---------- Forwarded message ----------
From: [email protected] <[email protected]>
Date: 2009/2/1
Subject: Report: Ch'an 7 di Jogja (4)
To: ramu dharmajala <[email protected]>
Cc: tony dharmawan <[email protected]>, Robby C <
[email protected]>, ZiHao Chen <[email protected]>, Chang Tho
Shi <[email protected]>, Nyanagupta <[email protected]>, Yenny <
[email protected]>, Junarto M Ifah <[email protected]>, siwu <
[email protected]>, Liana chia <[email protected]>, Juliani <
[email protected]>, Merita123 <[email protected]>, "
[email protected]" <[email protected]>, Tonny Chua <[email protected]>,
yessy ayu <[email protected]>, sanjaya <[email protected]>, ekayana <
[email protected]>, Sri Lestari <[email protected]>, Susi <
[email protected]>, "[email protected]" <[email protected]>, Surjadi
Harjadi <[email protected]>, Aphin DJ <[email protected]>, victor
alexander <[email protected]>, Suhendra Sulistyo <[email protected]>,
Agus Santoso <[email protected]>


  Ch'an 7 di Jogja

dg
Guojun Fashi
Januari 2009

(4)






Kwalitas Unik Natural-Awareness
Seperti yg telah sy sebutkan di awal, kwalitas natural-awareness itu: *soft,
beautiful*, dan bisa bertahan lebih lama. Di samping itu ada satu lagi
kwalitasnya yg unik yakni: ketika ia kita kenali, "Eh, ini apa? Lucu
..."---ia tidak hilang, ia tetap saja meluncur dan berlangsung.

Pada intensional-awareness, begitu ia kita kenali, "Ooh ini aku sedang aware
nih ...", atau, "Ah, mungkin ini *samadhi*?:)"---ia akan seketika goyah atau
malah hilang. Jadi keadaan pikiran yg aware [yg intensional] tsb butuh kita
pertahankan kesinambungan & keseimbangannya ibarat orang yg baru bisa
belajar naik sepeda. Kita perlu nge-pas-kan kecepatan, kekuatan tekanan,
keseimbangannya terus menerus, meleset dikit ia hilang. Awareness jenis ini
butuh di-PROTEKSI.

Sedang pada *natural-awareness*, meski andaikata muncul satu atau dua buah
pikir, "Oh begini ya rasanya natural-awareness ..."--ia tidaklah hilang, ia
masih saja meluncur sejalan dg aplikasi metode. Jadi ia "melingkupi
semuanya" (*all encompassing*)---satu atau dua celoteh pikiran tidaklah
merusaknya. Celoteh-pikiran hanya menjadi salah sebagian dari gambar yg
jernih mahaluas.
Sehingga tidak ada rasa khawatir, tidak perlu "berhati2", TIDAK BUTUH
DIPROTEKSI, tidak ada kebutuhan untuk menjaga keberlangsungannya

[Kelak bisa kita check ulang lagilah dg GJFS :))]

Right-View, Good-Attitude, Ability to Reflect
(Pandangan-Benar, Sikap-Mental yg Baik, Kemampuan Melakukan Tilik-Diri)

Di hari terakhir retret Jogja kemarin, sy sempat berbicara mendalam dg GJFS
ttg bbrp hal.
Dialog tsb mengingatkan sy ttg satu pertanyaan yg agak lama menggantung di
batin sy sehubungan dg satu dialog lama sy dg Shikung Shengyen.

Kisahnya sbb:


   - Tahun 2004 sy mengikuti New York Summer Silent Illumination Retreat.

Dlm retret tsb sy bisa berlatih dg baik. Pada bbrp kesempatan sy duduk
bermeditasi sampai bbrp sessi sementara peserta2 yg lain
pergi melakukan meditasi-jalan outdoor di hutan, di tepian
danau. Kebetulan cuaca minggu itu banyak *thunder-storms*, suaranya gemuruh
menderu-deru mengerikan mengakibatkan atap genting gemeretak seperti hendak
terbang.


   - Di sessi interview terakhir Master Shengyen didampingi Dharma-heir
   beliau yg dari Eropa Timur, Zarco. Penerjemahnya adalah seorang dokter
   Amerika etnik China setengah tua. Ketika tiba giliran sy, sy melontarkan
   pertanyaan, *"Shifu, when this mind is fully in the method, where is the
   Buddhadharma?."*

Master Shengyen menoleh ke Zarco, dan menyuruhnya menjawab pertanyaan sy.
Zarco bilang, "Ketika pikiran sepenuhnya pada metode, metode dan
Buddhadharma adalah satu"
Sy bernamaskara lalu balik ke Ch'an hall melanjutkan latihan.
...
Pagi hari menjelang ceramah penutupan retret, sambil membenahi bagasinya,
Pak Dokter China tua tsb mendekati sy dan berkata, "Eh, Shifu bilang kamu
sangat cerdas, beliau sungguh terkesan sekali, kemarin beliau memuji2mu ..."

Uh, hati ini berbunga2, seperti anak yg di-applaus oleh bapaknya ...:)
Sebenarnya memang sy merasa punya *strong karmic affinity* dg Shikung
Shengyen, sekedar mendengar suara beliau pun sudah membuat hati sy sangat
terharu---*deep gratitude*.
...
Pada sambutan penutupan retret, tidak seperti lazimnya, Master Shengyen
memberikan ceramah yg ekstra panjang, ternyata beliau malah membahas &
menjelaskan secara rinci jawaban atas pertanyaan sy kemarin itu.
Penjelasan tsb untungnya sy rekam pakai video [belakangan ada komplain dr
peserta lain, sy dikatakan kurang tahu adat :)].

*Deep gratitude.*
...

   - Retret selesai. Kami semua bubar, pulang ke New York Ch'an Center,
   Queens [dua jam perjalanan dari DDRC, Pinebush].

Sesampai di New York sy keluar jalan2 cari nasi-goreng-hokkian kesukaan sy;
pergi borong buku di Barnes n Nobles; beli vitamin & supplement buat Kevin,
dan naik subway shopping ke Nike Town di gedungnya Trump Plaza dekat Central
Park, Manhattan.

Sy nginap tiga hari di NY Ch'an Center.

Kehidupan di Center segera berjalan lagi seperti biasanya, Shikung Shengyen
tak lagi menjadi bintang [seperti di retret]. Beliau cuma ibarat pak tua yg
menjalankan tugas kantorannya sehari2. Orang2 tak lagi menaruh perhatian
luarbiasa kpd beliau.


   - Tiga hari setelah retret berakhir, NY Center tsb sudah sangat sepi.
   Tamu2 sudah pulang ke negaranya masing2. Staff2 Center mungkin masih cuti
   sehabis kerja keras di retret.

Pagi itu sy hendak pulang ke Indo.
Kami sarapan di basement bersama Master Shengyen. Suasana sunyi, cuma ada 3
atau 4 orang. Sy sudah bernamaskara dan pamit ke Shikung sebelum breakfast.
Menu khas *breakfast* yg selalu ada NY Ch'an Center adalah selai-kacang (*
peanut-butter*). Dahulu sy kurang suka, entah lama2 kok sy jadi
menggemarinya. Di Jogja sy cari *peanut-butter* yg kental dan legit seperti
di NY kok tidak ada.

Selesai makan, Master Shengyen dialog serius dg Guo Yuan Fashi.
Guo Yuan Fashi adalah Dharma-heir Shikung Shengyen. Ia sekarang menjadi
penanggungjawab Ch'an Hall di DDM, Taiwan. Sy tidak ingin menyela
pembicaraan mereka, jadi sy diam2 mengundurkan diri ke dapur, nyuci piring,
lalu menyelinap lewat pintu belakang agar Shikung tidak lihat, shg beliau
tidak usah repot mengantar kepergian sy.


   - Sy naik ke resepsion, menelpon taksi, lalu menunggu.

Tiba2 Guo Yuan Fashi bergegas naik, "Agus, kamu ditunggu Shifu, kok malah
disini? Ayo turun dulu !"
Sy segera turun lagi menghadap Master Shengyen. Sy disuruh duduk, Guo Yuan
Fashi duduk di tengah menerjemahkan.

   - Master Shengyen dg logat cedalnya bilang, "Augosh, sy lihat kamu di
   retret berlatih dg baik, bagaimana pengalamanmu?"

Sy lalu menjelaskan panjanglebar ttg pengalaman meditasi sy.
Master Shengyen cuma sesekali mendengus, "Hhuh, hhuh, ..."
 ...

   - Kemudian beliau tanya, "Bagaimana latihanmu sehari2 ?"

Sy menjawab bhw secara umum sebenarnya sy tidak pernah punya pengalaman
meditasi yg fantastik, tidak ada yg luarbiasa spesial---praktik sy biasa2
saja. Retret juga sy perlakukan sebagai bagian dari rentetan rangkaian
latihan. Sy tidak punya target apa2 di dlm praktik *self-cultivation*, ini
hanya suatu keputusan & konsekuensi logis dari hidup ini yg mau tak mau
musti dijalani.


   - Beliau bertanya lagi, "Bagaimana effek praktik thd kehidupanmu
   sehari2?"

Sy bilang, "Praktik membuat hidup sy lebih jernih dan tenang. Tapi ya itu
tidak ada yg fantastik. Kalau mau dibilang yg agak unik adalah, ketika sy
menoleh ke bbrp tahun ke belakang, duapuluh tahun lalu, sepuluh tahun lalu,
lima tahun lalu, setahun lalu, dst.... sy merasa bhw "Ah dahulu itu aku kok
bodoh sekali ya, urusan begitu aja jadi ribut, berantem, heboh---itu sungguh
konyol dan tidak perlu !
...
Atau bahkan tak perlu bertahun2, mungkin sekedar melihat diri sy sendiri
pada bbrp bulan lalu atau bbrp minggu yg lalu, sy masih juga merasa, "Ah
waktu itu kok sy bodooo sekali ya, ketegangan semacam itu sebenarnya sungguh
tidak perlu terjadi ..."
Ya kalau mau dibilang manfaat yg sy peroleh dari meditasi Ch'an, ya cuma
begitu saja.

Senyum lebar mengembang di wajah Shikung Shengyen. Beliau manggut2 dg
ekspresi-khasnya yg kadang terkesan *pride *:)
Bbrp saat beliau lalu menatap sy tajam2 dan berkata, "Kamu punya
pandangan-benar dan good-attitude thd hidup dan praktik (*right-view & good
attitude towards life and the practice*)..."

Sy tidak tahu mau respon apa, beliau menyambung lagi bbrp kalimat ke Guo
Yuan Fashi dlm bhs mandarin.

Guo Yuan Fashi menerjemahkan, "Agus, Shifu bilang, kamu punya deep & sharp
good karmic root. Kamu mampu melakukan tilik-diri (*ability to reflect*).
Kamu bisa melihat kekurangan-kekuranganmu sendiri, itulah makanya Shifu
bilang kamu punya akar-karma-baik yg tajam & mendalam."


   - Ini adalah dialog santai terakhir sy dg Shikung Shengyen.


Setelah itu kesehatan beliau tak lagi memungkinkan.
Beliau tidak datang lagi ke New York hingga sampai tahun 2006. Thn 2006
kondisi beliau tak lagi sesantai dan sesegar tahun 2004. Thn
2006 Shikung sedang getol2nya mengerjakan kaligrafi. Sy kadang mengamati
dari jauh, tak berani menyela. Wajah beliau nampak "moon-face"---perutnya
juga mengembung, mungkin akibat terapi cuci-darahnya. Beliau cuma bertanya,
"Agus, kamu bisa mengetahui keindahan kaligrafi nggak?" Dg jujur sy bilang,
"Sy sm sekali nggak paham."
Ya, beliau tak lagi sesegar dulu ...


Tilik-Diri & Self-Defense-Mechanism


   - Untuk waktu berbulan2 setelah retret 2004, kata2 Master Shengyen tsb
   menjadi topik kontemplasi sy. Kenapa ya beliau membagi *[right]-view* dg
   *[good]-attitude*? Apakah bedanya *view* dg *attitude*?


Belakangan setelah melalui pengalaman berlatih sekian waktu dan berinteraksi
dg banyak orang, hal tsb jadi jelas bagi sy.


   - Namun masih ada yg menggantung: Kenapa Shikung Shengyen begitu memberi
   nilai tinggi kepada kebisaan kita melakukan tilik-diri (refleksi)? Bukankah
   semua orang mestinya bisa? Bukankah kata2 refleksi itu sudah menjadi
   pasaran, inflated, umum, biasa2 saja? Kenapa Master Shengyen letakkan hal
   ini sbg utama & istimewa?

...

Minggu lalu di Jogja, lewat pembicaraan dg GJFS, makna dialog sy dg Shikung
Shengyen tsb barulah jelas bagi sy. GJFS bicara panjanglebar dan mendalam.
Tapi ringkasnya, GJFS bilang bhw dari pengalaman beliau & juga pengalaman
pribadi Shikung Shengyen, nyatanya tidak setiap orang bisa melakukan
tilik-diri.
Dan celakanya, semakin pintar orangnya, apalagi kalau ia praktisi meditasi
kawakan, jika ia tidak bisa melakukan tilik-diri, kian mustahillah oranglain
bisa menasehatinya.


   - Ada orang yg pintar dan kuat dlm meditasi tapi praktiknya tidak masuk
   ke akar masalah hidupnya yg terdalam (*self defense mechanism*). Karena
   hal ini *too painful* maka mekanisme-pertahanan-dirinya akan menghadang
   dan tidak membiarkan enerji-praktik masuk menyentuh area [ego] yg
   menyakitkan tsb.


Alhasil, pencapaian2 meditasi & pengetahuan Dharma & kepintarannya, alih2
bermanfaat malah justru menjadi lapisan-lapisan baru
mekanisme-pertahanan-dirinya. Menjadi lapis2 baru kerak self-identitynya.
Orang pintar, pendidikannya tinggi, meditasinya pun kuat--tapi ia tidak bisa
melakukan tilik-diri. Kalau sudah begini, siapa lagi yg mampu menasehatinya?

Ah, iya, Shikung Shengyen,
*Right-View, Good-Attitude, Ability to Reflect Our Own Flaws,*
*Deep gratitude.*
*Three full prostrations for Shikung, for lineage Masters.*

Inilah makanya GJFS, like father, like son, suka terus menerus menekankan
aspek right-view & good attitude.


   - Oh ya, satu hal lagi yg menjadi jelas bagi sy. Pada suatu retret New
   York [kalau tidak salah retret yg sama tadi] juga hadir ikut berlatih GJFS
   dan Chi Cern Fashi. Pada suatu ceramah Master Shengyen menyinggung tentang
   rasa-syukur & kerendahan hati.

Eh, tak lama kemudian Master Chi Cern yg duduk di depan mulai terisak-isak.
Semakin Master Shengyen bicara, sedu-sedan Master Chi Cern malah semakin
keras---sampai akhirnya Shikung Shengyen bilang, "Chi Cern kamu keluar dulu
sana ..."


   - Kemarin hal ini sempat sy tanyakan lagi thd GJFS. GJFS bilang bhw
   Master Chi Cern menangis tersedu-sedu oleh krn very deep-deep
   gratitude---[pengalaman praktik Chi Cern Fashi dg Shikung sangatlah
   mendalam].


Setelah keluar bbrp jenak dari Ch'an hall, di sessi break, sy sudah lihat
Master Chi Cern dg santainya melakukan yoga head standing :)

Nasib Baik & Nasib Kuwalik

   - Kebisaan kita bersyukur & rendah-hati akan mengendorkan
   mekanisme-pertahanan-diri kita.


Tapi yaaaa ... semua itu nampaknya kembali ke "nasib."
Makanya Shikung Shengyen memakai istilah "karmic root."
Ada orang yg akar-karmanya buruk, shg yg terjadi kebalik-balik: ketika ada
hal yg baik dan benar (right-view) malah mekanisme-pertahanan-dirinya
mengeras. Ia menghindar, menolak, mencela, mengkritik.
Celakanya ketika berjumpa dg yg bengkok (wrong-view)---lhah, malah
mekanisme-daya-kritisnya mengendor ! Ia malah terkagum2 dan berserah.
Ya dah nasib-laaa, mo bilang apa lagi.

Makanya Buddhisme mengajarkan kita menabung karma baik (*dana & sila*) dulu
sebelum memasuki praktik (*samadhi*). Agar nasibnya tidak kuwalik-walik !

(bersambung)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke