Bapak-bapak dan Pinguin Merah Yth. Pernyataan Anda sangatlah menarik sekali, sudah seharusnya untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah Indonesia. Bagi saya dominasi aplikasi A atau B itu tidak penting, tetapi apakah dengan adanya IGOS akan membuat mata masyarakat yang tadinya belum mengenal teknologi informasi, mengenal terlebih dahulu. Ini tugas pemerintah sebagai pen-trigger-nya. Mengapa demikian, contohnya pemerintahan di Cina, dimana sukses mengurangi angka penggunaan software illegal, mencontohkan kepada masyarakat sehingga masyarakat pun mengikuti contoh yang baik tersebut.
Apabila IGOS berhasil maka sudah selayaknya masyarakat yang telah mengenal teknologi khususnya penggunaan software ilegal, MELEK, dan malu. Tetapi dukungan IGOS tidak semata dukungan pemerintah dan masyarakat saja, tetapi sudah seharusnya banyak perusahaan teknologi mendukung IGOS sebagai sistem yang murah dan terbuka dan mendorong pemerintah bersama-sama untuk sadar bahwa kita ini kondisinya kekurangan uang, uang yang ada bisa digunakan untuk pengembangan dunia pendidikan membantu orang-orang kelas bawah yang belum mengenal teknologi dapat maju dengan teknologi, khususnya teknologi informasi. Salam, Ian A. Setiawan On 1/16/07, Ngakakpol <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--cut-- > Pak Narendro dan kawan2 PINGUIN MERAH Yth, > Saya mendukung pernyataan anda sekalian. > Lanjutkan perjuangan demi kemajuan ICT di Indonesia, kebebasan Indonesia > pada pilihan teknologi, kemandirian teknologi dan finansiil dan kebebasan > Masyarakat Indonesia pada umumnya. Jangan sampai Rakyat Indonesia jadi > sapi perahan asing dan dominasi teknologi dan ekonomi oleh pengusaha2 > asing. Menurut saya, Di Indonesia, Microsoft besar atas jasa para toko dan penginstall komputer.. paling tidak lebih dari 20 tahun mereka selalu menginstall OS Windows di setiap PC yang dijual.. tanpa paksaan, dan mereka belajar utk itu.. itu adalah sebuah long trip bagaimana sebuah produk bisa menyebar dan digunakan oleh banyak orang/pihak.. termasuk di pemerintahan.. Sekarang mereka (toko komputer) sebagai ujung tombak promosi.. pilihannya seperti apa? mereka lebih milih jual "kosongan" atau install linux? atau malahan install windows legal? atau malah masih kucing2an..?? Kalo FOSS emang mudah bagi mereka.. tentu mereka akan gencar install linux?? tp sepertinya bukan masalah mudah ato murah aja.. ini masalah pasar.. dan demand... kenapa tidak dimulai dari sana?? mungkin masih inget temen2 apkomindo (asosiasi pengusaha komputer indonesia) bikin CD yang isinya linux.. kabarnya bagaimana sekarang?? Akar persoalannya seperti apa? Road mapnya spt apa? Risk management ada tau tidak? perlu atau tidak.. Untung ruginya apa? harus terdokumentasi dengan jelas.. buka hanya basa-basi atau kata2.. nanti kalo migrasi gagal, siapa yang bertanggung jawab.. begitu seterusnya.. Salam, cahyo -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis
-- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

