Kebetulan baru baca artikel (dapet link dr /.), jadi inget thread ini. Sekedar nambahin aja. Artikelnya ada di sini: http://www-106.ibm.com/developerworks/linux/library/l-dbus.html?ca=dgr-lnxw07D-Bus
On Thu, Jul 08, 2004 at 04:25:48PM +0700, Priyadi Iman Nurcahyo wrote: > 1. KDE itu scriptable lewat DCOP (bisa shell script, perl atau > lainnya). Semua aplikasi KDE juga mendukung system notification yang > juga bisa menjalankan script GNOME juga punya Bonobo (CORBA), cuma lebih heavy katanya, sedangkan DCOP itu light. Tapi keduanya tied ke masing2, Bonobo teriket ke GNOME dan DCOP teriket ke KDE. D-BUS (lihat artikel di atas) ini the next iteration, maunya netral dan lebih baik lagi drpd DCOP dan Bonobo. > 2. KDE menjalankan aplikasi GNOME lebih baik daripada GNOME > menjalankan aplikasi KDE, misalnya terakhir saya jalanin k3b di > GNOME, trayicon-nya ngegantung di desktop, tapi menjalankan > gaim/gnomemeeting di KDE, trayiconnya bisa dikenal dengan baik K3b yg salah kok GNOME yg dicela :-) Saya jalanin KMail di GNOME tray iconnya gak masalah tuh, baik2 saja. Gaim juga baik hati kan di KDE bisa jalan dg baik, saya rasa justru karena GNOME-nya yg baik bisa bekerja sama dg KDE :-) > 4. feeling saya GNOME lebih banyak 'rough edges'-nya dibanding KDE, > misalnya pengalaman saya evolution lebih sering crash dibanding > kmail. Terus kioslaves KDE kelihatannya lebih mature dibanding GNOME > vfs (sorry contohnya lupa :)) 'rough edges' ini subjective banget ya, kalo saya justru merasa KDE itu yg lebih rough. GNOME buat saya lebih terasa smooth soalnya makin mengarah ke minimalist dan saya orgnya suka minimalistic dan tidak suka 'bloat'. Bukan berarti saya bilang KDE bloated dan GNOME tidak bloated loh. > 5. GNOME lebih susah dikonfigure, dikit2 harus edit sana sini di > gconf, misalnya untuk bikin metacity supaya bisa 'always raise > window' harus edit 'registry' (penting untuk nonton tv). Sebaliknya > di KDE semua setting konfigurasi diekpos di GUI. Misalnya lagi, > untuk configure toolbar, di KDE tinggal klik-kanan, di GNOME harus > masuk menu dulu, kadang2 malah gak bisa diconfigure Ya ini ada hubungannya dg prinsip minimalistic yg saya rasa dituju oleh GNOME. Mengubah setting2 yg cuma sekali seumur2 gak perlu dibuatin button atau GUI terpisah, kalo semua option dibuatin GUI config toolnya nantinya akan banyak clutter di mana2 yg justru bisa membingungkan karena dipenuhi dg options yg hampir tidak pernah disentuh2 lagi (cuma sekali seumur2). Yang penting masih bisa accessible dan tetap masih configurable, walaupun caranya agak merepotkan sedikit. Mengurangi clutter bisa meningkatkan intuitiveness, in turn meningkatkan usability. > 6. terlalu banyak feature yang ada di GNOME 1 tapi dihapus di GNOME > 2. Misalnya untuk assign shortcut di GNOME 1 tinggal buka menu, > highlight, terus tekan tombol shortcut-nya. di GNOME 2 sekarang > kelihatannya gak bisa lagi Ya itu, saya rasa tujuannya utk simplify, mengurangi clutter. Ide menyederhanakan ini debatable sih, kadang2 susah menentukan garis di mana yg terlalu menyederhanakan sehingga malah jadi "dumbing down" (e.g "A general error has occured. Please contact your administrator.", padahal anda sendiri adminnya). Butuh banyak research lah seperti ini, lihat aja Apple yg bermodal kan GUI-nya bisa halus dan konsisten gitu, dan arahnya simplification. Menurut saya tetap sampai saat ini utk desktop environment gak ada yg ngalahin Aqua-nya OS X deh, saya aja sampe sering curi2 pake PowerBook G4 temen di rumah (dan juga kadang pake iMac di lab kampus) utk sekedar memuaskan mata dan hati sejenak :-) Kadang sulit meninggalkan ego kita sejenak dan mengubah point of view kita sejenak dari power user menjadi regular user (yg beragam jenisnya), at least saya sendiri merasa begitu. Saya tetap menginstall baik GNOME dan KDE walaupun desktopnya pake GNOME, tapi aplikasinya saya butuh the best of both worlds. Pilihan saya pake GNOME bukan karena GNOME lebih baik dr KDE, tapi karena personal feeling aja (subjective) dan yg penting it works for me. Utk org lain dg sikon dan keperluan yg laen dr saya mungkin KDE lebih cocok, atau Fluxbox, atau XFCE, gak tau hehe. > -yangmaniakgnome1tapikecewadengangnome2- :) Ronny - Yang sudah berulang kali mencoba KDE (up to 3.3beta2) tapi tidak pernah teryakinkan utk convert :-)
pgpehxDsy55K1.pgp
Description: PGP signature

