paling enak memang membaca lisensi GPL-nya. kalau udah ngutak ngatik di level source code menang harus turun menurun jadi GPL.
tapi kalau dengan cara lain seperti dijelaskan disini: http://www.gnu.org/licenses/gpl-faq.html#GPLAndPlugins bisa jadi dianggap aplikasi terpisah juga sebenarnya sih. 2010/2/3 ahmad haris <[email protected]>: > On Wed, 2010-02-03 at 11:21 +0700, Donny Kurnia wrote: >> Satu hal lagi yang saya terlupa menulisnya, orang yang menerima karya >> kita, tidak bisa menghilangkan kebebasan dari karya tersebut, misalnya >> dengan mengganti lisensi, atau menyebarluaskan tanpa source code. Ini >> juga hal penting. Beberapa perusahaan besar sudah ada yang dituntut >> karena mengambil kode GPL ke dalam produk mereka yang lisensinya tidak >> sesuai dengan GPL. > > Jadi punya pertanyaan nih saya. > Misal (maaf kalo percontohannya salah), > > Saya membuat sebuah produk web based dengan menggabungkan cms Wordpress. > Otomatis wordpressnya memang sudah dikustomasisasi. Dan setahu saya, > wordpress tersebut GPL juga. > > Apakah produk saya tersebut juga harus GPL? Karena GPL sifatnya kan > menurun. > > > -- > Berhenti langganan: [email protected] > Arsip dan info: http://linux.or.id/milis > > -- Dudi http://dgk.or.id -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

