From: suwung2004 <[email protected]>
Subject: [Ramu_Dharmajala] Report: Ch'an 7 di Jogja (2)
To: [email protected]
Date: Friday, January 30, 2009, 7:56 AM


Ch'an 7 di Jogja

dg
Guojun Fashi
Januari 2009

(2)


*I had heard him speak with great skepticism about universal ideas and with
great respect about invidual things; and afterward, too, I thought this
tendency came to him from his being both a Briton and a Franciscan.*

~ The Name of The Rose, Umberto Eco, hlm 37 ~


Individual Things
GJFS kurang berminat jika teachings beliau [di dlm retret] direkam dan
disebarluaskan.
Setelah direnung2 sy juga sungguh sepakat dg hal ini. Teachings di dlm
retret adalah terjadi pada suatu sikon yg sangat partikular yg tidak bisa
digeneralisir. Jika seseorang mendengarkan teachings tsb di luar suasana
retret ia takkan memperoleh banyak manfaat. Salah-salah ia malah bisa sesat
dg meremehkan dan merasa sudah tahu tanpa lewat ngelakoninya sendiri ataupun
menjadikannya bahan analisis ini dan itu.

Jika kita banyak berkontemplasi & menginvestigasi, secara natural kita akan
tiba pada sikap yg skeptis terhadap hal-hal yg general. Kita akan cenderung
menghargai hal-hal yg partikular sebagaimana kutipan dari buku "berat" the
Name of The Rose di atas. Umberto Eco dikenal sebagai salah satu dari bbrp
gelintir orang pinter di jaman ini. Dengan bergurau kadang dikatakan bhw,
"Sehabis membaca buku karya Umberto Eco, IQ kita akan naik bertambah 10~20
point."

Untuk hal inilah sebaiknya segala report ataupun dokumentasi- retret bisa
disikapi sebagai sesuatu yg unik, individual, partikular, dan terjadi pada
sikon yg khusus.

Bergulat dg Rasa-Sakit
Retret Ch'an pertama sy adalah Ch'an 14 days New York Winter Huatou Retreat
di tahun 2000 dg Master Shengyen. Berikutnya kemudian sy setiap tahun selalu
sekali atau bahkan 2 kali pergi mengikuti retret bersama Shifu dan juga ada
bbrp kali retret dari tradisi lain. Sy belajar dg Master Shengyen setahun
lebih duluan ketimbang perjumpaan GJFS dg Shifu Shengyen.

Selama 10 tahun terakhir ini sy sangat rajin studi, berlatih dan juga
banyak berinteraksi dg bbrp tradisi terbaik dlm Buddhism. Buku2 Buddhadharma
dlm perpustakaan pribadi sy ada ribuan judul. Sy mendengarkan ribuan jam
teaching Dharma dari CD mp3 banyak teacher2 terkemuka (Ajahn Chah, Ajahn
Sumedho, Ajahn Amaro, Ajahn Thanissaro, Ajahn Munindo, dst. dst.. Sy juga
banyak mengkontemplasikan relevansi & koneksitas Dharma dg hal2 kontemporer
atau pun paham skepticism, probabilistic view, theory chaos, dst. dst.

Dengan latarbelakang tsb di atas, sy merasa tidak banyak lagi hal baru yg
bisa sy pelajari lbh lanjut.

Namun bbrp hari awal dalam retret bersama GJFS kemarin, ternyata praktik sy
macet total. Mungkin antara lain ini dikarenakan sy nervous ketika menjadi
pihak yg bertanggung jawab atas pra-sarana retret.

Dan di hari ke-4 (?) sy tergoncang ketika GJFS memperkenalkan sesuatu yg
selamanya samasekali belum pernah sy kenal atau bahkan dengar.
**
*Uh, I thought I had known the whole games !*


   - Beliau menjelaskan tentang adanya 2 tipe awareness, yakni: awareness yg
   intensional & awareness yg natural yg timbul dg sendirinya. GJFS lalu
   menguraikan dg rinci bagaimana cara mencapai serta bagaimana memainkan
   keduanya.


Seharian sy termenung-menung, praktik sy jadi tambah kacau.

Nyaris sy menganggap bhw GJFS--maaf, maaf--cuma membual saja!
Uraiannya tsb terlalu indah, mungkinkah itu semua hanyalah reka-rekaan
teori GJFS saja?!


   - Krn sy sudah pernah berlatih dg metode yg "tinggi"2 seperti Huatou atau
   Silent Illumination langsung dg Master Shengyen, maka metode GJFS yg sangat
   elementer sungguh menimbulkan penolakan kuat dlm diri saya.

Rasanya konyol sekali, mainan kanak2 !

[Di sharing akhir retret sy mengatakan ke GJFS bhw: untunglah di retret ini
peserta yg punya otak veteran mungkin cuma sy dan ko Robby (beliau praktisi
*vipassana *metode Sayadaw). Rekan2 sisanya yg lain adalah *"beginner's mind
"*  shg mereka semua bisa lebih siap belajar ketimbang otak karatan macam
milik kami berdua :))]

Problem2 sy adalah:

   1. Emotional pain di sekitar hati (*restless heart*).
   2. Nafas pedih tersengal [krn restless].
   3. Takut akan rasa-sakit [takut gagal, feel bad, panik]
   4. Wandering thoughts, ngantuk [memicu rasa-takut & panik]



   - Lebih dari separuh masa retret (4 hari) ini bukannya tidak memberi
   manfaat bagi sy.

Sy belajar menghadapi dan dealing dg rasa-sakit (*pain*).
Ada momen2 yg mengharukan ketika sy kemudian menyadari: bhw selama ini kita
selalu memperlakukan rasa-sakit sbg anak-haram-jadah. Ia kita kutuk,
kucilkan, dan gelapkan. Kita membencinya luarbiasa. Fakta hidup tak
terhindarkan tsb kita pendam jauh-jauh di sudut-sudut tergelap hati kita.


   - Namun seindah apapun *insight* sy ttg rasa-sakit ini, toh namanya sy
   sudah kehilangan metode-praktik sy !

Dan yg bikin shock, ketika dlm sessi Q & A, GJFS menjawab pertanyaan sy,
"Praktisi pemula biasalah begitu [kehilangan- metodenya] . Itu pertanda bhw
fondasi relaksasinya masih dangkal (*superficial*), tidak solid. Ia runtuh
ketika kesenggol rasa-sakit."
...
Waduh ! Sy ini orang yg sudah  rajin studi & berlatih rutin berjam-jam
setiap hari selama belasan tahun masih dikatain sbg "pemula" !

Tapi ya apa mau dikata, *wong* faktanya aku tidak bisa
mempertahankan metode-ku dan otak ini mau tak mau musti kebetot ngurusin
rasa-sakit [apapun caranya].


   - Uraian GJFS ttg natural-awareness & intentional- awareness yg begitu
   cantik, sistematis dan indah sekali membikin sy bimbang, "Apakah bener di
   dunia ini ada hal macam begituan?"

...
...


A State of Mind Called "Beautiful"
Di hari ke-5, setelah sekian waktu bergulat mati2an dan macet, sy merasa
gagal, kecewa dg diri sendiri, feel bad, putus-asa ...
Sy pun menyerah ...

Tidak tahu lagi apa yg musti dikerjakan, tidak punya pilihan lain, maka sy
kerjakan saja dg sepenuh hati metode GJFS tahap paling rendahan (level 1 &
2).
.....
Sy dg jujur-tulus- rela dan sepenuh-hati melakukan relaksasi bagian demi
bagian tubuh---ya, habis mau gimana lagi ??! :)

GJFS membagi step ke 2 menjadi 26 langkah--dg siklus yg diulang dan diulang
(*body scanning*). Dari total 7 level latihan yg diajarkan oleh GJFS, sy
hanya melaksanakan level ke 1 & 2 saja.

Ah, lupakanlah yg tinggi-tinggi: level 3, 4, 5, 6, 7, lupakan !

...

Awalnya sy masih sedikit diwarnai bayang2 rasa takut sakit, takut gagal,
takut sia2, percuma ...

Tapi lha wong gak ada alternatif lain, ya udah kerjakan saja sepenuh hati,
sebisa2nya, kembali dan kembali mengulang2 siklus metode 1 & 2 tsb...

Bbrp puluh menit berlalu dan segala kengerian yg tadinya sy cemaskan
ternyata bisa sy lalui dg baik.
Rasa panik tidak punya peluang untuk berkembang.

Waktu berjalan ... tak terasa ... dan, eh, eh, apa ini ya? ...
Tiba2 muncullah awareness yg sangat natural tanpa sy kehendaki sebelumnya
...
Awareness-natural ini sungguh jernih, dan bertahan lama---jauh lebih lama
ketimbang awareness yg biasa. Kwalitasnya pun sangat beda dg awareness yg
intensional- -ia amat lembut dan indah (*soft & beautiful*).
Sy tetap sekedar menjalankan metode, dan natural-awareness ini sekedar
terbit dan terbit semau2nya sendiri ... Lucu.

Hal ini bahkan terus berlangsung setelah sy keluar dari
sessi duduk-meditasi- formal.
Sembari nyantai bersandar di kursi kayu di beranda, sore itu sy merilekskan
diri---dan awareness yg natural ini tanpa perlu diminta ia terbit dan terbit
begitu saja sejalan dg aplikasi metode sy ...
Sy sampai senyum-senyum sendiri, eh, eh, bener, ternyata GJFS tidak *ngapusi
*:)

Di samping itu, ajaibnya, keempat problem sy tsb di atas itu pun ternyata
sekaligus terpecahkan dg aplikasi "metode-rendahan" (level 1 & 2) tsb.
Hehehe... :)

Uh ... petang itu sy sungguh merasa berterimakasih mendalam kpd GJFS, sy
juga bersyukur kpd "Zen mind, beginner's mind."

Ah, kasihan sekali para kawakan yg otaknya karatan dipenuhi sampah-basi
past-knowledge.


 (bersambung)





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke