Baru baca BusinessWeek terbaru, dimana untuk kasus Media Player saja, EU yang turun.
Hebatnya, seberapapun besarnya uangnya Microsoft biasa bayar, wow, power of capitalism.
Saya rasa saat ini dengan kasus Microsoft dan EU, mustinya Indonesia mengambil hikmah, bahwa untuk melawan Microsoft itu bukan dari kita yang bekerja di IT, tetapi negara.
Emang dengan negara ini 100% Microsoft, kita akan bisa jadi player di Asia Pasific? Invest aja ngga disini tuh Microsoft, lupain deh. Saya malah lebih tertarik negara yang aman, dan bisa export ikan marlin atau tuna merah. Dan power by free software.
Maklum mustinya kejadian KPU tidak terulang lagi. :) Sejarah buruk yang maklum yang ikutan bukan pakar tetapi 'pakar'. Sepertinya ngga refer sama eropa nih negara :( voting system di Eropa kan katanya udah open source, :) dan dimulai dari German. CMIIW.
Juga, setelah saya pikir2, Sebenarnya negara ini tidak perlu Windows bahasa Indonesia, karena tulisan kita menggunakan abjad, untuk negara seperti Thailand, Korea, China, Jepang memang perlu, tetapi untuk apa negara ini. Apakah sedemikian bodohnya negara ini, sehingga harus menghafal semua menu bahasa inggris yang sudah ada, aja sulit. Versi bahasa China, Korea, emang jelas perlu, karena disana kan buat surat resmi pakai kata-kata yang seperti jahe, disini sudah ada. Wong saya aja udah 12 tahun dengan program bahasa inggris ngga masalah. Katanya mau export orang, tetapi kok pake bahasa Indonesia.
Sebab menurut saya solusi tidak ada habisnya, inovasi akan ada terus, selagi negara ini masih berpikir, kita ngga kalah.
Frans
-- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

