Wah, lengkap sekali penjelasan Pak Eko. Info yang bagus sekali tuk kita ketahui bersama. Thx ya.
Ricky Sent from my Nokia phone -----Original Message----- From: eko hermiyanto Sent: 14/06/2009 13:40:52 Subject: Re: [linux-aktivis] Bisnis Open Source was Mental Gratisan? Saya setuju dengan opini mas Resza. Saya hanya ingin sedikit menambahi. Mungkin banyak diantara kita yang belum begitu mengerti(termasuk saya sendiri belum juga begitu mengerti) mengenai konsepsi Open Source dan Closed Source, Free Software dan Proprietary Software. Sepanjang yang saya tahu Free Software itu sepenuhnya mengenai kebebasan dalam menggunakan, membaca, memodifikasi, dan mempelajari program komputer. Oleh karena ini, Free Software lebih menekankan dirinya sendiri ke arah filsafat hidup. Proprietary Software adalah kebalikan dari Free Software. Sedangkan Open Source pada mulanya hanyalah sebagai pengganti kata Free Software karena kata Free itu dalam bahasa Inggris bisa berarti bebas dan gratis. Sedangkan kata gratis ini dipandang anti-bisnis. Sehingga bila menggunakan kata Open Source dan bukannya Free Software, maka akan terbebas dari anomali arti gratis. Dalam perkembangannya Open Source lebih ditekankan sebagai teknik pengembangan software daripada filsafat(lihat dokumentasi Slackware mengenai Open Source). Mengikuti proposisi-proposisi diatas maka konsekuensi yang timbul adalah: 1. Bila saya adalah pecinta Free Software, maka seharusnya saya memahaminya sebagai sebuah tata cara dan tata pandang hidup dalam melakukan kegiatan komputasi. Saya mencintainya karena Free Software memungkinkan saya mempelajari program komputer, memodifikasinya bila perlu, mengembangkannya bila mau, dan menggunakannya dalam kondisi apapun dan dimanapun bila sesuai. 2. Yang kedua, bila saya adalah pecinta Open Source, maka saya boleh tidak peduli dengan apakah Free Software. Yang penting adalah methodology dalam pengembangan program komputer, yaitu methodology Open Source. Apakah software yang dihasilkan seluruhnya boleh dimodifikasi atau tidak, yang penting kodenya orang lain bisa baca(orang bisa membaca kode suatu program tidak berarti orang tersebut boleh memodifikasinya). Bila dalam program yang saya tulis terdapat kode-kode proprietary tidaklah masalah(dalam Linux terdapat kode-kode seperti ini, sedangkan program-programnya GNU Project tidaklah terdapat kode-kode semacam ini) Sedangkan dari segi bisnis, maka ada dua sudut pandang: 1. bisnis yang berhubungan dengan software secara langsung, Dalam kebanyakan kasus, memproduksi software Proprietary jauh lebih menguntungkan daripada Free Software(sebagaimana Microsoft, Adobe, dan industri software lainnya) dengan pengecualian bahwa software yang kita produksi hanyalah sebagai nilai jual tambahan untuk hardware yang kita jual(seperti SUN Microsystem). 2. bisnis yang memanfaatkan software Dalam kontek ini, sebuah entitas bisnis akan selalu memilih produk-produk dengan total cost yang lebih rendah sedangkan kualitasnya bagus. Produk-produk ini baik itu Proprietary, Free Software, Open Source, ataupun Closed Source tidaklah penting, yang penting adalah murah dan bagus. Dengan hormat, Eko Hermiyanto -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

