Vegetarian mempercepat mencapai kesucian ???
Vegetarian adalah suatu kebiasaan untuk tidak memakan
daging yang sangat baik dan semakin mendapat tempat di
masyarakat karena tidak sedikit orang yang mendapatkan
manfaat dari segi kesehatan setelah mereka menjalankan
vegetarian.
Pada saat ini kita mengenal ada tiga kebiasaan ber
vegetarian yaitu :
a. Vegetarian murni dimana seseorang sama sekali tidak
memakan daging hewan maupun produk dari hewan seperti
susu, telur maupun mentega
b. Lacto ovo vegetarian dimana seseorang hanya tidak
memakan daging hewan namun mereka masih mengkonsumsi
produk hewan seperti susu, telur maupun produk dari
susu dengan beranggapan bahwa memakan produk dari
hewan ini tidak membunuh hewan itu sendiri
c. Vegetarian yang hanya memakan buah-buahan saja.
Cara bervegetarian ini lebih keras dari vegetarian
murni karena mereka tidak mengkonsumsi sayur-mayur,
biji-bijian namun hanya memakan buaj-buahan saja
Namun saat sekarang ada orang yang menjalan separuh
vegetarian dengan memakan daging berwarna putih
seperti ayam, ikan sedangkan mereka menghindari daging
berwarna merah sperti daging sapi, kambing, babi dan
lainnya.
Mengingat banyaknya umat Buddha yang melaksanakan
vegetarian maka timbul anggapan bahwa agama Buddha
menganjurkan vegetarian. Terlebih lagi umat Buddha
sekte tertentu dengan lantang menganjurkan vegetarian
ini.
Pandangan agama Buddha terhadap vegetarian.
Dalam Lakavantara Sutra, yang merupakan salah satu
sutra mahayana, dianjurkan untuk melaksanakan
vegetarian. Namun mengingat saya tidak mendalami
Mahayana maka saya tidak memiliki kemampuan untuk
membahasnya dari segi mahayana
Didalam Theravada, Sang Buddha tidak melarang umatnya
untuk memakan daging namun melarang umatnya untuk
membunuh.
Larangan untuk membunuh telah sangat jelas tercantum
dalam panca sila agama Buddha yang merupakan panduan
dasar bagi umat Buddha dalam menjalankan hidup ini.
Sila untuk menghindari pembunuhan merupakan sila yang
pertama bagi umat Buddha
Sedangkan ijin dari sang Buddha terhadap makanan yang
berasal dari hewan dapat dilihat dalam kisah berikut
ini.
Seorang Jendral yang kaya dan berpengaruh bernama Siha
(berarti Singa) merupakan pendukung dari petapa Jain
tetapi ia begitu terkesan atas ajaran sang Buddha dan
ia meminta tisarana sehingga ia menjadi umat Buddha
Suatu saar jendral siha mengundang Sang Buddha beserta
sejumlah besar Bhikkhu untuk menyantap makanan pagi.
Dalam menyiapkan makanan, Siha menuruh pelayannya
untuk membeli daging dari pasar untuk upacara
tersebut.
Ketika pertapa Jain mendengar bahwa jendral Siha yang
merupakan penyokong utamanya telah mengundang sang
Buddha. Mereka menyebarkan berita bahwa banyak
binatang dibunuh oleh jendral Siha demi santapan
pertapa Gautama (sebutan mereka kepada sang Buddha).
Pembunuhan tersebut dilakukan deminya
Siha telah mengetahui perbedaan antara membeli daging
yang dijual dengan memesan bintang untuk dibunuh dan
dijadikan santapan.
Untuk menjelaskan mengenai prilaku memakan daging
tersebut diatas, maka sang Buddha berkata :
Para Bhikkhu, saya mengijinkan kamu untuk memakan ikan
dan daging yang murni dalam tiga hal yaitu : jika
mereka tidak terlihat, terdengar atau dicurigai telah
dibunuh untuk Bhikkhu
na bhikkave jâna.m udissakata ma.msa.m
paribhunjitabba.m.
Anujânâmi bhikkave tiko.tiparisuddha.m maccama.msa.m
adi.t.ta.m asuta.m aparisankitan ti [V I 233])
Kisah diatas dikutip dari Vinaya Pitaka (Mahâvagga,
VI, 31-2; the conversion of General Siha)
Makanan yang memenuhi 3 persyaratan diatas dikenal
sebagai pavattamasa sedangkan makanan dari hewan yang
dibunuh untuk dipersembahkan kepada seseorang dikenal
sebagai uddissakatamasa
Cerita diatas ditegaskan kembali dalam Jivaka sutta :
"Jivaka, mereka yang mengatakan mereka membunuh
makhluk hidup untuk petapa Gotama dan petapa Gotama
dengan sadar makan daging (binatang) yang dibunuh
dengan maksud dan khusus menyediakannya untuk Beliau
--- pernyataan ini tidak mengutip kata-kata-Ku, namun
salah mewakilkan-Ku dengan hal yang tak benar, dengan
fakta yang salah. Jivaka, saya mengatakan bahwa dalam
tiga kondisi daging tak dimakan, yaitu: jika
(pembunuhan) itu dilihat, didengar dan diduga
(pembunuhan dilakukan demi seorang bhikkhu). Jivaka,
berdasarkan pada tiga kondisi ini saya katakan daging
tidak boleh dimakan. Jivaka, tetapi saya mengatakan
bahwa dalam tiga kondisi daging dapat dimakan, yaitu
jika (pembunuhan) itu tidak dilihat, tidak didengar
dan tidak diduga (pembunuhan dilakukan demi seorang
bhikkhu). Jivaka, berdasarkan pada tiga kondisi ini,
saya nyatakan daging dapat dimakan.
Selain cerita diatas, ada sebuah kisah dimana
devadatta (sepupu sang Buddha yang menjadi Bhikkhu
dengan kesaktian yang hebat namun tidak mencapai
kesucian ) menganjurkan para Bhikkhu untuk ber
vegetarian . Devadatta menganjurkan vegetarian demi
merebut jabatan kepala Bhikkhu sehingga seakan-akan ia
lebih suci dari sang Buddha dengan mengajarkan
larangan untuk memakan daging hewan.
Sang Buddha menolak ide dari Devadatta dan sekali lagi
menegaskan peraturan yang dibuatnya bertahun-tahun
sebelumnya bahwa para Bhikkhu dan Bhikkhuni boleh
memakan ikan atau daging selama dari binatang yang
dilarang dan selama mereka tidak mempunyai alasan
untuk mempercayai bahwa bintang tersebut dibunuh untuk
dipersembahkan kepada mereka
Apakah sang Buddha memakan daging binatang ?
Dalam sutta theravada diketahui bahwa sang Buddha
bukanlan seorang vegetarian dan beliau tidak
memaksakan umatnya bahkan para Bhikkhu untuk menjadi
vegetarian.
Salah satu kisah yang menerangkan sang Buddha bukanlah
seorang vegetarian adalah kisah berikut ini.
Uppalavanna (berarti wanita yang kecantikannya
menyerupai bunga teratai) merupakan salah satu dari
dua siswi utama dari sang Buddha. Ia ditasbihkan
menjadi bhikkhuni ketika ia masih remaja dan tidak
lama kemudian ia menjadi arahat. Selain sebagai
seorang arahat, ia juga memiliki beberapa kemampuan
bhatin yang luar biasa sehingga Buddha menyebutnya
sebagai yang utama diantara siswi sang Buddha.
Suatu ketika, Uppalavanna sedang bermeditasi sendirian
di Hutan pria buta, Hutan terpencil diluar kota
savatthi. Beberapa pencuri melewati hutan tersebut dan
mereka membawa sapi curian untuk dibunuh. Setelah
membunuh sapi tersebutm mereka melihat sang bhikkhuni
dan ia meletakkan daging tersebut pada daun lalu
diberikan kepadanya..
Uppalavanna menerima daging tersebut dan berjanji
untuk mempersembahkan kepdda sang Buddha. Keesokan
paginya, ia terbang kehadapan sang Buddha di hutan
bamboo di luara Rajagaha. Tempat ini berjarak sekitar
200 Km dari savatthi.
Dikatakan bahwa sang Buddha memakan daging persembahan
uppalavanna dan uppalavanna tentunya dengan kekuatan
bahthin mengetahui dengan jelas apa yang
dipersembahkan.
Dikutip dari Vinaya Nissaggiya Pacittiya 5
Apa saja yang dilarang oleh sang Buddha ?
Walaupun sang Buddha tidak melarang umatnya untuk
memakan daging bintang namun ada 4 jenis daging
tertentu yang dilarang untuk dimakan. Daging-daging
tersebut adalah :
1. Daging manusia
2. Daging Gajah dan Kuda
3. Daging Anjing
4. Daging ular singa, harimau, macan kumbang, beruang
dan hyena
Keempat jenis daging tersebut dikategorikan sebagai
akappiya atau makanan yang tidak pantas dimakan.
Tidak ada catatan mengapa ke empat jenis daging
tersebut dilarang dimakan namun Ajahn Bramavamso
(dalam What the Buddha said about eating meat) menduga
bahwa:
1. Daging manusia, sudah sepantasnya bahwa manusia
tidak memakan daging manusia
2. Daging Gajah dan Kuda , dianggap sebagai binatang
kerajaan
3. Daging Anjing dianggap menjijikan
4. Daging ular singa, harimau, macan tutul, beruang
dan hyena karena akan mengundang pembalasan binatang
dari species yang sama
Apa akibatnya bila seorang umat Buddha membunuh
bintang dan dipersembahkan kepada para Bhikkhu?
Sang Buddha menyatakan bahwa perbuatan demikian
dikategorikan sebagai perbuatan buruk yang menimbun
kamma buruk. Hal ini di jelaskan dalam jivaka sutta :
"Jivaka, ia yang membunuh makhluk hidup untuk
Tathagata atau murid Tathagata adalah menimbun banyak
kamma buruk (apunna) dalam lima cara yaitu dalam hal
ini, ketika ia berkata: 'Pergi dan tangkap seekor
binatang', inilah cara pertama ia menimbun banyak
kamma buruk. Selanjutnya, sementara binatang itu
ditangkap, binatang ini menderita kesakitan dan
tekanan batin sebab kerongkongannya terasa sakit,
inilah cara kedua menimbun kamma buruk. Begitu pula
ketika ia berkata: 'Pergi dan bunuh binatang itu',
inilah cara ketika ia menimbun banyak kamma buruk.
Sementara binatang itu dibunuh, binatang itu mengalami
kesakitan dan penderitaan, inilah cara keempat ia
menimbun banyak kamma buruk. Demikian pula, bilamana
ia memberi kepada Tathagata atau muridnya sesuatu yang
tidak pantas diberikan, inilah cara kelima ia menimbun
kamma buruk. Jivaka, ia yang membunuh makhluk hidup
(binatang) untuk Tathagata atau muridnya adalah
menimbun kamma buruk dalam lima cara ini."
Mengapa memakan daging berbeda dengan membunuh dalam
pandangan Dhamma?
Untuk mengerti jelas perbedaannya kita perlu mengerti
dengan jelas Hukum karma. Sang Buddha berkata bahwa
kamma adalah kehendak. Selama tidak ada kehendak maka
tidak akan ada kammanya.
Sebuah perbuatan dikatakan membunuh bila memenuhi ke 5
syarat berikut ini:
1. pano adanya mahkluk hidup.
2. panasannita seseorang mengetahui keberadaan
makhluk hidup.
3. vadhacittam kehendak untuk membunuh.
4. upakkamo adanya usaha untuk membunuh.
5. tena maranam adanya mahkluk yang terbunuh
Bila tidak timbul kehendak untuk membunuh maka tidak
akan terjadi pembunuhan oleh orang tersebut. Bila
terjadi pembunuhan maka perbuatan itu dilakukan tanpa
disadarinya atau oleh orang lain dan tidak termasuk
dalam kategori pembunuhan
Sebagai contoh adalah cerita berikut ini :
Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara
Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Sang
Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki,
sang thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga
sehingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali
serombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan sang
thera bermaksud mengunjunginya. Di tengah jalan, di
dekat tempat sang thera menginap mereka melihat banyak
serangga yang mati.
"Iiih, mengapa banyak serangga yang mati di
sini?" seru seorang bhikkhu.
"Ah, jangan-jangan...", celetuk yang lain.
"Jangan-jangan apa?" sergah beberapa bhikkhu.
"Jangan-jangan ini perbuatan sang thera!"
jawabnya.
"Kok bisa begitu?" tanya yang lain lagi.
"Begini, sebelum sang thera berdiam di sini,
tak ada kejadian seperti ini. Mungkin sang thera
terganggu oleh serangga-serangga itu. Karena
jengkelnya ia membunuhinya".
"Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu
kita laporkan kepada Sang Buddha!" seru beberapa
bhikkhu.
"Benar, mari kita laporkan kepada Sang Buddha,
bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya", timpal
sebagian besar dari bhikkhu tersebut.
Alih-alih dari mengunjungi sang thera, para
bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong
menghadap Sang Buddha untuk melaporkan temuan mereka,
bahwa "Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya!"
Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha
bertanya, "Para bhante, apakah kalian telah melihat
sendiri pembunuhan itu?"
"Tidak bhante", jawab mereka serempak.
Sang Buddha kemudian menjawab, "Kalian tidak
melihatnya, demikian pula Cakkhupala Thera juga tidak
melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta.
Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian
arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk
membunuh".
Diambil dari kisah Dhammapada atthakatha 1:1
Dalam hal diatas, ada dua syarat yang hilang yaitu
adalah :
* panasannita Bhante cakkhupala thera tidak
mengetahui keberadaan makhluk hidup.
* vadhacittam kehendak untuk membunuh.
Sehingga ia tidak melakukkan pembunuhan
Sekarang bila kita membeli daging dari bintang yang
telah dibunuh dan memakannya maka ada dua syarat
pembunuhan yang hilang bagi diri kita yaitu :
* panasannita seseorang mengetahui keberadaan
makhluk hidup.
* vadhacittam kehendak untuk membunuh.
Sehingga secara Dhamma tidak ada pembunuhan yang
dilakukan oleh kita
Hal yang berbeda bila kita memesan binatang untuk
dibunuh dengan tujuan apapun maka sudah ada kehendak
dari kita untuk membunuh dan ada instruksi dari kita
untuk dilakukan pembunuhan sehingga sudah ada kamma
yang muncul walaupun kita tidak melaksanakannya
sendiri. Inilah Dhamma yang dipahami oleh jendral siha
dalam cerita diatas
Sehingga sang Buddha sangat menentang pengorbanan atau
pembunuhan binatang bagi para dewa maupun mahkluk adi
kuasa lainnya karena dua hal yaitu :
a. Ada mahkluk yang menderita karena terbunuh dan
tidak ada mahkluk yang mau dibunuh walaupun demi
apapun juga
b. Sang pelaku pengorbanan akan memetik kamma buruk
karena ia sudah berkehendak untuk melakukan pembunuhan
walaupun bukan ia sendiri yang melakukan atau ia
melakukan demi para dewa atau makhluk adi kuasa apapun
juga
Mengapa sang Buddha tidak menganjurkan para Bhikkhu
untuk bervegetarian saja ?
Para Bhikkhu tidak boleh mempunyai mata pencaharian
dan tugas mereka hanyalah berusaha untuk mencapai
kesucian untuk mempertahankan kehidupan mereka maka
mereka harus disokong oleh umat.
Para Bhikkhu sendiri merupakan ladang untuk menanam
jasa yang luar biasa sehingga perbuatan baik dari umat
dengan memberikan 4 kebutuhan dasar kepada para
Bhikkhu dapat memberikan kebahagiaan berlimpah.
Namun para Bhikkhu mempunyai aturan dasar yang
ditetapkan oleh sang Buddha dan harus di ikuti yaitu:
1. Tidak boleh meminta makanan yang mereka sukai
sehingga apapun makanan yang dipersembahkan, mereka
harus menerimanya dan tidak boleh menolak. Sehingga
makanan yang berasal dari daging bila dipersembahkan
mereka harus menerimanya
2. Siapapun yang berdana maka mereka harus menerimanya
sehingga bila seseorang yang ber profesi penjagal
hewan sekalipun bila berdana mereka harus menerimanya
Dengan aturan dasar tersebut mereka tidak dapat
meminta kepada umat bahwa mereka hanya mau menerima
makanan yang vegetarian saja dan bila makanan berasal
dari binatang mereka akan menolak.
Dikisahkan bahwa seorang Bhikkhu terpaksa untuk tidak
memakan daging dari seekor ayam kalkun karena orang
berdana tersebut berkata bahwa mereka special memilih
ayam kalkun tersebut untuk dipersembahkan kepadanya
sehingga beliau hanya memakan nasi dengan sup kodok
yang tidak lezat sama sekali dari petani miskin karena
ia telah mengetahui bahwa ayam kalkun tersebut dibunuh
untuk dipersembahkan kepadanya
Bila seorang Bhikkhu hanya bisa menerima makanan
vegetarian maka dapat dibayangkan betapa repotnya umat
karena mereka harus memasak special untuk Bhikkhu.
Dengan tidak adanya peraturan tersebut, maka umat
Buddha dinegara Buddhist dapat berdana dengan hanya
menyisihkan makanan mereka sehari-hari atau membeli
makanan dipinggir jalan begitu mereka bertemu dengan
Bhikkhu dan ingin berdana.
Bila sang umat hanya memakan makanan vegetarian dan
mereka mempersembahkannya kepada para bhkkhu maka
makanan tersebut juga akan diterima tanpa pengecualian
dan tidak akan ditolak.
Bila seluruh umat manusia tidak membunuh binatang dan
tidak ada daging yang dijual dimanapun maka seorang
umat Buddha tidak akan pernah membunuh atau meminta
oranng lain untuk membunuh demi makanan enak
Apakah tidak bervegetarian akan menghambat pencapaian
kesucian ?
Bila vegetarian merupakan salah satu keharusan maka
vegetarian akan menjadi salah pilar utama seperti
panca sila buddhist dalam ajaran Buddha. Atau paling
tidak akan menjadi suatu anjuran utama dari sang
Buddha
Dalam sutta Tipitaka berbahasa pali, tidak ada satu
suttapun dari Sang Buddha yang jelas-jelas mengajarkan
mengenai vegetarian
Selain itu dengan bervegetarian seseorang tidak akan
menjadi suci bila tidak mengikuti 8 jalan yang mulia.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa umat Buddha yang
tidak bervegetarian tidak akan terhambat pencapaian
kesuciannya bila dibandingkan yang bervegetarian
Dengan alasan tersebut diatas pulalah maka sang Buddha
tidak pernah menganjurkan umat Buddha untuk ber
vegetarian karena Dhamma hanya mengajarkan jalan untuk
mencapai kesucian
Bolehkah umat Buddha menjadi seorang vegetarian?
Bila ada umat Buddha yang bervegetarian dengan alasan
kesehatan, tradisi, mengurangi nafsu dan kemelekatan
terhadap daging maka tindakan ini tidak pernah
dilarang oleh sang Buddha
Bila ia bervegetarian dengan beranggapan bahwa dengan
ia bervegetarian maka akan semakin sedikit (berkurang)
hewan yang dibunuh karena konsumen dari penjagal
berkurang satu. Maka ia harus dipuji.
Bila ia merasa kasihan atas hewan yang dibunuh dan ia
merasa bahwa ia harus mengembangkan rasa belas
kasihannya kepada para hewan yang dibunuh maka ia
dihormati.
Namun Vegetarian tidak bisa diterapkan bagi semua umat
sehingga sang Buddha tidak menganjurkannya terlebih
lagi memaksa umatnya untuk bervegetarian
Catatan :
Tulisan ini diilhami oleh tulisan ajahn Brahmavamso
dan saya tidak membahas sutra mahayana yang mendukung
vegetarian karena saya tidak memiliki pengetahuan yang
cukup akan mahayana
___________________________________________________________
NEW Yahoo! Cars - sell your car and browse thousands of new and used cars
online! http://uk.cars.yahoo.com/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/