http://www.jawapos.co.id:80/index.php?act=detail&id=10349 
<http://www.jawapos.co.id:80/index.php?act=detail&id=10349>
Senin, 21 Apr 2008,
* Prancis dan Pahlawan Obor Olimpiade *

Oleh Dahlan Iskan
GANGGUAN terhadap obor olimpiade oleh aktivis kemerdekaan Tibet telah 
membuat rasa nasionalisme rakyat Tiongkok terbakar. Terutama sejak 
"peristiwa Paris" pekan lalu. Di ibu kota Prancis itu, api yang lagi 
dikelilingkan dunia tersebut diserang untuk direbut dari tangan gadis 
cacat yang membawanya di atas kursi rodanya. Ditambah munculnya 
pernyataan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy yang berencana memboikot 
pembukaan olimpiade.

Peristiwa itu kontan melahirkan gerakan memboikot Carrefour, jaringan 
pasar swalayan Prancis di seluruh Tiongkok. Mula-mula berbentuk SMS, 
lalu internet, dan minggu lalu mulai berwujud demo-demo di depan 
Carrefour. "Memalukan kalau masih ada yang belanja di Carrefour." Begitu 
bunyi salah satu spanduk yang mereka bawa.

Dari pembicaraan saya secara informal dengan banyak orang biasa di 
Tiongkok, mulai dari Beijing dan Tianjin di utara sampai Shanghai di 
tengah dan Shenzhen di bagian selatan, terekam bahwa kemarahan mereka 
kepada Prancis sangat menyala-nyala.

Carrefour yang di Tiongkok disebut Jia Le Fu memang berkembang pesat 
belakangan ini sehingga menjadi simbol kehadiran Prancis yang mencolok 
di seluruh Tiongkok. Di tiap kota besar selalu ada tiga atau empat Jia 
Le Fu. Bahkan, kini sudah merambah ke kota-kota sedang dan kecil.

Pembantu saya di Tianjin yang dulu juga biasa belanja di Carrefour 
ternyata juga sudah tidak mau ke sana. Karena itu, ketika saya tanya 
apakah yang berbelanja di Carrefour kini menyusut, dia tidak bisa 
menjawab. "Saya tidak tahu. Saya tidak belanja lagi di Jia Le Fu," 
katanya. "Saya belanja di Yi Mai De," tambahnya. Nah, pembantu saya yang 
asli Tianjin pun sudah terbakar emosinya. Yi Mai De adalah mal dan 
supermarket lokal yang juga sangat besar. Meski tempatnya sedikit lebih 
jauh daripada Jia Le Fu, toh dia memilih belanja ke sana.

Begitu meluasnya perasaan tidak suka akan sikap Prancis itu membuat 
orang Prancis yang tinggal di Tiongkok sampai risi. Salah seorang tokoh 
bisnisnya sampai-sampai menulis di China Daily Rabu lalu, mengimbau agar 
Barat memahami dengan benar Tiongkok baru yang sudah berbeda dengan 30 
tahun lalu.

Dia juga minta Barat untuk realistis karena tuntunan Dalai Lama tidak 
lagi realistis. Menurut tulisan tokoh bisnis Prancis di Beijing itu, 
meski Dalai Lama kelihatannya hanya minta otonomi, namun ketika 
dijabarkan seperti apa otonomi yang dimaksudkan itu, ternyata sampai 
pada tidak boleh ada tentara Tiongkok sama sekali di Tibet. Juga tidak 
boleh ada orang suku Han di pemerintahan Tibet. Suku Han adalah suku 
utama di Tiongkok, yang jumlahnya mencapai 90 persen penduduk Tiongkok. 
Lebih sulit lagi, yang dimaksud dengan wilayah Tibet adalah bukan hanya 
daerah otonomi (setingkat provinsi) Tibet sekarang ini, melainkan juga 
provinsi-provinsi lain di sekitarnya. Misalnya sebagian dari Provinsi 
Gansu, sebagian dari Provinsi Sichuan, dan keseluruhan Provinsi Qinghai 
yang sangat luas itu. Wilayah-wilayah yang disebutkan tadi kalau 
dijadikan satu sama dengan seperempat wilayah Tiongkok sekarang. 
"Mungkinkah Tiongkok akan memenuhi keinginan seperti itu?" tulisnya.

Tokoh bisnis Prancis lainnya juga menulis bahwa apakah yang jadi aktivis 
sampai menyerang obor olimpiade itu juga pernah melihat Tibet belakangan 
ini? Dia menyebutkan, dalam sejarah Tibet, termasuk saat dikuasai 
beberapa negara asing lainnya, baru sekarang inilah dilakukan 
pembangunan besar-besaran. Jalan-jalan tol, jalan-jalan kereta api, 
jalan-jalan pedesaan, dan pertanian dikembangkan dengan sangat mencolok. 
Termasuk membangun jalan kereta api yang termahal di dunia karena jalan 
itu harus dibangun di atas lahan yang tingginya lebih dari 4.000 meter. 
Gangguan terhadap obor olimpiade itu sampai ajakan boikot olimpiade, 
menurut dia, hanya akan membuat dunia yang sudah keruh akan semakin 
keruh saja.

Saya jadi ingat bahwa Presiden Hu Jintao adalah orang yang secara 
emosional juga tidak mungkin mengalah dalam soal Tibet. Presiden Hu 
ketika muda dulu adalah panglima militer untuk wilayah Tibet sehingga 
tahu benar kondisi Tibet dan cara mengatasinya. Di awal karirnya sebagai 
tentara, Presiden Hu adalah orang yang dianggap berhasil memadamkan 
gejolak terbesar dalam sejarah tuntutan kemerdekaan Tibet. Tidak mungkin 
ketika Hu justru menjadi penguasa tertinggi di Tiongkok sikapnya akan 
melunak.

Maka, kalau gangguan terhadap obor itu masih akan terus berlangsung 
sepanjang perjalanan obor sampai ke pelaksanaan olimpiade, kita bisa 
membayangkan reaksi rakyat Tiongkok nanti. Keresahan dunia akibat perang 
Iraq, disusul krisis harga minyak, disusul ancaman krisis pangan (yang 
oleh ahli diramalkan bisa berkembang sampai mengakibatkan perang 
antarnegara), dan ditambah dengan krisis keuangan dunia sekarang ini 
belum dapat jalan keluar. Masih akan ditambah lagi ketegangan akibat 
politisasi olimpiade tahun ini.

Padahal, obor olimpiade masih akan melintasi beberapa wilayah rawan 
seperti Jepang dan lalu ketika mampir ke Tibet sendiri. Kita masih terus 
waswas apa yang akan terjadi, termasuk sampai seberapa jauh nasionalisme 
rakyat Tiongkok akan tersulut. Teman saya yang sangat sabar seperti 
Robert Lai saja ikut emosional dalam soal Tibet ini, sampai-sampai 
kehilangan rasa humornya yang tinggi. Karena itu, ketika dia bertanya 
kepada saya apakah saya setuju ajakan boikot pada Carrefour, saya jawab 
dengan humor yang bisa menurunkan tensinya.

"Saya lebih setuju kalau yang diboikot adalah Louis Vuitton. Ini karena 
harganya yang mahal. Masak satu tas wanita harganya Rp 30 juta," kata 
saya. Ternyata, dia masih bisa tertawa. Saya lega. "Ya, saya juga 
setuju. Agar istri saya tidak minta LV," ujarnya. Saya masih terus 
bercanda padanya. "Mestinya, Anda tidak setuju boikot produk Prancis. 
Anakmu saja namanya Michelle," kata saya mengenai anaknya yang masih 22 
tahun, cantik, cerdas, dan kini sudah bekerja di bagian yang penting 
bank asing yang berkantor di Singapura. "Dan istrimu sendiri tiap hari 
bicara dalam bahasa Prancis," tambah saya.

Rakyat Tiongkok begitu bangga menunggu berlangsungnya olimpiade. 
Bertahun-tahun sudah dibangun sikap untuk menyukseskan olimpiade itu. 
Tiba-tiba, ketika waktunya hampir tiba, terjadi gerakan pemboikotan. 
Maka, perasaan nasionalisme mereka seperti dihinakan.

Seorang warga Kota Nanjing Jumat lalu menempuh cara yang unik untuk 
menggalang nasionalisme Tiongkok itu. Dia pasang iklan berwarna satu 
halaman penuh, di halaman depan pula. Dia nyatakan perasaan kecewanya 
dengan membayar iklan yang begitu mahal di Xian Dai Ri Bao.

Seorang sastrawan membuat sajak panjang yang nadanya juga amat kecewa 
terhadap Barat. Judul puisi itu kira-kira mirip dengan Pertanyaan untuk 
Rumput yang Bergoyang:

Ketika kami tertutup,
Kau selundupkan narkoba.
Ketika kami buka pasar bebas,
Kau anggap mencuri lapangan kerja.
Ketika kami miskin,
Kau hinakan kami seperti anjing.
Ketika kami maju,
Kau anggap kami ancaman.
Ketika negeri kami terbelah-belah,
Kau ambil satu irisan melonnya.
OK, Lalu kami jadi negara komunis,
Tapi lantas kau benci kami.
Ketika kami menerima kapitalisme,
Kau tetap juga membenci kami.
Ketika penduduk kami 1 miliar,
Kau tuduh kami mau kuasai planet.
Ketika kami galakkan KB,
Kau tuduh kami tidak manusiawi.
Ketika kami miskin,
Kau anggap kami pengemis.
Ketika kami mulai pinjami kau uang,
Kau tuduh kami penambah utang kalian.

Dan masih panjang lagi. Berkali-kali saya membaca puisi itu karena 
membayangkan juga kurang lebih itulah yang dialami Palestina dan 
Indonesia dengan demokrasi barunya.

Tapi, di samping menimbulkan kejengkelan yang meluas, gangguan terhadap 
obor olimpiade di Paris itu juga melahirkan pahlawan. Rakyat Tiongkok 
kini sangat bangga dan memuja seorang gadis berumur 26 tahun asal Anhui 
bernama Jin Jing. Gadis cantik ini adalah seorang altet penyandang 
cacat. Kedua kakinya tinggal separo. Penyakit malignen yang dia derita 
ketika kecil membuat kakinya harus diamputasi. Meski cacat, semangat 
gadis ini luar biasa. Dialah yang saat itu membawa obor di atas kursi 
rodanya.

Ketika obor itu diserang aktivis pro kemerdekaan Tibet, Jin Jing melawan 
dengan hebat dari atas kursi rodanya. Terjadilah serang-menyerang. 
Seluruh penyerangnya laki-laki. Dan yang mempertahankan obor adalah 
seorang gadis cacat di atas kursi roda. Tapi, Jin Jing, atlet nasional 
penyandang cacat itu, berhasil menyelamatkan obor tersebut. Adegan itu 
tiap hari, tiap jam, diputar di TV Olimpiade Tiongkok yang selama 24 jam 
menyiarkan aktivitas di sekitar olimpiade dan olahraga. Momen tersebut 
juga disiarkan setiap hari oleh TV-TV lain dalam berita dan 
ilustrasi-ilustrasi yang disisipkan di antara acara-acara TV. Jadilah 
Jin Jing pahlawan penyelamat obor olimpiade. (*)

Kirim email ke