Cara mereka untuk menarik umat lain memang seperti itu.....lama2 mereka akan 
klaim menjadi milik mereka.

Seperi meditasi, sekarang pendeta/pastor banyak yg latihan meditasi, mereka 
juga mengajarkan ke umat di gereja tapi dengan nama lain 


--- On Fri, 2/6/09, Feni <[email protected]> wrote:
From: Feni <[email protected]>
Subject: [MABINDO] [info]: Hio di Altar Inkulturasi Katolik - GONG XI FA CAI
To: [email protected]
Date: Friday, February 6, 2009, 3:12 PM











    
            

Hio di Altar Inkulturasi Katolik



oleh A Jo Seng Bie



(ANTARA News) - Seorang perempuan tua menjagai bara di turibulum atau bejana 

pedupaan di dekat pintu kiri altar, sementara tiga hio merah menyala di sebuah 

meja kecil di kanan atas altar kudus.



Hari itu, Senin, 26 Januari 2009, semerbak misa di Gereja Santo Petrus, Batam, 

berbeda dari biasa karena mewangian dupa bukan hanya dari turibulum (bejana 

logam pendupaan) yang diayun-ayunkan, melainkan juga dari asap hio (dupa 

bergagang).



Di atas meja, hio ditancapkan di antara Salib Yesus Kristus, dua lilin putih, 

bunga rangkai, serta setumpuk dodol dan jeruk.



Pendupaan, berabad-abad dikenal Gereja Roma dalam tata liturgi (ibadat) di 

gereja sebagai pengiring kekhidmatan persekutuan umat dengan Tuhan Allah, kata 

Uskup Pangkalpinang Monsinyur Hilarius Moa Nurak SVD.



Hio biasa digunakan umat Konghucu dan Buddha untuk bersembahyang kepada Thian 

(Sangdi, Yang Maha Tinggi) dan dewa-dewi di altar rumah maupun di kelenteng 
atau 

vihara.



Dupa bergagang mulai dikenal di zaman kerajaan China berabad-abad sebelum ada 

penanggalan Masehi.



Seperti kemenyan yang asapnya wangi, hio menjadi medium pengiring doa atau 

sembahyang.



Orang Tionghoa pemeluk agama Katolik di Indonesia banyak akrab dengan hio sebab 

bertalian dengan leluhur atau saudara beragama Khonghucu dan Buddha.



Dalam mengenang dan mendoakan orang tua, saudara, kerabat dan orang yang 
berjasa 

dan telah meninggal, pada Misa Perayaan Tahun Baru Imlek (TBI) 2560 di Gereja 

Santo Petrus, Batam, tiga hio dinyalakan.



"Pada setiap kali misa, gereja Katolik menyelenggarakan doa bagi yang telah 

meninggal. Kali ini dengan hio," kata Mgr Hilarius, pemimpin Tertinggi Gereja 

Katolik di wilayah Keuskupan Pangkalpinang (Provinsi Bangka Belitung dan 

Kepulauan Riau). 



Mengenai persembahan berupa dodol dan jeruk, kata Uskup, bukan untuk dikonsumsi 

dewa-dewi atau roh leluhur, melainkan ditujukan semata-mata kepada Yesus 

Kristus.



Benda-benda seperti uang dan hasil panen, biasa dipersembahkan umat Katolik ke 

altar melalui pengurus gereja pada setiap kali perayaan Ekaristi sebagai wujud 

syukur atas rejeki dan perlindungan yang diterima dari Allah.



Penggunaan hio, persembahan dengan dodol dan jeruk adalah bagian dari 

inkulturasi Gereja Katolik, kata Hilarius. 



Konteks dodol yang lengket dan manis, katanya, merupakan simbol rekonsiliasi 

orangtua dan anggota keluarga yang minimal setahun sekali berkumpul, menngucap 

syukur, saling memaafkan dan saling mendoakan untuk kehidupan yang lebih baik.



Bentuk lain dari inkulturasi diwujudkan dengan pohon angpao, lampion dan hiasan 

dinding sosok shio kerbau. 



Ada pula nyanyian "Xin Nian Xin Shi Ming" pengiring waktu persembahan 
(kolekte), 

dan "Xin Nian Da Tuan Bai", ketika umat bersiap menerima komuni. 



Misa khusus itu kental suasana oriental. Bahkan, sembilan pastor yang dipimpin 

Uskup Hilarius, menggunakan jubah (capula) merah, warna dominan simbol suka 

cita, semangat dan pengharapan.



Adapula beberapa peti berisi jeruk dan satu kotak 500 angpao yang dibagikan 

kepada umat setelah diberkati Uskup yang diawali dengan salam ucapan tahun baru 

setelah selesai ibadat inti.



Bukan itu saja, saat membagi-bagikan jeruk kepada anak-anak, remaja, pemuda dan 

orang tua, Pastor Marcel Gabirel Projo, memberi salam dengan dua tangan di dada.



Peserta Misa Perayaan TBI 2560 bukan hanya dari keluarga Katolik dari suku 

Tionghoa melainkan di antaranya juga dari suku Flores, Batak, Manado, dan Jawa.



"Baru kali ini Misa Perayaan Imlek di sini dipimpin langsung Uskup 

Pangkalpinang, " kata Pastor Kepala Paroki Santo Petrus Peter Brono Sarbini, 
SVD.



Untuk mendekatkan tata cara dan pemaknaan melalui simbol-simbol tradisi 

Tionghoa, katanya, tim yang pada beberapa kali penyelenggaraan hanya 

meraba-raba, kini dibantu Pastor Martin Irawan SS.CC yang lebih mengerti.



Anggota DPRD Kota Batam Bastoni Solichin yang beragama Katolik meski tidak 

memahami secara mendalam tentang makna perayaan Imlek namun meyakini sebagai 

tradisi yang baik sehingga perlu mensyukurinya dalam ibadat di gereja.



Kegembiraan menyambut TBI ditandai dengan penyulutan petasan renteng oleh Uskup 

Pangkalpinang di halaman gereja, kemudian dimeriahkan atraksi barongsai, dan 

ditutup dengan makan siang bersama.(*)



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    

           
  
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke