Three Steps One Bow in Putuoshan "Tuttttt .."
Bunyi seruling kapal membahana di kegelapan pukul 7 malam 18 November 2005 di Pelabuhan Wusong, Shanghai. Si kecil Siao Sien, putra pertamaku yang berusia 5 tahun yang sejak berangkat dari Kunshan sudah menggantungkan teropong di lehernya, tampak terlihat bersemangat menjelajah pemandangan Sungai Huangpu dari atas geladak kapal dengan teropong yang baru dibelikan oleh mamanya itu. Dengan penuh keriangan dia menyaksikan kapal beranjak meninggalkan dermaga pelabuhan. Ombak yang tenang, udara dingin sekitar 10°C dan angin sepoi mengantar keberangkatan kami ke Putuoshan (baca Bu Duo San). Tetapi fenomena yang menyenangkan ini tak berumur panjang, seakan ingin membuktikan kebenaran ajaran mulia Buddha tentang ketidakkekalan dari segala sesuatu yang berkondisi. Saat dini hari, terasa sekali akan adanya ombak besar yang mempermainkan kapal hingga berguncang ke kanan dan ke kiri. Aku beberapa kali harus terjaga dari tidur, di samping karena sempitnya ranjang yang masih harus berbagi dengan Siao Sien, juga karena ayunan ombak yang sangat tidak mesra. Ketidakmesraan ini juga sangat dirasakan oleh istriku, putra keduaku Siao Wen serta penumpang lain yang berada satu kabin dengan kami. Beberapa hari kemudian kami baru tahu bahwa hampir semua penumpang kapal juga merasakan ketidaknyamanan ini. Yang dapat kulakukan waktu itu hanyalah melafalkan Amituofo (baca Amiduofo) di dalam hati dan berusaha untuk tidur kembali. Goyangan ombak tak terasa lagi ketika matahari mulai menyapa di ufuk timur. Kapal dengan tenang membelah wilayah kepulauan Zhoushan menuju ke salah satu pulau kecilnya yakni Putuoshan yang luasnya hanya 12,5 km2. Di Putuoshan tercatat ada 82 vihara besar dan kecil, 128 gubuk meditasi dan lebih dari 4 ribu bhiksu/bhiksuni. Pagi yang gerimis menyambut kedatangan kami berenam: aku, istri, Siao Sien, Siao Wen, mama istri dan bibi istri. Mama dan bibi istriku sangat kami perlukan dalam menjaga kedua putra kecil saat aku dan istriku melakukan san bu yi bai (baca san pu i pai - tiga langkah satu sujud) di hari berikutnya. Bagiku perjalanan ke Putuoshan ini merupakan yang ke-4 kalinya, yang mana pada perjalanan yang ke-2 aku juga melakukan san bu yi bai. Sedang bagi istriku ini adalah perjalanan yang ke-3 kalinya, pada kedatangan yang ke-2 dia juga melakukan san bu yi bai. Hari pertama kami lalui dengan mengunjungi beberapa vihara terkemuka yakni Fodingshan Si (Vihara Gunung Puncak Buddha), Fayu Si (Vihara Hujan Dharma) dan Puji Si (Vihara Penyelamatan Universal). Di setiap vihara tersebut terlihat adanya rupang Si Da Tian Wang (Empat Maha Raja Dewa). Dasar anak kecil, Siao Sien sempat bertanya apakah Si Da Tian Wang ini lihai, kujawab, "Ya, lihai. Besok Papa Mama akan san bu yi bai, Siao Sien harus memohon pada Si Da Tian Wang agar besok tidak menurunkan hujan." Siao Sien dengan lugu dan tulus segera memohon pada Si Da Tian Wang. Hari kedua aku dan istri bangun pukul 5:30. Udara terasa sangat dingin. Pukul 7:30 kami berdua telah berada di sisi Fayu Si bersiap melakukan pendakian hingga ke Fodingshan Si yang berada di puncak bukit. Aku membeli dan memakai pelindung lutut, sedang istriku mengenakan sarung tangan. Kami mulai perjalanan san bu yi bai secara berjalan beriringan dengan pertimbangan jalan tapak menuju puncak bukit tidaklah terlalu lebar. Aku memimpin di depan. Tak berapa lama kemudian, pasangan "dadakan" ini mulai terlihat tidak kompak. Aku tertinggal di belakang istriku. Sekitar seperempat perjalanan, istriku berhenti beberapa menit, sedang aku terus san bu yi bai dan kulihat di depan kami juga ada dua pasangan yang san bu yi bai dengan berjalan berdampingan. Setelah istriku berhasil mengejar ketinggalannya, kukatakan untuk menapak berdampingan dengan irama dan langkah yang sama. Tak butuh waktu berapa lama, kami berdua berhasil menunjukkan kekompakan. Kami menapak dan bersujud bersama meski melafalkan nama yang berbeda, istriku melafalkan Guanshiyin Pusa (Bodhisattva Avalokistevara Kuan In), sedang aku melafalkan Amituofo (Amitabha). Perbedaan dalam hal ini bukan masalah, karena yang terutama adalah ketulusan. Konsentrasi dan ketulusan membuat diriku merasa bahwa dunia ini adalah milik kami berdua, tetapi jangan salah paham, aku tidak pernah menganggap orang lain hanya "indekos". Kami mengakhiri san bu yi bai di depan pintu masuk bagian dalam Fodingshan Si. Seluruh perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Tak ada rasa penat, melainkan rasa bahagia menyelimuti batin kami berdua. Kami berhasil menaklukkan sebagian dari rasa "aku". Tak ada perasaan tak nyaman ketika para wisatawan menatap kami dengan pandangan tak biasa melihat orang melangkah sambil bersujud, ataupun tak ada perasaan sombong kala orang-orang menyebut kami sebagai umat yang saleh, pun tak ada perasaan dilecehkan saat ada yang nyeletuk mengatakan kami san bu yi bai demi memohon putra pada Guan Yin, padahal kami sudah memomong dua putra. Untuk komentar yang terakhir ini bisa dimaklumi karena kami terlihat sebagai pasangan muda yang disangka baru menikah. Demikian pula tak ada rasa jijik dan kotor ketika dahi ini menyentuh lantai batu yang kadang berhiaskan air ludah, bersujud di depan tempat sampah ataupun kala menapak tangga batu yang sedang disapu. Tahun 1997 yang lalu adalah pertama kalinya aku melakukan san bu yi bai, saat itu ada seorang rekan dari Taiwan yang mengatakan san bu yi bai tidak bermanfaat bagi pelatihan diri. Bagi yang tidak memahami memang akan berpandangan seperti itu, padahal manfaatnya tidak sedikit. San bu yi bai menunjukkan ketulusan bahwa kita adalah siswa yang berlindung pada Tri Ratna, praktik yang bagus bagi penaklukan "aku" yang angkuh, juga merupakan salah satu bentuk pengenalan Dharma bagi simpatisan maupun umat lain bahwa Dharma yang indah telah dibabarkan oleh Guru para dewa dan manusia pada sekitar 2500 tahun yang lalu dan tetap berkembang hingga detik ini. Beberapa minggu sepulang dari Putuoshan, saat membaca kisah pohon cemara di sebuah majalah, aku tersentak. Ternyata san bu yi bai juga dapat mengingatkan kita akan satu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Pohon cemara bisa bertahan dari deraian badai salju karena kelenturannya. Ketika tumpukan salju di atas ranting-rantingnya semakin tebal dan berat, pohon cemara akan membungkukkan dirinya dan menjatuhkan tumpukan salju itu ke tanah. Setelah itu ia akan kembali berdiri dengan tegak dan anggun. Demikian pula dengan hidup ini. Mengapa kita harus senantiasa memanggul beban keserakahan, kebencian, kesombongan, kemalasan, ketakutan, stress dan beban-beban duniawi lainnya? Mengapa kita tidak berhenti sejenak untuk bersujud meletakkan beban-beban itu, kemudian melangkah lagi ke depan dengan tegar seperti layaknya pohon cemara dalam terjangan badai salju serta para pelaku san bu yi bai? Aku merasa sangat malu mengapa tidak memahami "pencerahan" ini padahal Budai Heshang (Bhiksu Putai - Kantong Kain) telah memberitahukannya dengan jelas? Saat Budai ditanya untuk apa belajar Buddha Dharma, beliau meletakkan kantong kain yang dipanggulnya ke tanah. Lalu ketika ditanya lebih lanjut, setelah menjadi Buddha apa yang kita lakukan, Budai kembali memanggul kantong kainnya dan berjalan pergi. Budai dalam tradisi Mahayana Tiongkok diyakini sebagai jelmaan Bodhisattva Maitreya. Rupang Maitreya yang kita lihat dalam figur bhiksu gendut berperut besar yang dikelilingi banyak bocah kecil, itu adalah sosok dari Budai Heshang. Budai yang disenangi bocah-bocah kecil ini mengajarkan bahwa tujuan mempelajari Buddha Dharma adalah meletakkan beban-beban duniawi yang mempertebal kekotoran batin kita, kemudian setelah mencapai Jalan keBuddhaan kita membantu para makhluk untuk mengangkat beban mereka agar dapat bersama-sama mencapai Pantai Seberang terbebas dari lautan penderitaan. Ternyata san bu yi bai juga merupakan metode pelatihan diri untuk mengingatkan kita akan penerapan semangat Bodhisattva. Karena itu akan sayang sekali kalau san bu yi bai dilakukan dengan tujuan demi kepentingan diri sendiri. Master Xu Yun (Hsu Yun) juga memberikan suri tauladan. Saat berusia 43 tahun, beliau melakukan perjalanan san bu yi bai dari Putuoshan menuju Wutaishan (Gunung Lima Puncak tempat suci Bodhisattva Manjusri Wenshu Pusa). Menurut perkiraanku, perjalanan ini mencapai jarak sekitar 1.500 km Xu Yun melakukan perjalanan ini untuk menyatakan rasa penyesalan karena hasil pelatihan beliau sangat tidak sebanding dengan kehidupan bhiksu yang telah dijalani selama lebih dari 20 tahun. Selain itu, perjalanan ini juga sebagai pernyataan balas budi bagi kedua orang tua beliau agar dapat terlahir di alam bahagia. Hal ini beliau lakukan mengingat sang ibu meninggal saat melahirkan beliau serta mengecewakan sang ayah karena tidak melanjutkan keturunan. Perjalanan san bu yi bai ini berlangsung selama 3 tahun. Selain itu, selama Mei 1977 hingga Oktober 1979, dua bhiksu muda kewarganegaraan Amerika murid Master Hsuan Hua dari Dharma Realm Buddhist Association USA, Heng Sure dan Heng Chau, melakukan perjalanan san bu yi bai sejauh 500 km dari Gold Wheel Sagely Monastery di Los Angeles menuju Sagely City of Ten Thousand Buddhas di Talmage. Perjalanan selama 29 bulan ini dilakukan dengan harapan terciptanya perdamaian dunia serta tindakan nyata mendukung keberhasilan perjuangan Ten Thousand Buddhas dalam pembabaran Dharma di bumi Paman Sam. Perlu ditambahkan bahwa selama perjalanan san bu yi bai ini, kedua bhiksu yang sekarang merupakan Doktor Buddhis ini, tetap menjalankan tata tertib kehidupan bhiksu di Dharma Realm yakni bangun pukul 4 dini hari, membaca Sutra dan bermeditasi hingga pukul 10 malam. Mereka hanya makan sehari sekali, itupun dengan menu vegetarian. Jadi apalah artinya san bu yi bai selama 2 jam yang kami lakukan dibandingkan para Bodhisattva di atas? Selama 2 jam aku berfokus pada harapan: satu, perdamaian dunia dan tanah air; dua, kesehatan dan ketentraman sanak keluarga; tiga, pekerjaan yang sesuai agar dapat melakukan pelatihan pahala duniawi dan kebijaksanaan. Ya, ini juga membuktikan bahwa aku masih merupakan umat awam, hanya 2 jam tapi maunya begitu banyak, mau enaknya sendiri. Setidaknya selama melakukan dua kali san bu yi bai di Putuoshan ada beberapa hal yang perlu dicatat. San bu yi bai yang pertama kali kulakukan pada musim panas 1997. Di hari pertama matahari sangat terik, tetapi di hari kedua yakni hari san bu yi bai, mendung dan udara sejuk. Kemudian kesehatan kedua orang yang kudoakan menunjukkan kondisi yang baik. Sedang kali ini berlangsung pada musim dingin, yang mana hari pertama turun hujan gerimis, tetapi hari kedua saat san bu yi bai, cerah dengan tanpa turun setetespun air hujan. Guru Buddha mengajarkan kita untuk tidak menjadi sombong dan memamerkan apa yang kita lakukan, demikian pula pengalaman Dharma ini bukan untuk pamer, melainkan merupakan bagian dari tukar pengalaman untuk memperkokoh keyakinan kita akan Dharma yang indah. Seperti yang pernah dikatakan oleh penulis dan dramator Inggris George Bernard Shaw (1856 -1950): dua orang saling bertukar buah apel, pada akhirnya setiap orang tetap hanya memiliki sebuah apel; tetapi dua orang yang saling bertukar pikiran, pada akhirnya pemikiran setiap orang akan menjadi lebih kaya dengan adanya pemikiran yang lain. Inilah makna kita saling bertukar pengalaman Dharma. Pengisahan ini juga merupakan bagian dari pembabaran Dharma serta praktik pelenyapan ke-aku-an yang berupa rasa malu, segan ataupun takut untuk tampil menyatakan diri sebagai siswa Buddha. Demi kebahagiaan semua makhluk, lebih baik keliru dicap sebagai suka pamer daripada berdiam menyimpan pengalaman Dharma bagi diri sendiri. Mari kita kembangkan Bodhicitta serta membabarkan Dharma bagi kebahagiaan semua makhluk. Diambil dari Sinar Dharma edisi 12 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free. http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
