2009/6/13 Resza Ciptadi <[email protected]> > > 2009/6/13 Resza Ciptadi <[email protected]> >> >> >> 2009/6/13 dedy hariyadi <[email protected]>: >> On 6/13/09, Asri Rachman <[email protected]> wrote: >> Orang indonesia sepertinya banyak yang mengartikan kata "free" sebagai >> "gratis", bukan "bebas", itu juga sebanyak ada yg mengatakan os linux >> itu os murahan (pendapat saya mohon jangan dianggap ingin membuat >> flame di milis ini ya). > Pendapat saya Linux itu murah dan mudah didapat alias terjangkau. :) > Selain itu juga tetap berkualitas.
:), Urun rebug ded, rasanya premis diatas tidak bisa diterapkan d masyarakat secara luas/umum bukan hanya di Indonesia tapi secara universal. Dalam kontek kepercayaan d dunia bisnis tentu yang lebih dianut : "Kualiatas setara dengan harga". Urusan bisnis bukan tidak bisa di campurkan dengan FOSS tapi menuruk ku kita memposisikannya agak kurang pas selama ini. Dalam perspektif orang awam tanpa pengorbanan tentu kita tidak dapat mendapatkan sesuatu yang baik, transaksional disini sifatnya kepercayaan penting dan harus. Contoh yang paling mudah gini, kalo ada wanita cantik trus situ bilang : "Dik kita jalan yah saya mencintaimu *gombal mode*, tapi ga usah nikah(kumpul kebo) " pasti kalo dia wanita baik2 saat itu juga situ ditinggal karena dianggap main2 dan tidak serius, beda kalo situ bilang : "Dik kapan saya bisa ketemu bapak saya mo menikahi mu", nah nikah adalah transaksi/akad yang mana ada pengorbanan imbal balik(mas kawin) meskipun mungkin sangat sederhana. Nah ini ada di persepsi secara umum kalo gratis(kumpul kebo) pasti si laki2 memang niatnya jelek, sedangkan kalau nikah paling tidak niatnya baik (masalah nanti ada yang melakukan kekerasan lain lagi * btw kekerasan dalam rumah tangga bukannya memang perlu..., kalo ga keras piye :-P -- opo ne sing keras kui *). Intinya pada tahap tertentu kita harus flexible untuk dapat memberi manfaat pada lapisan lebih luas, toh FOSS ada karena semangat memberi manfaat dan berbagi. Namun terkadang manfaat untuk kebanyakan orang baru bisa mereka nikmati pada level bahasa dan perpektif kebanyakan orang, so masa kita mau jadi tidak bisa dimanfaatkan mereka yang memang tidak tertarik dengan ilmu komputer(FOSS movement adalah gerakan pembebasan ilmu komputer) tapi memerlukan komputer dalam hidup mereka. Nah mereka ini adalah sebagian besar dari masyarakat yang tidak mengetahui kenapa mereka harus melakukan pengecekan antivirus dan defrag secara rutin. Nah disini lah sebenarnya FOSS bisnis berperan. Dan dalam bisnis kita harus berbicara bahasa yang mereka pake, FOSS yang "free" (bebas) merupakan kata yang hostile d dunia ini(bisnis, red). Maka selain bisnis FOSS dipelatihan dokumentasi dan lain2 bila masuk k produk kita akan dituntut untuk mengemasnya secara bisnis, makannya kita sering sekali ketemu sama double license, bah kan Stallman yang sekeras kepala itu pun harus "mengalah" dengan menerbitkan LGPL(semata2 agar Freedom bisa lebih luas bermanfaat). Sudah dua kali ini saya dianggap memakai cisco padahal unutk kebutuhan jaringan saya percayakan dari dulu sama pc router/firewall linux, pertama dulu masih pake RH 6.2 di P1, tapi yang kemaren di ubuntu server saya bener2 liad karena screen shootnya dikirim ketika ada masalah. http://img189.imageshack.us/img189/6830/wireshark.jpg pertanyaan pun timbul apakah cisco yang di jual ribuan $ memakai infrastruktur yang FOSS(kernel linux)? bila ya berarti ini salah satu bisnis Linux, selain pelatihan dan tulis menulis. IMHO toh pada dasar nya dia menggunakan Linux. Di sebuah peruahaan yang bergerak di bid finansial Linux adalah main dari core bisnis mereka ini juga menurut ku membuat mereka berbisnis Linux menurut ku meski ke customer menawarkan nya produk2 finansial -- Resza -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

