----- Original Message -----
From: Noviant Stephanus <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, August 16, 2000 8:51 AM
Subject: RE: [love] Hubungan beda agama
[DELETED]
> Berdasarkan perkembangan terakhir mereka sudah membulatkan tekad akan
> menikah tahun depan, berhubung di Indonesia (Pemerintah) belum bisa
menerima
> pernikahan dgn beda agama maka mereka berencana utk melaksanakannya di
> Singapore.
> Saya cuma bisa bantu dgn doa supaya mereka bisa langgeng, bahagia dan
> diterima oleh masing-masing keluarga.
>
> Mungkin ada komentar dari friends sekalian....
>
Well then... give my regard to them... I am very happy for them. Trus sorry
buat mas Suryanto yang udah minta stop talking 'bout this topic, tapi gue
tetep aja gatel pengin sharing my ideas and opinion. K'lo ada yang mo marah,
japri langsung ke gue, jangan ke milis ini, otreh.
Ok... sejujur gue udah ngga setuju ama ide tentang adanya pembatasan bahwa
dua orang ndak boleh bersatu gara-gara agama. Kenapa koq agama malah menjadi
penghalang. Sebetulnya kita beragama itu untuk memuja Tuhan atau malah
memuja agamanya? Buat apa donk Ketuhanan Yang Maha ESA. Khan kita semua ini
memiliki Tuhan yang sama, cuman ajarannya dikit berbeda. Kalo Kristen dari
Nabi Isa, kalo Islam dari Nabi Muhammad. Dah... gitu doank khan....
Trus tentang yang memasalahkan agama, kayanya ngga reasonable banget. Saya
sadar bahwa saya sedang ngomong dengan komunitas Indonesia, yang notabene
agamanya diturunkan dari orangtuanya, bukan berdasarkan kepercayaan murni.
Jadi rasa percaya itu dibuat, bukan tercipta dengan sendirinya.
Gue critain ya pengalaman gue. Gue pernah ke Amrik. Nah di sana itu ngga ada
yang namanya pelajaran agama. Nah lo.... bingung khan.... Kali dalam benak
kalian semua, itu berarti orang Amrik tidak beragama. Itu salah besar!
Kenapa? Sebab mereka membiarkan putra-putrinya menemukan agama pilihannya
sendiri. Keluarga Amrik itu ngga pernah maksa putra-putrinya untuk memilih
agama. Cuman.... mereka menunjukkan, apa aja yang diajarkan oleh agama ini,
apa yang diajarkan oleh agama itu.... dst. Jadi ketika mereka dewasa dan
dapat memilih mana yang baik untuk dia, maka pilihan itu pasti akan lebih
dijalani dengan sepenuh hati dan jiwa.
Oleh karena itu.... jangan pernah memikirkan jika ada pasangan yang
berlainan agama itu nantinya putra-putrinya beragama apa.... biarlah mereka
sendiri yang memilih mana yang terbaik untuknya... tugas kita hanya
membimbing dan memberikan cukup pengetahuan mengenai agama masih2 orang
tua....
Coba... kenapa orang yang berlainan kewarganegaraan tidak dilarang pula
untuk menikah? Khan kalo nanti anaknya lahir, dia mau jadi warganegara yang
mana... hayo... Semisal lain agama, khan spt yang udah gue bilang... anak
itu dapat memilih sesuai nuraninya ketika ia besar nanti.....
Contoh lain kalo menikah lain warganegara, pasti urusannya lebih panjang....
ngurus inilah... ngurus itulah.... sebenarnya masalah kewarganegaraan itu
lebih rumit daripada masalah beda agama, tapi kenapa???
Sedikit cerita tentang gue... gue dateng dari keluarga yang agamanya
berbeda. Nenek saya mempunyai putra-putri tujuh orang. Dari tujuh itu, tiga
kristen dan empat islam... dan sampai sekarang, tidak ada masalah yang
berarti yang berkaitan dengan agama. Walaupun dalam keluarga saya kristen
semua, tetapi sajadah dan mukena selalu ada....
Saya sendiri selalu terbuka dan menerima semua pengetahuan yang bisa saya
serap tentang agama2 lain.
Semisal, ketika saya masih SD dan SMP, ketika pelajaran agama Islam, jarang
saya keluar dari ruangan, karena memang saya senang sekali mendengarkan
tentang kisah2 atau semua hal2 tersebut, dan tidak jarang saya membandingkan
dengan agama saya, dan memang banyak sekali kesamaan dalam tiap agama.
Seperti sepuluh perintah Tuhannya kristen, juga saya temukan dalam agama
Islam dll.
Saya memiliki pacar yang berlainan agama, dan sudah berjalan +/- 5 tahun,
dan memang munafik kalau saya bilang bahwa saya tidak pernah memasalahkan
agama itu, tapi dalam pembicaraan kami, tidak pernah ada niat untuk mengubah
agama pasangan kami. Kami dapat menerima agama masing-masing, dan selalu
toleransi. Ia kini sedang berada di akademi keseketari Tarakanita. Walaupun
ia satu2 islam di kelas, tetapi ia tidak pernah merasa risi, dan yang lain
pun tidak. Intinya, agama bukan merupakan boundaries, dalam hal sosial,
karier atau agama itu sendiri.
Sudah... sepertinya saya sudah ngomong kebanyakan.... intinya.... semua
agama mengajarkan untuk saling mencintai sesama.... tapi apakah dikatakan
mencintai sesama yang sejenis agamanya? Saya rasa tidak... mungkin pola
pikir saya terlalu terbuka dan kesan yang didapat adalah bahwa saya tidak
mengenal agama saya sendiri.... tapi itu terserah persepsi masing2. Saya
hanya mengungkapkan pendapat.... dan kalo ada yang tidak setuju dan ingin
mengirim flame, silahkan langsung ke japri saya, jangan ke milis, biar tidak
merusak suasana....
TIA... TTFN...
PS: Denger2 pemerintah mau mengubah UU perkawinan... shg sesuai seperti
sebelum tahun 1987, bahwa campur tangan pemerintah akan ditiadakan lagi...
semoga terwujud, dan kali aja teman Noviant dapat menikah di Indonesia....
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]