Dulu waktu saya masih kuliah , saya malah merasa seperti kembali dari awal lagi... kebutulan saya kerja dulu baru kuliah ... sebetulnya banyak hal dasar yang terkadang kita ini menganggap remeh/sepele kemudian melupakan. pada saat itu banyak sekali rekan - rekan asisten dosen merasa tertekan juga dengan pola mengajar dosen yang kalau dirasakan dari tahun ke tahun sama sehingga sebetulnya cukup pinjam buku rekan yang duluan pasti sama nanti waktu praktek gitu juga (sama plek !) jadi nggak ada pengembangan pola berpikir.
Dan saat ini dengan mulai digerakkannya desentralisasi institusi seharusnya yang mulai dirubah adalah pola pengajaran para dosen , sehingga tidak perlu pengubahan kurikulum itu , kemudian dilanjutkan dengan pengembangan berpikir mahasiswa yang dipacu oleh sang dosen. Sebagai contoh saya dulu ada matakuliah Arsitektur Sistem Komputer (kebetulan saya ambil fak Elektro jadi nggak apa apa yach urun rembuk di fak Informatika) oleh dosen yang di ajarkan adalah infrastruktur PDP-11 (saya sendiri sampai saat ini belum pernah lihat alat ini kayak apa !) , saya merasa waktu itu senang - senang aja tapi pada kenyataannya nggak ada tuh gunanya mempelajari ...(maafkan saya bapak dosen yang terhormat sungguh bukan maksud saya menjelekkan atau benci --- tapi ini demi pengembangan, walau saat itu diberi nilai A) ... ya itu tadi PDP-11 saya tidak pernah tahu barang nya. Bagaimana kalau seharusnya (ini pikiran saya lho!) dengan mata kuliah yang sama tapi oleh dosen di ajarkan secara konsep semua sistem komputer, dan untuk mahasiswa harus dibiarkan untuk mempelajari secara mendalam , bentuk kelompok , tugaskan kelompok A untuk Intel , kelompok B untuk IBM dan lainnya buat karya tulisnya diskusikan adu argumentasikan , sehingga IP yang di dapatkanpun bukan njiplak atau hasil plagiat (hal ini yang rasanya paling santer saya denger di dunia pendidikan kita) sungguh memuaskan ....dan saya rasa waktu empat tahun setengah dengan mata kuliah saat ini , kita mau rubah Indonesia jadi kayak apa rasanya mudah ... Jadi kesimpulan yang bisa saya ambil adalah : Kalau memang kita kesulitan mengubah kurikulum karena nabrak tembok tujuh lapis, gimana kalau dimulai dengan pola pengajaran dosen, wong sudah terbukti pak Onno melakukannya di ITB apakah Bapak di tahan ??? atau di asingkan ??? tidak khan .. (tapi apa memang iya cerita donk pak ) jadi kenapa tidak diteruskan saja dan juga mulai dikembangkan oleh kampus - kampus yang lainnya...(attn : para Bapak Dosen yang terhormat) saya memimpikannya kalau kampus - kampus kita jadi Taman Bermain dan Belajar bukan lagi tempat eksklusif untuk sekedar mendapatkan gelar ... kata Kang Aa .. titel itu mah topeng ... walau penting buat cari kerja Makasih Rudy > waktu saya masih menjadi dosen di ITB > pola belajar sambil bermain yang saya terapkan > dengan membentuk computer network research group > di mana anak-anak di lindungi supaya > bisa main 24 jam dll .. > > hasilnya yah lumayan lah > mereka banyak yang sekarang sudah jadi orang .. > bisnisnya engga tahu deh dah berapa milyard duit yang diputer .. > mereka juga banyak menghasilkan buku-buku dll .. > jauh lebih baik daripada yang sekedar menimba ilmu di kelas > > cuma ya pola Onno ini kan engga standar dengan DIKNAS > & Onno ini juga di kenal sebagai pembrontak & berani > ngelawan atasan :) .... > -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

