On 9/28/10, Unggul <[email protected]> wrote:
>
> Sama. Bagi saya juga sangat besar. Opsinya saya rasa (pendapat pribadi
>  nih) bukan saklek bayar sejumlah XXX atau tidak boleh datang.
>  Berusalah dulu selain dari keluh kesah di milis ini.

betul. :)
selalu ada tiga cara, selama itu masih di jawa atau kota besar:

1. waras:
ada duit, cukup untuk pulang pergi dan makan (tidur? mesjid, gudang
kosong, rumah orang, emperan, warnet 24jam, lapangan-bawa tenda, bawa
mobil? ya mobil.) dan selipan sedikit?
Keputusannya pergi.
Bawa booster buat konfrens lewat laptop orang dalam atau kalau muka
anda gahar tinggal bikin tatto temporary buronan mertua buat ngancam
panitia supaya dikasi masuk. Sukur-sukur muka anda melas, ini untung
sekali, pasti dikasih masuk.

2. sinting:
ada duit, cukup untuk pergi saja?
Keputusannya pergi.
Untuk masuk temui panitia, tunjukin dompet, pasti dikasih masuk.
Untuk balik ada banyak jalan, apalagi jika masih satu pulau: truk
barang, kereta barang, kereta super ekonomi, kereta ekonomi bayar
diatas kereta diskon 70%, dan masih banyak lagi.
mau wah sedikit, bawa gitar, ngamen di ILC, pasti_dikasi_duit. jangan
sepelekan receh. seratus biji serebuan itu cepek rebu. apalagi jika
sebuah acara diadakan di perguruan tinggi. mahasiswa itu uang jajannya
gede. banyak lagi mahasiswanya.

3. tau diri:
ga ada duit sama sekali.
Keputusannya jangan pergi.
  3.2 ga tau diri:
  keputusannya tetap pergi.


saya tidak asal bikin list kok.
Saya akui, tahun ini saya di mode 3.
mode tahu diri. duit persiapan (yang seadanya banget itu) untuk
mengikuti rentetan acara diluar NTB habis pas sakit kemarin. sama
kayak tahun 2006
tahun 2006, saya tau diri. nggak pergi.

2007, wah, saya waras wal afiat, apalagi pas waktu itu sedang di
jakarta, mau balik ke dompu, turun bis di jawa tengah, ganti bis, ke
jogja nginap dulu 3 hari. waktu itu kaipang belum deklarasi soalnya
anggotanya cuma pak olan sama bos amrin saja. =))

tahun 2008, saya dan anggota kaipang (termasuk ketuanya itu, si
ketupang, yang mulia amrin zulkarnain) memilih sinting. Dari NTB, pak
olan dari ujung timurnya, pak budi dan pak ram dari cenggu, timur
pulau sumbawa, saya dari dompu, tengah pulau sumbawa, naik motor.
besoknya ketupang nyusul dari mataram.
tidurnya tumplek ngumpul di kamar ukuran 3x4 di losmen belakang
terminal, sampai ternyata dapat jatah kamar di hotel berbintang yang
saya lupa namanya itu, walaupun hanya untuk semalam dan hanya untuk
dua orang.

tahun 2009, makassar.
saya memilih 3.2 ga tau diri:
saya ngutang ke kepala dinas. pesawatnya nembak di bali, harganya 2 kali lipat.
sampai disana toh dapat kamar, dan beberapa nama terkenal dari sana
bantu ngelunasin hutang saya.
nyari duit buat minggat dari makassar, saya dapat penyelamat, saya
dapat tempat nginap, di rumah boss amadxyz. kopinya enak. sumpah!
saya dapat koneksi internet, cukup buat nyari shell buat dijual ke
anak-anak di dalnet. kebeli tiket pesawat, jakarta pula. :D

datanglah dulu, apa-apa disana urusan nanti. ILC event setahun sekali,
dan HANYA setahun sekali.
jangan pikirkan duit.
hakikatnya manusia itu yang penting hidup, kalau punya tuhan selagi
hidup ya disembah dan diikuti aturannya, nggak punya tuhan yak sok
atuh idup aja ga masalah.
begitu saja, yang penting hidup. tanpa laptop anda masih bisa hidup,
tanpa benwit anda masih bisa hidup, tanpa hape anda masih bisa hidup,
tanpa baju anda masih bisa hidup, tanpa linuxpun anda masih bisa
hidup.

tapi tanpa bertemu (real, ILC itu bukan Internet Linux Conference)
dengan orang-orang yang pake linux dari luar lingkup hidup anda, anda
tidak bisa hidup.
jangankan hidup, pake linux aja anda tidak akan bisa.

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke