---------- Forwarded message ---------- From: Agus Santoso <[email protected]> Date: 2009/1/25 Subject: report: Ch'an 7 di Jogja (1) To: ramu dharmajala <[email protected]> Cc: tony dharmawan <[email protected]>, Robby C < [email protected]>, Nyanabhadra <[email protected]>, ZiHao Chen <[email protected]>, Jimmy Lominto <[email protected]>, Chang Tho Shi <[email protected]>, Nyanagupta <[email protected]>, Yenny <[email protected]>, Junarto M Ifah <[email protected]>, siwu < [email protected]>, Liana chia <[email protected]>, Juliani < [email protected]>, Merita123 <[email protected]>, [email protected], Tonny Chua <[email protected]>, yessy ayu < [email protected]>, Wilis Rengganiasih <[email protected]>, sanjaya < [email protected]>, ekayana <[email protected]>, Sri Lestari < [email protected]>, Agus Santoso <[email protected]>, Susi < [email protected]>, [email protected], Suhendra < [email protected]>, Surjadi Harjadi <[email protected]>
Ch'an 7 di Jogja dg Guojun Fashi Januari 2009 Syukur dan Terimakasih Saya setulus2nya sungguh bersyukur dan berterimakasih kepada begitu banyak sahabat yang telah menyokong baik moril maupun materiil, dan membuat retret Ch'an 7 di Jogja bisa terjadi: Bhante Vimala, Ekayana, Samanera Nyanagupta, ko Zihao, ko Jimmy Lo, Pak Benny Luhur, ko Suhendra, Pak Surian, Changtuo Fashi, ko Djemi cs panitia Jakarta yg bersedia membagikan waktu GJFS dg kami yg di Jogja dst. dst. Dan tentu saja kepada Bhante Sasana Bodhi dan rekan2 peserta Jogja, para dermawan, Villa Nalendra, Pacific resto, juga rumah retret Omah Jawi, sahabat2 Friday Sitting Grup. Dan masih banyak lagi pihak yg membuat retret ini mungkin, sebagaimana misalnya yg secara tradisional selalu disebut dalam ritual syukur & dedikasi di akhir retret Ch'an, yakni anggota keluarga kita sendiri masing2 di rumah yg telah menyokong keberangkatan kita pada retret tsb. Sungguh membahagiakan ketika ada banyak sahabat bergotongroyong melakukan kebajikan bersama2... Pra Retret - GJFS mendarat di Jogja tgl 13 Januari 2009, jam 13.00an. Siang itu saya meng-arrange-kan perjumpaan GJFS dg Bhante Pannyavaro di airport. Bhante Pannya mendarat lebih awal dari Bali, kami memapak Bhante, beliau kemudian istirahat duduk di Manday resto. Pesawat GJFS telat sejam. Begitu GJFS keluar dari pintu kedatangan, Bhante Pannya sungguh humble, beliau langsung bergegas keluar dari resto menyambut GJFS. GJFS segera membungkuk hendak bernamaskara tapi Bhante ikut berjongkok-jongkok berkeras mencegah namaskara GJFSh ... Momen yg sungguh mengharukan ... Rombongan Samanera Nyanagupta, Chang Hong Fashi, dan Chuan Wu Fashi datang menyusul, mereka bersama2 bernamaskara ke Bhante Pannya. Kami semua lalu diajak Bhante masuk ke resto. Bhante segera menjadi akrab dg GJFS. Sy keluar mengurus bagasi. Setelah sy masuk lagi ke resto, Bhante bergurau, "Pak Agus, ini saya sedang ditest :)" .. GJFS segera menukas, "Ah, jangan begitu Bhante, tidak berani--tidak berani"... Bhnate lalu bilang, "Oya udah, ini cocok2an saja :)" Beliau berdua berdiskusi mengenai meditasi. GJFS kemudian [kalau tak salah] bilang, "Mohon berkah Bhante atas retret yg akan kami langsungkan" Sekarang gantian Bhante yg bilang, "Wah jangan begitu, jangan begitu ...:)" Sy tidak lagi mengikuti pembicaraan beliau2 berdua, karena sy lalu sibuk telponan dg staff kantor sy serta masih menyiapkan segala sesuatu untuk retret tgl 15. - Tgl 14 Januari kami pergi ke Borobudur. Wah hari ini sungguh penuh berkah ... Di Borobudur kami kembali berjumpa Bhante Pannya, beliau mengantar empat bhikkhu senior Srilanka. GJFS memberi penghormatan kepada bhikkhu2 tsb. Setengah jam kemudian kami lihat rombongan Luang Pu Am, dikawal oleh ko Ayau & Bhante Dhammadiro, dll. GJFS sy ajak memberi penghormatan kepada Luangpu. Luangpu merapalkan kata-kata pemberkatan dlm bahasa Thai. Ko Robby, ko Zihao, Eka terusmenerus ceprat cepret mengabadikan momen2 yg menyentuh hati ini. Kami lalu berpisah karena kami menyewa guide, ketika kembali berjumpa dg Bhante Pannya, GJFS mohon untuk bisa berfoto bersama dg Bhante dan para Bhante Srilanka. Wah, sedari kemarin siang ko Robby cs pesta foto. Barangkali ko Robby bisa posting foto2 tsb di Kolam Teratai. Kwalitas Retret Ch'an 7 di Jogja Retret di ikuti kira-kira 35an orang. Kalau plus rombongan GJFS, jadi 42an orang tinggal di Omah Jawi, Kaliurang, Jogja. Dari 35 peserta Jogja, yg 10 tidak ikut full, yg 25 full. Pria 25, wanita 10 orang. Peserta kebanyakan pelajar atau pekerja-muda dg kota asal seluruh penjuru tanah air; ada satu orang Thailand si Oo, kawanku fitness. Usia peserta berkisar 20 ~ 30an thn. Yg berusia 40an hanya 5 orang, saya yg tertua. Sebelum retret sy sudah melapor ke GJFS bhw peserta retret ini kebanyakan adalah sobat2 sitting grup, tp bukan berarti mereka praktisi2 kawakan lho. Shifu Guojun menjawab, "Oke, bagus, kwalitas sitting mereka tak begitu penting. Yg paling penting adalah fakta bhw nyatanya mereka mau rutin ikut di sitting grup, berarti mereka punya right-view, ini paling penting." Dan surprise, surprise, ternyata dg kelihaian panduan GJFS, mayoritas peserta jadi bisa duduk tenang selama berjam2. Sy kenal semua peserta, sy tahu kemampuan sitting mereka masing2, dan ternyata semuanya jadi bisa sit dg lebih baik ketimbang kemampuan sit harian mereka. Bahkan ajaib, bbrp orang yg jelas2 tak pernah berlatih samasekali pun bisa perform dg sangat baik bagai praktisi kawakan. - Dari segi kelancaran dan ketertiban, dari semua retret yg pernah sy urus di Indo, ini adalah yg PALING rapi dan tertib. Artinya: SEMUA PESERTA MAUPUN VOLUNTEER, panitia, selalu mengikuti SEMUA SESSI dg penuh dan relatif tepat waktu baik dalam sitting, teaching, meditasi kerja, aktifitas outdoor dst. dst. Tidak ada peserta ataupun panitia yg sembunyi, keluyuran, menunda2 masuk Ch'an hall, tidur, atau hilang tanpa kabar ! Ada bbrp insiden peserta yg saling berbisik2 di kamar tidur, tp jumlahnya minor. Ketidaktertiban dlm retret2 biasanya adalah peserta atau panitia yg hilang tidak mengikuti sessi, ngobrol, atau telat, menunda2 masuk ke Ch'an hall---intinya bosan dan takut sakit. *Adanya 3 orang berjubah (samanera Nyanagupta cs) yg memimpin retret dan mengawasi kita semua pastilah ini sangat kondusif membuat suasana retret menjadi serius.* Fenomena "Open-Up" - Setelah retret selesai, selain pendapat pribadi, juga dari luarbiasa antusias sambutan sobat2 di sessi akhir sharing, sy menyatakan ke GJFS, "Shifu, dlm retret kemarin performa Anda sungguh hebat dan menyentuh sekali ..." ...... Beliau menjawab, "Terimakasih. Tapi itu juga karena batin kalian *open-up*" Open-up adalah fenomena ketika praktisi setelah berlatih [dlm retret] dg tertib, baik, dan tekun--maka mekanisme-pertahanan-dirinya (*self defense mechanism*) mengendor, egonya melembut, dan hati & benaknya membuka (* open-up*)--dg demikian *approach* sang guru bisa langsung masuk, mengena, dan sangat effektif. - Satu contoh fenomena open-up adalah terjadi pada sobat lama sy, Watsin. Ia adalah penerjemah buku2 Master Shengyen terbitan sy [suwung]. Jadi ia sudah mengenal Ch'an untuk waktu yg cukup lama, tp belum sempat menjalani latihan intensif. Sobat sy ini memang very stong & sharp minded. Watsin tdk pernah latihan sit rutin sebelumnya, jaman dahulu pernah jadi pelatih karate Kyokushinkai. Dlm retret, setelah mengikuti petunjuk2 GJFS, mulai hari ketiga ia bisa duduk sangat stabil & nyaman selama berjam-jam. Di akhir retret, dlm sessi sharing, ia bilang, "Sy sungguh heran ya, semua yg diucapkan oleh Shifu Guojun itu kebanyakan sebenarnya sy ya sudah tahu semua--tp entah karena ketrampilan beliau, atau karena suasana retret ini---sy sungguh2 tersentuh oleh kata2 tsb... Dan ... hati sy jadi sedih sekali, sy malam ini juga jadi kepingin cepat2 pulang rumah! Krn sy lalu menyadari betapa selama ini sikap sy terhadap keluarga payah sekali !" -- Watsin selesai sharing lalu bener2 langsung pulang tengah malam itu juga. Untuk hal2 tsb di atas itulah sy beranggapan bhw ini adalah retret yg PALING SUKSES. Ketika retret Ch'an yg di Parakan taon lalu, masih banyak peserta yg omong2 sendiri atau panitia yg tidak tertib. Barangkali lebih tepatnya dari waktu ke waktu retret kita memang jadi semakin baik dan semakin baik. Dari sisi PERSERTA & PENYELENGGARA: peningkatan kwalitas retret yg signifikan ini antara lain disebabkan oleh: 1. Di Jogja dilakukan persiapan & pengondisian sebelum retret selama 3 bulan baik menyangkut materi retret maupun sampai hal2 kecil teknis yg sepele. Kami melakukan diskusi, rapat, latihan bersama, survey, melaporkan perkembangan, berembug ttg acara, jadwal, akomodasi, pengenalan tatatertib, dst. dst. 2. Adanya praktisi inti (*core*):* *sekitar 70 % peserta adalah sahabat2 dalam Friday sitting grup. Mereka saling mengenal sekian waktu. Peserta yg baru hanya sekitar 30%, itupun mereka adalah orang2 yg sudah terseleksi dan hampir semuanya melewati persiapan menghadiri sitting grup minimal 3 kali selama periode 3 bulan sebelum retret, dan terus menjaga kontak, check, re-check. 3. Orang baru dicheck latarbelakang latihannya, dan diminta untuk berlatih rajin di rumah selama 3 bulan tsb, sembari saya ajak langsung latihan duduk-meditasi bersama bbrp kali, dg demikian kita bisa tahu kemampuan serta pemahaman mereka, atau kemudian mereka malah kemudian mundur dg sendirinya oleh *demand* tsb. Dari hal2 tsb sy berkesimpulan bhw seyogianya retret2 Ch'an bukanlah event2 terpisah atau event2 dadakan yg ibarat bikin party lalu bubar, party lagi lalu bubar begitu saja. Seyogianya retret adalah sebuah kulminasi dari suatu rangkaian latihan2 panjang keseharian kita. Untuk demikian maka sitting grup adalah sangat relevan. Kita keep contact. Peserta yg benar2 baru dan asing jangan melebihi separuh jumlah peserta. Kita lakukan seleksi. Kalau jumlah peserta retret sedikit juga tak apa, yg penting kwalitas jangan dikorbankan. Fenomena Open-up terjadi tidak begitu saja, menurut hemat sy selain memang karena kelihaian sang Ch'an Master tp itu disebabkan oleh 3 point yg sy sebutkan di atas. Untuk hal inilah menurut hemat sy persiapan semacam 3 point di atas sungguh layak diusahakan lagi dan lagi. (bersambung) [Non-text portions of this message have been removed]
