On Saturday 31 July 2004 11:36, Ronny Haryanto wrote: > .... > D-BUS (lihat artikel di atas) ini the next iteration, maunya netral > dan lebih baik lagi drpd DCOP dan Bonobo.
betul, tapi inti saya waktu itu scriptabilitynya, bukan masalah arsitektur messagingnya... misalnya: $ dcop juk Player play -> mem-play juk $ dcop konsole-??? konsole newSession -> buka session baru di konsole > K3b yg salah kok GNOME yg dicela :-) > Saya jalanin KMail di GNOME tray iconnya gak masalah tuh, baik2 saja. > Gaim juga baik hati kan di KDE bisa jalan dg baik, saya rasa justru > karena GNOME-nya yg baik bisa bekerja sama dg KDE :-) saya gak tau mana yang salah mana yang bener, saya murni end user :) mungkin mas ariya lebih tahu hal ini... tapi bagus lah kalau di GNOME baru tray icon-nya sudah benar :) > 'rough edges' ini subjective banget ya, kalo saya justru merasa KDE > itu yg lebih rough. GNOME buat saya lebih terasa smooth soalnya makin > mengarah ke minimalist dan saya orgnya suka minimalistic dan tidak > suka 'bloat'. Bukan berarti saya bilang KDE bloated dan GNOME tidak > bloated loh. hmm iya.. saking minimalistnya saya kalau pakai GNOME dikit2 harus buka terminal, jadi pikir2 kalau gini caranya ngapain juga pakai desktop environment kalau gak ada nilai tambah dibanding pakai murni window manager, toh hampir semua app GNOME juga bisa dijalankan tanpa harus menjalankan desktop manager secara keseluruhan :) memang menurut saya KDE terlalu banyak setting, tapi menurut saya juga yang GNOME lakukan terlalu berlebihan :) rough edges yang saya maksud dalam hal stabilitas (misalnya kmail jauh lebih stabil daripada evolution), atau misalnya terakhir saya coba kpilot works on the first try tapi gnome-pilot harus dioprek habis2an sebelum jalan... > Ya itu, saya rasa tujuannya utk simplify, mengurangi clutter. Ide > menyederhanakan ini debatable sih, kadang2 susah menentukan garis di > mana yg terlalu menyederhanakan sehingga malah jadi "dumbing down" > (e.g "A general error has occured. Please contact your > administrator.", padahal anda sendiri adminnya). iya, ini yang saya lihat dari GNOME (bukan hal error message), terlalu menyederhanakan interface... akibat dumbing down ini jadi agak susah untuk kreatif dengan interface... > Kadang sulit meninggalkan ego kita sejenak dan mengubah point of view > kita sejenak dari power user menjadi regular user (yg beragam > jenisnya), at least saya sendiri merasa begitu. kesan saya GNOME itu lebih mementingkan memuaskan user baru yang pindah dari o/s lain dibanding memuaskan user base-nya yang sudah ada... setiap upgrade GNOME pasti aja ada hal-hal yang amat sangat benar-benar absolutely tidak sesuai harapan user-nya... untuk saya sendiri kejadiannya pada upgrade 1.4 ke 2.0 :) untungnya ada KDE 3, jadi saya gak perlu downgrade diri saya menjadi 'regular user' :) > > -yangmaniakgnome1tapikecewadengangnome2- :) > - Yang sudah berulang kali mencoba KDE (up to 3.3beta2) tapi tidak > pernah teryakinkan utk convert :-) yang berkali2 mencoba rilis GNOME sejak 2.0 sambil mengharapkan mereka 'kembali ke jalan yang benar' (menurut saya) :) -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

