***********************
No virus was detected in the attachment no filename

<< This mail is certified virus free >>
***********-***********


Teman-teman ...
Selama ini yang kita bincangkan adalah aspek teknis dari sebuah usaha
untuk memperkenalkan Open Source Software, ataupun Linux secara praktis-
nya. Kesulitan disekolah-sekolah, ataupun masyarakat pada umumnya, dan
iming-iming pembuat software raksasa seperti M$ untuk masyarakat.

Kiranya, sudah ada study-banding yang dilaksanakan oleh para aktivis-
linux di negeri kita apa belum. Peninjauan ini selayaknya dilakukan
oleh rekan-rekan pengguna linux dan mempunyai latar belakang sosiologi
ataupun psikologi, atau ilmu-ilmu yang berhubungan langsung dengan
masyarakat seperti diatas itu.

Jadi, mereka-mereka yang menjadi anggota KPLI se-Indonesia, seharusnya
ada juga yang mempunyai latar belakang bukan rekayasawan (engineer). 
Sehingga penetrasi teknologi sampai pada masyarakat luas.

Finlandia, misalnya, salah satu departement Sosiologi dari Turku School
of Economics & Business Administration, turun ke Afrika untuk mencari
sebab-sebab dan cara mengatasi 'digital-balance' dengan salah satunya 
penerapan sumber-terbuka (open-source) pada salah satu masyarakat
disana.

Nah, quo vadis Indonesia dengan sumber-terbuka ini ? 
Dengan menilik kasus yang berhasil pada SMA 81 (maaf kalau salah, mohon
koreksi) seharusnya kita bisa menarik pelajaran dari situ. Faktor apa
yang menunjang usaha ini berhasil, bagaimana situasi (environment) hal
tersebut menjadi berhasil. Sebaliknya, pada sekolahan atau tempat yang
belum dicoba, dapat pula dianalisa sehingga menampakan hasil yang baik
dengan menerapkan metoda yang sesuai. 

Siapakah yang akan melakukan hal ini ... ?
Adakah KPLI mempunyai dana untuk itu ? 
Saya dengar dulu ada Indonesia Linux Incorporated Corporated ... 
Sampai dimana itu ya, atau ... Yayasan Linux Indonesia
Apakah bisa mendanai semacam penelitian seperti ini bekerja sama dengan
perguruan tinggi yang mempunyai jurusan sosiologi, psikologi, ... dst.
Saya secara pribadi mempunyai cukup kenalan dengan rekan-rekan peneliti
di UNPAR dan UNPAD, kedua-duanya ada di Bandung. 
Kalau memerlukan bantuan saya untuk studi seperti itu, tentunya akan
sangat membantu penetrasi linux dan sumber terbuka di Indonesia.

Ada tanggapan ?

Salam
++ pit ++



On Mon, 2005-02-28 at 10:31 +0100, Made Wiryana for Mailing List wrote:
> ***********************
> No virus was detected in the attachment no filename
> 
> << This mail is certified virus free >>
> ***********-***********
> 
> 
> On Mon, 28 Feb 2005, Basuki Winoto wrote:
> 
> > > 
> > > Pimpro peduli apa prosennya, nggka peduli ama lain-lainnya
> > > 
> > > hi hi hi hi 
> > > IMW
> > > 
> > *makin OOT* horeeee.. hidup pimpro!
> 
> Yop buat pimpro paling peduli ya ama prosennya itu :-)
> 
> > btw, gara-gara linux terlalu sering diasosiasikan dengan free of charge 
> > (bukannya freedom) makanya pimpro-pimpro pasti mikir dua kali buat make 
> > linux. gimana ga mikir, wong dijanjiin "bagi hasil" sampai 99% pun nilai 
> > nominalnya tetep gratis :D
> 
> Ada lagi kalo ke sekolah-sekolah langsng di tembak, kalau saya pakai Linux 
> saya bisa disumbang apa ??? soalnya kalau saya pake X sekolahan saya 
> disumbang ini itu ini itu
> 
> IMW
> 



-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke