Apanya yg tidak realistik dgn bidang pertanian? Misalnya, jika di lingkungan wihara diberi ruang utk sebuah kebun tanaman hias, bukankah selain tanaman tsb dapat dijual juga sekaligus kebun tsb dapat memperindah lingkungan wihara? Atau jika terdapat kebun tanaman obat2 keluarga, tentu sangat selaras dgn semangat Buddhisme yang menghargai kehidupan, bukan?
Terlalu idealis bagaimana, ya? Menurut saya, bidang pertanian lebih membumi dan sesuai dgn semangat Buddhisme ketimbang pertenakan, Salam Chuang PuzzleBali http://baliedu.blogspot.com ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Tuesday, September 11, 2007 9:30 AM Subject: Re: [MABINDO] Vihara Sebagai Penggerak Ekonomi Umat > Tetapi apakah itu tidak berarti kita menjadi terlalu idealis dan tidak > realistis? > > > > > > > > > > "Chuang" <[EMAIL PROTECTED]> > Others, 09/10/2007 10:14 PM > Sent by: [email protected] > > To: <[email protected]> > cc: > Subject: Re: [MABINDO] Vihara Sebagai Penggerak Ekonomi > Umat > > Mungkin yg lebih cocok utk lingkungan wihara dan Buddhisme adalah bidang > pertanian, bukan peternakan. Bisa berupa kebun sayur, tanaman hias, atau > tumbuhan bernilai ekonomis lainnya. Dan terutama, harus berupa konsep > pertanian organik supaya selaras dgn semangat Buddhisme yg menghargai > kelestarian alam. > > Salam > > Chuang > PuzzleBali http://baliedu.blogspot.com > ----- Original Message ----- > From: <[EMAIL PROTECTED]> > To: "Mubi Milis" <[EMAIL PROTECTED]>; "Mabindo Milis" > <[email protected]>; "Milis SamaggiPhala" > <[EMAIL PROTECTED]>; "Buddha Vacana" > <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, September 10, 2007 1:29 PM > Subject: [MABINDO] Vihara Sebagai Penggerak Ekonomi Umat > >> Mohon pendapat rekan sekalian. >> Mengingat banyak umat Buddha di pedesaan yang masih rendah tingkat >> perekonomiannya, adalah sangat baik jika vihara menjadi penggerak roda >> perekonomian umatnya, dan tidak hanya bergantung pada umat. >> Jika kita melongok ke pertapaan trapis rowoseneng, kita akan menemukan >> bahwa dalam kompleks biara tersebut akan ditemukan peternakan sapi perah >> yang menghasilkan susu sebanyak 600 liter per hari, 3/4 bagian dari susu >> tersebut dipasarkan ke masyarakat, 1/4 bagiannya dioleh menjadi keju dan >> yoghurt bermutu tinggi. >> Pertanyaannya adalah apakah hal yang sama diperbolehkan diterapkan dalam >> kompleks vihara? >> Maksud saya adalah apakah dimungkinkan memelihara sapi perah dalam >> kompleks vihara (atau mungkin bukan dalam kompleks tetapi intinya >> sapi-sapi tersebut adalah milik vihara). Apakah mengambil susu sapi >> termasuk eksploitasi yang tidak dapat diterima dalam ajaran Buddha >> (sehingga tidak pantas jika hal tersebut dilakukan dalam kompleks > vihara, >> atau oleh vihara, atau bahkan oleh umat Buddha)? >> Mohon pendapat rekan sekalian. >> > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** > > ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** > Yahoo! Groups Links > > >
