Seperti saya katakan sebelumnya, sang murid Zen, setelah tinggal bersama sang master selama beberapa tahun - eh tidak, bahkan cukup beberapa bulan saja -- bakal sampai pada suatu keadaan mandeg total. Karena ia tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh ; ia telah berusaha memecahkan koan tersebut pada level relatif tetapi tak memetik manfaat apa pun jua. Ia sekarang didesak ke sudut yang tiada lagi jalan untuk lolos. Pada momen ini sang master akan berkata, "Terpojok seperti ini baguslah. Waktu-nya sudah tiba bagimu untuk puta-balik total. "Sang master sangat boleh jadi akan melanjutkan, "Kamu tidak boleh berpikir dengan kepala tetapi berpikirlah dengan abdomen, dengan perut.
Ini mungkin kedengaran sangat ganjil. Menurut sains modern, kepala berisi massa abu-abu dan putih dan sel-sel dan serat-serat yang terhubung ke sana kemari. Bagaimana bisa sang master Zen mengabaikan fakta ini dan menasehati kita untuk berpikir dengan perut? Tetapi maser Zen adalah jenis manusia aneh. Ia tidak akan mendengar anda dan apa yang anda katakan tentang sains modern maupun kuno. Ia paham, menguasai bidangnya, lebih banyak karena dari pengalaman. Saya punya cara menjelaskan situasi tersebut, walaupun barangkali tak-ilmiah. Tubuh bisa dibagi secara fungsional menjadi tiga bagian, yaitu: kepala, bagian perut, dan anggota badan (lengan & tungkai). Lengan & tungkai fungsinya untuk bergerak, tetapi tangan telah mendiferensiasi diri dan berkembang tersendiri. Tangan sekarang untuk tugas-tugas kreativitas. Kedua tangan dengan sepuluh jarinya membentuk segala macam benda yang dimaksudkan untuk kesejahteraan tubuh. Intuisi saya adalah bahwa tangan berkembang lebih dulu dan kemudian baru kepala, yang secara berangsur menjadi sebuah organ berpikir yang independen. Waktu digunakan untuk ini itu, tangan harus memisahkan diri dari tanah, membedakan diri dari tangan binatang-binatang yang lebih rendah. Ketika tangan manusia terbebaskan dari tanah, dan kaki bertugas khusus untuk berjalan, tangan dapat menempuh alur perkembangannya sendiri, yang pada gilirannya membuat kepala menjadi tegak dan membuat mata mampu mengawasi lingkungan yang lebih luas. Mata adalah sebuah oragan intelektual, sementara telinga adalah orang yang lebih primitif. Mengenai hidung, yang terbaik baginya memang adalah menjaga agar tetap jauh dari tanah, karena mata sekarang mulai menjangkau horison yang lebih lebar. Pelebaran bidang penglihatan berarti bahwa pikiran menjadi semakin terpisah dari obyek-boyek sensasi, yang menjadikan dirinya sebuah organ abstraksi dan generalisasi intelektual. Jadi kepala menyimbolkan inteleksi, dan mata, dengan otot-ototnya yang lincah, adalah instrumennya yang berguna. Tetapi bagian perut dimana isi rongga perut dikendalikan oleh syaraf-syaraf tak-sadar dan merepresentasikan tahap paling primitif dari ebolusi struktur tubuh manusia. Bagian rongga-perut lebih dekat dengan alam, darimana kita semua datang dan kemana kita semua kembali. Karenanya mereka lebih akrab dengan alam dan dapat merasakannya dan berbicara dengannya dan memegangnya untuk 'pemeriksaan'. Akan tetapi, pemeriksaan tersebut bukanlah suatu kegiatan intelektual; namun lebih bersifat affektif, jila bioleh dibilang demikian. Rasa mungkin merupakan kata yang lebih cocok bila istilah tersebut digunakan dalam pengertian fundamentalnya. Pemeriksaan intelektual adalah fungsi dari kepala dan karenanya apa pun pemahaman yang kita miliki tentang alam dari sumber ini merupakan suatu abstraksi atau mewakili tentang alam dan bukanlah alam itu sendiri. Alam tidak menyingkapkan diri sebagaimana adanya kepada intelek -- yakni, kepada kepala. Bagian-bagian abdominallah yangmerasakan alam dan memahaminya dalam kesejatiannya. Pemahaman jenis ini, yang bisa disebut affektif atau konatif, melibatkan seluruh keberadaan seseorang yang disimbolkan oleh bagian abdominal tubuh. Ketika sang master Zen menyuruh kita untuk menahan koan dalam perut, maksudnya adalah agar koan tersebut ditangkap dengan seluruh keberadaan kita, bahwa kita harus mengindentifikasi diri sepenuhnya dengan koan tersebut, tidak memandangnya secara intelektual atau obyektif seolah kita dapat terpisah mengambil jarak darinya. Sebuah masyarakat primitif suatu ketika dikunjungi oleh seorang ilmuwan Amerika, dan ketika diberitahu bahwa masyarakat Barat berpikir dengan kepalanya, masyarakat primitif ii menganggap bahwa orang Amerika semuanya gila. Mereka bilang, "Kita berpikir dengan perut." Masyarakat di CIna dan juga di Jepang -- saya tidak tahu bagaimana dengan India -- manakala masalah rumit muncul, sering berkata, "Berpikirlah dengan perutmu", atau sekedar, "Tanyalah perutmu". Jadi, ketika ada muncul pertanyaan yang berhubungan dengan eksistensi kita, kita dianjurkan untuk 'berpikir' dengan perut - bukan dengan bagian tubuh terpisah lainnya. 'Perut' melambangkan totalitas keberadaan seseorang, sementara kepala, yang merupakan bagian yang paling akhir berkembang dari tubuh, merepresentasikan inteleksi. Intelek secara esensialnya melayanikita dalam mengobyektifikasi subyek yang sedang dipertimbangkan. Karenanya, di Cina khususnya, manusia yang ideal itu agak gendut bentuknya, dengan perut agak menonjol, seperti yang dilukiskan dalam figur Hotei (Pu-tai dalam bahasa Cina), yang dianggap titisan dari Buddha yang akan datang, Maitreya. 'Berpikir' dengan perut sesungguhnya berarti menahan diafragma ke bawah agar tersedia ruang bagi organ-organ dada untuk berfungsi secara semestinya dan untuk menjaga agar tubuh stabil dan siap untuk menyambut koan. Seluruh prosedur tersebut bukanlah untuk menjadikan koan sebagai obyek inteleksi; karena intelek selalu mengambil jarak antara obyek dengan dirinya sendiri -- melihatnya dari kejauhan, seolah menyentuhnya saja bisa mendatangkan kematian, apalagi menggenggam dan memegangnya dengan tangan telanjang. Zen, sebaliknya, menyuruh kita untuk tak hanya menggenggam koan tersebut dengan tangan, dengan perut, tetapi bahkan mengidentifikasi diri (menyatukan diri) dengannya dengan cara yang paling total, sehingga ketika aku makan atau minum bukanlah aku tetapi koan-lah yang makan atau minum. Ketika ini tercapai, koan tersebut terpecahkan sendiri tanpa aku berbuat apa pun lebih jauh. Mengenai signifikansi diafragma dalam struktur tubuh manusia, saya tidak punya pengetahuan apa pun dari sudut pandang medis, tetapi pemahaman akal-sehat saya, berdasarkan medis, tetapi pemahaman akal-sehat saya, berdasarkan pengalaman-pengalaman tertentu, adlah bahwa diafragma berkaitan dengan bagian perut mempunyai hubungan erat dengan rasa-aman (sense of security) seseorang, yang disebabkan oleh keterkaitan erat dengan dasar dari segala sesuatu, yakni: dengan realita iltimit. Membanguan hubungan jenis ini dalam bahasa Jepang, disebut kufu suru. Ketika sang master Zen menyuruh anda untuk meneruskan kufu anda tentang koan tersebut dengan bagian perut anda, yang ia maksudkan bukan lain adalah usaha pembentukan hubungan ini. Barangkali ii adalah gaya bicara yang primitif atau ante-ilmiah -- upaya untuk membangun suatu hubungan antara diafragma dan perut dan realita pamungkas. Tetapi di sisi lain tyak ada keraguan bahwa kita memang telah menjadi terlalu nervous mengenai kepala beserta artian pentingnya sehubungan aktivitas intelektual kita. Bagaimana pun juga, koan tidak untuk dipecahkan dengan kepala; maksudnya, secara intelektual atau filosofis. Apa pun pendekatan logis yang barangkali nampak perlu atau memungkinkan pada awal-mulanya, -- koan memang ditakdirkan untuk pada akhirnya dipecahkan dengan bagian perut. Ambillah kasus tongkat di tangan sang master. Ia mengangkatnya dan menyatakan, "AKu tidak menyebutnya tongkat, hendak kamu sebut apa ini?" Ini mungkin nampak memerlukan suatu jawaban dialektika, karena pernyataan atau tantangan tersebut setara dengan mengatakan, "Bila A bukanlah A, apakah dia?" atau "Bila Tuhan bukanlah Tuhan, apakah dia?" Hukum identitas logika dilanggar. Bila A pernah didefinisikan sebagai A ia haruslah tetap A dan tidak pernah bukan-A atau B atau X. Sang master kadang membuat sebuah pertanyaan lain: "Tongkat ini bukanlah tongkat namun adalah tongkat." Bila sang murid mendatangi sang master dengan berpola-pikir logika dan menyatakan tantangan tersebut sama sekali tidak masuk akal, ia pastilah mendapat hantaman tongkat di tangan sang master itu. Sang murid tak-bisa-tidak digiring memasuki jalan bantu, karena sang master berkukuh dan menolak mentah-mentah untuk menyerah pada tekanan intelektual sebesar apa pun. Kufu apa pun yang sekarang terpaksa dibuat sang murid semuanya dilaksanakan di bagian perut dan bukan di kepala. The intellect is to give its place to the will (Intelek musti mengalah pada daya-kehendak). Sebuah contoh lain. Sang Patriakh Keenam menuntut untuk melihat "wajah yang kamu miliki sebelum lahir" Dialektika tidak berlaku di sini. tuntutan tersebut setara dengan diktum Kristus, "AKu ada sebelum Abraham". Apa pun interpretasi tradisional dari para theolog Kristen, ke-ada-an Kristus tersebut menafikan rasa keruntutan waktu kita. Demikian juga dengan 'wajah' sang Patriakh Keenam. Intelek boleh mencoba semampunya, tetapi sang patriakh maupun Kristus hampir pasti akan menolaknya sebagai tak-relevan. Kepala sekarang harus membungkuk pada diafragma, dan pikiran pada jiwa. Logika maupun psikologi harus diturunkan dari takhta, ditempatkan di luar segala jenis intelektualisasi. Meneruskan percakapan simbolis tadi: Kepala itu sadar, sedangkan abdomen bawah-sadar. Ketika sang master menyuruh para muridnya untuk "berpikir" dengan bagian bawah tubuh, maksudnya adalah agar koan tersebut dibawa turun ke bawah sadar dan bukan ke medan sadar dari kesadaran. Koan harus "tenggelam" ke dalam keberadaan utuhnya dan tidak berhenti di pinggiran. Secara harafiah, ini tidak masuk-akal, tak perlu dikatakan lagi. tetapi bila kita sadari bahwa dasar dari bawah-sadar dimana koan tersebut "tenggelam" adalah tempat dimana bahwkan alaya-vijnana, "kesadaran yang selalu lestari" sekalipun tidak dapat memegangnya, kita lihat bahwa kioan tersebut tidaklagi ada di medan lingkup inteleksi, ia sepenuhnya beridentifikasi (menyatu) dengan sang Diri. Koan tersebut sekarang melampaui segala batas-batas psikologi. Ketika semua batas ini terlampaui -- yang berarti bahkan di luar melampaui apa yang disebut bawah-sadar kolektif -- kita sampai pada apa yang dalam Buddhisme dikenal sebagai adarasanajnana, "pengetahuan cermin." Kegelapan bawah-sadar pecah terterobos dan orang melihat segala sesuatu laksana melihat wajahnya sendiri di dalam cermin yang bersinar terang-benderang. _________________________________________________________________ Shopping made easy @ tradingpost.com.au http://a.ninemsn.com.au/b.aspx?URL=http%3A%2F%2Fwww%2Etradingpost%2Ecom%2Eau%2F%3Freferrer%3DnmsnHMetagv1&_t=753082530&_r=emailtagline&_m=EXT ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
