Tujuh kasus yang diceritakan oleh Sayadaw U Sujata.
   
    
   Seorang yogini (yogi wanita) sembuh dari tumor di dalam perut.
   
  Kira2 di bulan September 1962, Daw Khin Thwe, seorang wanita dari Ta Mwe, 
Yangon, memulai meditasi Vipassana di Pusat Latihan Meditasi Mahasi Thathana 
(sasana) Yeikhtha (M.T.Y) Di kota. Tiga hari kemudian saya melihat satu 
kelompok yogini mengelilingi dan memijatnya.
   
  “Apa yang terjadi?” saya bertanya.
  “Saya mengalami rasa sakit yang mencengkram”, Daw Khin Thwe menerangkan. Ada 
tumor di perut saya, jadi saya tidak bisa duduk lama2. Di rumah, juga sewaktu 
teman2 atau tamu2 datang untuk duduk-duduk dan mengobrol, setelah hanya kira2 
setengah jam, perut saya begitu sakit sampai saya harus permisi dan mendapatkan 
pijitan untuk meringankan rasa sakitnya. Saya pergi ke dokter untuk memeriksa, 
dan katanya ada sebuah tumor yang besar di dalam perut saya, dan diperlukan 
operasi bedah untuk membuangnya. Itu empat tahun yang lalu. Tahun ini ia 
berkata, “Ini tidak bisa dibiarkan, ini harus dioperasi sekarang juga!” Tetapi 
saya juga bisa mati dalam operasi itu, dan saya belum mendapatkan Dhamma yang 
merupakan sumber perlindungan yang dapat diandalkan. Menurut anggapan saya, 
saya harus berjuang merealisasikan Dhamma. Saya datang ke mari dengan tujuan 
itu, dan sekarang setelah duduk dan melatih meditasi belum sampai satu jam, 
saya menderita kesakitan yang luar biasa di dalam perut
 saya…”
   
  “Dan anda belum pernah memberitahukan kepada saya mengenai hal ini dari 
awal!” saya berseru, “Sang Buddha membabarkan di dalam Mahasatipatthana Sutta 
bahwa seseorang bisa bermeditasi dengan penuh perhatian di semua keempat sikap 
dari jalan, berdiri, duduk atau berbaring. Pada kasus anda, untuk mencegah 
kesakitan itu kumat lagi di dalam perut, kamu boleh bersandar pada dinding 
sewaktu kamu duduk, atau duduk di kursi yang bisa diatur posisinya, atau bahkan 
berbaring lurus dan melanjutkan meditasi dan selalu mencatat dalam hati semua 
fenomena yang timbul.
   
  Duduklah dalam posisi sedemkian rupa, sehingga tidak menyakitkan. Kamu boleh 
duduk, atau berbaring, dan tetap menjaga kesadaranmu seperti yang kamu suka. 
Jika konsentrasi, dan pengetahuan pandangan terang telah muncul, tumormu 
mungkin bisa lenyap.” Saya memberi petunjuk kepadanya. “Saya akan melanjutkan 
perjuangan menurut instruksi2 Sayadaw. Tetapi saya juga akan mengunjungi dokter 
untuk check up”., ia memohon, dan saya memberikan izin.
   
  Jadi dia pulang ke rumah dan memeriksakan diri ke dokter. Sepertinya setelah 
diperiksa, dokter itu berkata, “Engkau harus menjalani operasi bedah untuk 
membuangnya. Engkau tidak boleh melanjutkan duduk bermeditasi (Vipassana). Jika 
kamu melakukannya, kamu bisa mati!”
   
  Saya mengetahui hal ini hanya setelah ia kembali, setelah berada di rumah 
selama dua hari.
   
  “Jika demikian kamu harus tidak putus asa dalam perjuanganmu bermeditasi 
Vipassana, apakah kamu akan mati atau tidak, atau tumornya akan hancur, kita 
pasti akan mengetahuinya. Jika kamu ingin duduk di atas kursi, atau duduk 
bersandar di tembok dan sebagainya, kamu boleh melakukannya. Sewaktu kamu 
berbaring, kamu juga bisa menjaga kesadaran dan perhatianmu. Pada waktu jam 
makan juga, sewaktu menjumput makanan dengan jari2mu, mengambil dan 
mengangkatnya, membuka mulut, menyuapnya ke dalam mulut, mengunyah, menelan, 
dan seterusnya, kamu harus terus menerus menjaga penuh perhatian terhadap 
segalanya, demikian juga ketika kamu makan. Semua ini sesuai dengan apa yang 
telah dibabarkan oleh Sang Buddha (yaitu : asite, pite, khayite, sayite 
sampajanakari) dan yang telah dijelaskan lebih jauh oleh Y.A. Mahasi Sayadaw 
dan diinstruksikan sebagai tugas pada meditasi Vipassana ….”
   
  Daw khin Thwe melanjutkan perjuangan melatih meditasi Vipassana menurut 
instruksi2 di atas. Kira2 lima belas hari kemudian, ketika sedang makan dalam 
perhatian dan kesdaran penuh, ia merasakan bau yang sangat busuk. Karena 
keheranan, ia berpikir sejenak, setelah itu terpikir, bahwa itu pasti adalah 
tumornya.
   
  Jika demikian persoalannya, tumor anda kemungkinan sedang hancur”, saya 
mengingatkannya dan terus memberinya semangat. Betul saja, seperti yang telah 
saya katakana, tumor besarnya sedikit demi sedikit sedang hancur dan akhirnya 
lenyap dari perutnya. Daw Khin Thwe sangat gembira sekali. Waktu ia kembali 
kepada dokternya untuk pemeriksaan medis lagi, dokternya sangat terkejut.
   
  “Ha! Tumormu tidak ada lagi di sana! Apa yang telah kamu lakukan?”, dokternya 
bertanya keheranan. “Saya berlatih meditasi Vipassana di Mahasi Yeiktha. 
Lihatlah, walaupun anda berkata bahwa jika saya melakukan meditasi, saya bisa 
mati, bukan saja sekarang saya belum mati bahkan tumor saya telah hilang 
tuntas!” ia menjawa dengan penuh kemenangan.
   
  Dan dokternya berseru, “Hey, apakah benar begitu? Dhammamu sungguh ajaib yah? 
(Dokter itu adalah keturunan India).


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke