MAHA KARUNA DHARANI
Dengan ulasan dari
YANG MULIA TRIPITAKA ACARYA HSUAN HUA

-------------------------------------

4. Pu Ti Sa Two Pe Ye
Setiap orang tahu bahwa PU TI adalah Bodhi, "pencerahan". SA TWO 
berarti "menyeberangkan", seperti di dalam anak 
kalimat `menyeberangkan makhluk hidup'. PU TI SA TWO PE YE 
menyatakan bahwa para Bodhisattva mencerahkan dan menyeberangkan 
diri mereka. Mereka membangunkan diri mereka dan menyeberangkan 
hakikat diri mereka. PE YE masih tetap berarti „bersujud memberi 
hormat". YE itu adalah „meletakkan kepala di atas tanah untuk 
menghormat".

Siapa yang dihormati? Orang memberi hormat kepada Bodhisattva yang 
telah mencerahkan dirinya sendiri dan membawa dirinya menyeberang. 
Di dalam penjelasan mantra ini, dikatakan bahwa kalimat ini menunjuk 
kepada Bodhisattva Tali Tidak Kosong yang memimpin pasukan makhluk 
halus. Ketika baris mantra ini diucapkan, Bodhisattva Tali Tidak 
Kosong mengutus pasukan surga dan panglima surga melindungi orang 
yang mengucapkannya.

5. Mwo He Sa Two Pe Ye
MWO HE memiliki tiga arti: "agung", "banyak", dan "jaya". MWO HE: 
Mereka yang telah memunculkan hati Bodhi agung. MWO HE: Banyak orang 
yang telah memunculkan hati Bodhi agung. MWO HE: Orang banyak yang 
telah memunculkan hati Bodhi agung itu semuanya telah mendapatkan 
pencapaian; semuanya telah jaya.

SA TWO di sini mempunyai arti yang berbeda dari arti sebelumnya. 
Dalam baris sebelumnya kata ini berarti „menyeberangkan", namun di 
sini SA TWO mengandung arti „ia yang pahlawan", yakni ia yang gagah 
berani, dan tanpa takut. SA TWO juga berarti „ia yang penuh 
semangat", dan menunjukkan mereka yang berlatih dengan gigih dan 
maju dengan penuh semangat.

PE YE sekali lagi berarti „menghormat". Bersama-sama, kalimat ini 
menjadi: „Saya bersujud menghormat kepada Bodhisattva agung yang 
tanpa takut dan penuh semangat, dan yang telah memunculkan hati 
Bodhi."

Para Bodhisattva mencerahkan diri mereka dan membawa diri mereka 
menyeberang; mereka juga mencerahkan orang lain dan membawa mereka 
menyeberang.

6. Mwo He Jya Lu Ni Jya Ye
MWO HE sekali lagi berarti "agung, banyak, dan jaya". JYA LU 
artinya „welas asih". NI JYA adalah "hati". Bersama-sama kalimat ini 
berarti, "hati welas asih agung". YE mempunyai makna „menghormat". 
Artinya, kita harus bersujud menghormat kepada Mantra Semangat 
Dharani Hati Welas Asih Agung.

7. Nan
NAN Bermakna „bunda asal". Bunda asal juga bisa berarti „bunda 
mantra", dan „bunda Buddha". Bunda Buddha adalah ibu dari hati semua 
makhluk hidup, karena hati dari semua makhluk hidup mengandung semua 
kebijaksanaan dari bunda asal. Melalui kekuatan mantra ini, sepuluh 
macam pintu Dharma terbuka:

Yang pertama adalah „kata-kata". Yang kedua adalah „anak kalimat". 
Yang ketiga adalah „merenungkan", yakni orang yang menggunakan 
kontemplasi dan pengamatan untuk berlatih.

Yang keempat adalah „kebijaksanaan". Dengan menggunakan pedang 
kebijaksanaan orang mengikis habis semua penderitaan. Kebijaksanaan 
menunjuk kepada pintu Prajna Paramita, penyempurnaan kebijaksanaan. 
Kontemplasi atau perenungan menunjuk kepada pintu Dhyana Paramita, 
penyempurnaan meditasi Dhyana.

Yang kelima adalah „latihan". Orang berkembang dan berlatih sesuai 
dengan Dharma. Yang keenam adalah „sumpah". Orang harus bersumpah 
untuk mengembangkan pintu Dharma ini. Yang ketujuh adalah „ajaran". 
Orang harus bersumpah untuk berlatih sesuai dengan ajaran Sang 
Buddha. Jika tidak berlatih selaras dengannya, maka meskipun telah 
berlatih selama masa ribuan tahun sebanyak pasir di Sungai Gangga, 
ia tetap tidak akan berhasil. Seumpama memasak pasir dan berharap 
pasir itu menjadi nasi; hal seperti itu tak akan pernah terjadi.

Namun, untuk bisa berlatih selaras dengan ajaran Sang Buddha, orang 
pertama-tama harus memahami „doktrin". Sehingga yang kedelapan 
adalah „doktrin", yaitu prinsip Jalan. Jika menyatu dengan doktrin 
Buddhadharma yang menakjubkan, ia akan mendapatkan pengertian. Jika 
tidak, ia akan berlatih secara membuta, dan berlatih di dalam gelap. 
Biar selama apapun ia berlatih, tak akan ada hasil yang dicapai. 

Yang kesembilan adalah „sebab". Orang harus menanam suatu sebab yang 
baik, suatu benih yang terbaik, suatu sebab yang luhur. Maka di masa 
yang akan datang ia bisa memetik buah yang masak, buah yang ajaib, 
dan buah yang terbaik, buah dari pencerahan tertinggi. Sehingga 
dengan demikian, yang kesepuluh adalah „buah".

Demikianlah, kata NAN melahirkan sepuluh pintu kepada Dharma yang 
menakjubkan. Pada saat Mantra Welas Asih Agung dinyatakan dan NAN 
disebutkan, semua hantu dan makhluk halus akan mengatupkan kedua 
belah telapak tangan mereka. Mereka sungguh merasa hormat dan tidak 
berani mengendur atau menjadi malas tatkala mendengar ada orang yang 
mengucapkan Mantra Welas Asih Agung. Kata NAN ini sedemikian kuatnya 
sehingga, baik hantu, makhluk halus, setan, semuanya harus mengikuti 
aturan. NAN menyebabkan semua hantu dan makhluk halus dengan khidmat 
mendengarkan pengucapan mantra, dengan kedua telapak tangan terkatup.

(bersambung)





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke