapedal secara normal. Selama 8 bulan kami
terus disabot, tidak diberi bahan-bahan yang diperlukan oleh pimpinan dalam
membuat kebijaksanaan, baik mengenai data-data maupun hasil
kegiatan-kegiatan yang selama ini dikerjakan. Sungguh mengecewakan bahwa
dalam era Reformasi sekarang ini masih banyak pejabat di Kantor MENLH dan
Bapedal mempunyai cara berpikir pola orde baru yang memberikan kesempatan
KKN berkembang subur. Kami membaca gejala ini dan berupaya mempersatukan
organisasi ini agar dapat berjalan dalam kebersamaan, kompak, dan memiliki
"esprit de corps", bukan saja sebagai Bapedal tetapi sebagai Kantor
MENLH/Kepala Bapedal.
>
>3. Selama ini, beberapa pejabat dan staf cenderung membuat kotak
masing-masing, tidak merasa memiliki organisasi tersebut, dan bahkan
cenderung merasa bahwa organisasi adalah bagian perusahaan milik sendiri,
dan mengabaikan adanya satu pimpinan yaitu MENLH/Kepala Bapedal.
>
>4. Berbagai program andalan menjadi kontroversial dan menjadi sumber dari
tumbuh suburnya kolusi, korupsi, dan nepotisme. Pihak luar memandang bahwa
Prokasih dan Proper Prokasih selama ini berhasil misalnya, dan mandeg pada
masa kami menjabat. Kenyataannya memperlihatkan bahwa Kali Cipinang di muka
hidung kami saja masih kotor, banyak sampah dan tidak layak berada di
lingkungan Kantor kami.
>
>5. Mengenai tanah galian Mass Rapid Transport (MRT) dari Singapura, Sudara
Sarwono membolehkan masuknya tanah galian tersebut ke Indonesia dan
memberikan rekomendasinya, tetapi ikut pula dia menuduh kami memasukkan
limbah B3; padahal kami hanya memperkuat rekomendasi yang telah ia berikan
kepada dua perusahaan yaitu PT Madya Kertaraharja dan PT Asihnusa Putra
Sekawan.
>
>6. Program lain adalah Adipura, yang banyak mengundang kecurigaan berbagai
kalangan, termasuk terjadinya praktek KKN di kalangan para pejabat penilai
Adipura dan pejabat yang kotanya dimenangkan. Banyak kota yang memenangkan
Adipura terlihat bersih pada saat-saat penilaian, tetapi kembali kotor di
saat lain. karena itu, program Adipura ini sedang dievaluasi kembali dan
akan ditingkatkan sistemnya, misalnya penilaian dilakukan secara permanen
sepanjang tahun.
>
>Saudara-saudara,
>
>Keadaan "kacau" yang ditinggalkan Saudara Sarwono ini, menjadi tugas kami
bisa menjadi ringan dan bisa menjadi berat. Pilihan pertama, tugas kami
menjadi ringan apabila kami meneruskan pola lama yang menimbulkan
pengkotak-kotakan dan pengkavlingan sementara kami mengambil keuntungan dari
keadaan itu, tetapi organisasi Bapedal dan budaya kerjanya tidak akan pernah
menjadi sehat. Pilihan kedua adalah pilihan yang telah kami ambil, dengan
segala konsekuensi tugas kami disabot dan pejabat kunci tidak mau
bekerjasama dan mendukung kami karena sudah keenakan dengan pola lama.
Akibatnya, selama setahun pertama praktis kami mengalami banyak kesulitan
sampai kami berhasil mempersatukan Kantor MENLH/Bapedal dan "menyingkirkan"
pejabat-pejabat yang cenderung tidak mau bekerjasama.
>
>Dapat dipahami mengapa kinerja kami ke luar tidak terlalu nampak, karena
selain memang disabot, kami sibuk dengan pembenahan ke dalam selama tujuh
bulan terakhir. Apa yang telah kami lakukan mudah-mudahan akan menguntungkan
bagi pengganti kami kelak, karena sistem yang berlandaskan tertib
administrasi, keterbukaan, kebersamaan, dan kekeluargaan sudah kami rintis
pengembangannya dan belajar kembali untuk membuat bahan Nota Keuangan dan
Rencana Kerja, baik berupa Daftar Usulan Kegiatan (DUK) maupun Daftar Usulan
Proyek (DUP) untuk tahun 2000/2002, dengan mengutamakan daftar urutan
prioritas yang bersumber dari hasil-hasil Rakornas II Pengelolaan Lingkungan
Hidup berupa Kebijaksanaan Nasional dalam pengelolaan lingkungan hidup dan
dilandasi Undang-Undang nomor 22 Tahun 1999, Undang-Undang nomor 25 Tahun
1999, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997.
>
>Demikian pula mengenai perencanaan jangka panjang, menengah, dan tahunan.
Kami telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional kedua Pengelolaan
Lingkungan Hidup yang dihadiri oleh seluruh pihak (stakeholders) termasuk
beberapa LSM terkemuka. jadi Rakornas ke-II PLH yang lalu bukanlah Rakornas
MENLH/Kepala Bapedal, tetapi adalah Rakornas kita semua. Salah satu hasil
Rakornas yang penting adalah program pengelolaan lingkungan hidup lima tahun
mendatang yang bukan merupakan hasil kami tetapi merupakan hasil para
peserta. kami berharap hasil Rakornas tersebut juga akan menjadi masukan
bagi penyusunan GBHN 2000 dan rencana jangka menengah pemerintah yang baru.
>
>Semua langkah yang telah kami ambil ini adalah langkah yang disesuaikan
dengan semangat reformasi yang diperuntukkan bagi kebaikan lembaga Kantor
MENLH/Bapedal ke depan yang akan dimpimpin oleh Menteri baru dan bukan untuk
kami pribadi. Kami berharap agar upaya yang telah kami lakukan akan dapat
berbuah pada masa Kabinet mendatang hasil Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999.
>
>Itulah sepotong kutipan (persis seperti adanya) dari sambutan Panangian
Siregar. Silahkan mengomentasi demi kebaikan lingkungan hidup Indonesia,
kebenaran, dan kejujuran.
>Salam,
>Harry Surjadi
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke