See?
Kalo dibilang yang banyak itu yang bener, ya relatip. Bener menurut
siapa dulu kan. Kalo pas masa orba lu tanya pejabat apa korupsi
itu bener, ya mereka bakal bilang bener (dengan segala macam alasan
yang membenarkan), tapi kalo lu tanya rakyat, ya mereka bilang
salah (dengan berbagai macam alasan juga). Trus siapa dong yang
salah, si pejabat atau si rakyat?
Ya biar ajalah, mungkin tolok ukur agama bisa menjawab itu semua.
-windra
Kalap 500 wrote:
> gue pernah baca cerpennya Kahlil Gibran, disitu diceritakan bahwa disuatu
> kerajaan ada sumur yang dipakai sebagai satu-2nya sumber air minum oleh
> penduduknya. Trus ada yang memasukkan racun ke sumur itu sehingga apabila
> ada yang meminumnya akan jadi gila. Keesokan harinya penduduk kerajaan itu
> ambil air dari sumur untuk minumannya sehingga akhirnya semuanya jadi gila.
> Tinggal rajanya yang belon minum. Trus dimata rakyatnya yang gila itu
> rajanya dianggap gila sendiri karena ia berbeda sendiri dibandingkan dengan
> rakyatnya ... akhirnya rakyatnya memaksa raja itu minum sehingga akhirnya
> seluruh penduduk kearajaan itu gila............itu fiksinya Kahlil Gibran lo
> Kalo realitanya....di Indonesia, tingkat korupsinya paling tinggi sehingga
> akhirnya korupsi dianggap sebagai hal yang biasa. Akhirnya apabila ada yang
> ditanya "Kok elo korupsi sih?" mau tahu jawabannya..."Kan yang lain juga
> korupsi"
> Pertanyaannya apakah yang banyak itu benar?
>
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]