Sy rasa Vegetarian perlu dijabarkan lagi, yaitu berdasar hewan yang terbunuh karena apa... 1. pembunuhan sengaja 2. kematian memang tiba.
Pembunuhan sengaja spt halnya peternakan-peternakan, nah ini jelas sy kurang mendukung. Nah yang pernah sy dengar, di Tibet, rakyat di sana betul2 menghargai hidup semua makhluk, namun tidak menutup kemungkinan mereka memakan daging hewan2 yang telah meninggal dahulu. Bgm tanggapan yang lain? Salam, Suwarno --- In [email protected], siwu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Terima kasih atas penjabaran YANG TERSIRAT dari WELAS ASIH yang telah > dibawakan dengan jelas dan gamblang, bukan hanya sekedar berdasarkan YANG > TERSURAT. > > Selain itu perlu saya tambahkan juga mengenai kisah Cakkhupala Thera yang > bila hanya diartikan secara tersurat juaga bisa membawa pada pemahaman > separuh benar. Saya petik ulang kisah akhir dan kesimpulan kisah tersebut > dari posting Bro Sagga Dhana: > > <<Sang Buddha kemudian menjawab, "Kalian tidak melihatnya, demikian pula > Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya > buta. Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian Arahat. Ia telah > tidak mempunyai kehendak untuk membunuh". > Diambil dari kisah Dhammapada atthakatha 1:1 > Dalam hal diatas, ada dua syarat yang hilang yaitu adalah : > * panasannita Bhante Cakkhupala Thera tidak mengetahui keberadaan makhluk > hidup. > * vadhacittam kehendak untuk membunuh. > Sehingga ia tidak melakukkan pembunuhan.>> > > Di sini kita harus berhati-hati, kalau berprinsip: asal tidak memiliki > kehendak membunuh serta tidak mengetahui keberadaan makhluk hidup, maka > tidak tergolong dalam kategori pembunuhan. Ini pandangan yang menguntungkan > diri sendiri dan mengabaikan inti dasar Guru Buddha yakni: KEWASPADAAN. > > Kenapa Thera tidak mengetahui keberadaan makhluk hidup, itu karena kedua > mata beliau tidak dapat melihat, bukan karena beliau tidak WASPADA. Sebagai > siswa Buddha, kita sudah seharusnya membiasakan diri untuk berjalan dengan > pandangan mata terarah pada jalan di bawah telapak kaki, bertujuan > menghindari menginjak binatang kecil yang mungkin kebetulan berada di jalan > yang sedang kita lalui. Inilah salah satu bentuk kewaspadaan yang harus kita > pahami dan terapkan. Demikian juga dengan setiap perbuatan yang kita > lakukan: adakah perbuatan ini akan menyebabkan pembunuhan bagi makhluk lain? > Bila bisa membawa kematian bagi makhluk lain, tetapi tetap harus > melakukannya, apa yang harus kita lakukan untuk itu? > > Kedua pertanyaan itulah yang harus kita tanyakan, bukan hanya berpegang > secara TERSURAT: tidak memiliki kehendak membunuh dan tidak mengetahui > keberadaan makhluk hidup yang terbunuh, maka tidak tergolong dalam kategori > membunuh. > > Ini sekedar tambahan yang ingin saya bawa ke forum ini, mungkin ada > rekan-rekan yang bisa menambahkan dengan lebih baik makna dari tulisan saya > ini. > > Anumodana. > > Salam, siwu > > > On 2/10/06, willyyandi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > > dari dulu hal ini yang telah menimbulkan perdebatan yang tiada > > habisnya.... > > > > memang pada dasarnya "vegetarian" amat disarankan dan berarah > > positif... namun bukan berarti vegetarian wajib dilaksanakan... > > > > sebenarnya makna ber-"vegetarian" adalah ketika seseorang melaksanakan > > vegetarian, ia merenungkan dan memahami bahwa ketika ia bervegetarian, > > ia telah menyelamatkan makhluk hidup secara tidak langsung... > > Dalam hal ini, sebenarnya adalah faktor "pikiran" sehingga > > mempengaruhi alam bawah sadarnya sehingga secara tidak langsung > > membuatnya semakin WELAS-ASIH... > > > > Namun di sisi lain ketika ia ber"pikir" bahwa tidak bervegetarian > > berarti mendukung pembunuhan dan berpikir negatif, ia telah membuat > > dirinya semakin terseret oleh "EGO" atau "AKU"...hingga mungkin > > menimbulkan kebencian atau ketidaksukaan.... > > > > > > di satu sisi orang yang mendukung makan "daging" dan terus "ngotot" > > bahwa hal yang ia lakukan telah sesuai dengan ajaran BUDDHA, ia juga > > telah terikat oleh "AKU" atau "EGO"... > > > > yang penting dipahami di sini adalah bahwa ketika kita belajar untuk > > tidak makan daging, kita perlu melatih "WELAS ASIH" kita, bukan hanya > > tidak "makan" daging, tapi dengan memahami bahwa tujuan untuk tidak > > makan daging adalah meningkatkan WELAS ASIH... > > > > namun jangan sampai kita "terpaksa" untuk makan daging atau tidak > > makan daging hanya karena "EGO".... > > > > latihlah untuk tidak makan daging untuk meningkatkan WELAS ASIH > > kita... bukan untuk bangga atau pamer demi "EGO"... > > > > untuk yang masih makan daging, jangan terus "ngotot" dan terbawa "EGO" > > diri sendiri... tetap disarankan banyak makan buah2an dan sayur2an > > untuk kesehatan...jika masih ingin makan daging, jangan dipaksa untuk > > tidak makan daging... tapi usahain kurangi untuk kesehatan kita sendiri... > > > > terima kasih atas perhatiannya... > > semoga kita selalu mengembangkan WELAS ASIH kita tanpa batas... > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
