Salam bahagia dan sejahtera selalu semuanya, 
Menurut saya pribadi, yang lebih penting dibalik statement ini adalah,
pengertian benar, mengerti maksud dan tujuan serta makna dari Hio yang
digunakan oleh kita para siswa Buddha.

Bila seseorang hanya menggunakan Hio namun tidak mengerti dengan baik,
maksud, makna, tujuan, kuranglah bermanfaat bagi orang tersebut bagaikan
burung beo yang selalu mengulangi ucapan yang terdengar.

Siswa Buddha seharusnya mengetahui dengan baik, untuk apa Hio itu?
Hio adalah symbol dan lambang dari suatu penghormatan kepada mereka yang
patut dihormat, dimana harum Hio seharusnya mengingatkan kita pada perbuatan
didalam bertindak, berucap dan berpikir, sehingga harumnya dapat membuat
hati tenang, damai, bahagia baik buat diri kita maupun lingkungan
sekitarnya.
Harumnya Hio inilah seharusnya mencerminkan dari perbuatan kita (tindak
tanduk, ucapan, pikiran) yang membuat diri sendiri dan orang lain terasa
harum/wangi (akibat perbuatan baik).

Harumnya Hio yang demikian akan menyebar sampai kemanapun, walaupun tidak
diketahui bagaimana menyebarnya demikian seharusnya perbuatan kita.
Harumnya Hio tidak dapat melawan arah angin, tetapi perbuatan yang
mencerminkan harumnya Hio dapat menembus berbagai penjuru, mampu menentang
arah angin, mampu menembus sampai ke Surga.
Hio yang wangi lama kelamaan akan habis, dimana wanginya akan pudar, tetapi
perbuatan yang mencerminkan Hio tidak akan pernah hilang, selalu menyebar
dan menyebar tak ada yang dapat menghentikan.

Jadi menurut saya pribadi, bila saudara kita yang mempunyai kepercayaan lain
(dalam hal ini Katolik) ingin menggunakan Hio sebagai alat dalam puja
bhaktinya, tentu boleh saja asalkan mengerti maksud, makna dan tujuannya,
tidalah penting siapa yang memiliki ritual puja bhakti pakai Hio.
Seseorang yang melekat pada kepemilikan, dengan mengatakan ini adalah
miliku, ini adalah punyaku, ini adalah punya agamaku, dengan tanpa sengaja
orang tersebut telah mengembangkan Sang Aku dalam dirinya, dan ini bukan
ajaran guru Buddha, kita belajar Dhamma untuk belajar membuang sang Aku,
bukankah dengan membuang sang Aku berarti kita benar-benar mengerti Dhamma
dengan benar? Inilah sulitnya belajar Dhamma yang lebih tinggi, tapi kita
bisa belajar.

Dengan harapan pula semoga saudara kita yang beragama Katolik juga dapat
menggunakan Hio dengan pengertian benar, dan semoga dapat belajar melepaskan
Sang Aku pula.
Mungkin suatu kelak nanti di Altar puja Bhakti katolik, selain Rupang Jesus
juga terdapat Buddha Rupang dan Rupang Kwan-Im seperti layaknya Konghucu
yang konon cerita pada awalnya juga menolak kedatangan ajaran Buddha di
Tiongkok sana.
Semoga saja demikian, sehingga katolik, konghucu, Buddha tidak lagi
dibedakan seperti kita pergi ke topekong (kelenteng), hihihi, dan juga
semoga saja saudara kita yang Kristen juga memulainya (Amitofo, mogah-mogah
saja jadi kenyataan, hihihi).
"Coba bayangkan, di topekong (kelenteng) ada Rupang Buddha, ada Rupang
Kwan-Im, ada Rupang Jesus, ada Rupang Bunda Maria, wow senangnya/betapa
bahagianya, semua umat bersatu dan menjadi universal, tidak ada lagi agama".

Semoga semua makhluk hidup berbahagia,
Namo Buddhaya, Amitofo.



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
sug wi
Sent: 07 Februari 2009 14:44
To: [email protected]
Subject: RE: [MABINDO] [info]: Hio di Altar Inkulturasi Katolik - GONG XI FA
CAI


So gimana cara agar menghindari hal-hal seperti itu?
gimana agar kita juga bisa memiliki lebih banyak pengikut?
 
gimana kalo mengundang bikhu bikhu bule dari washington atau london, kita
bisa pasang iklan di tv, di jalan jalan kayak agama lain.
itu bakalan seru deh
 
gan en
 
sugi



To: [email protected]: [email protected]: Fri, 6 Feb
2009 01:21:47 -0800Subject: Re: [MABINDO] [info]: Hio di Altar Inkulturasi
Katolik - GONG XI FA CAI



Cara mereka untuk menarik umat lain memang seperti itu.....lama2 mereka akan
klaim menjadi milik mereka.Seperi meditasi, sekarang pendeta/pastor banyak
yg latihan meditasi, mereka juga mengajarkan ke umat di gereja tapi dengan
nama lain --- On Fri, 2/6/09, Feni <[email protected]> wrote:From: Feni
<[email protected]>Subject: [MABINDO] [info]: Hio di Altar Inkulturasi
Katolik - GONG XI FA CAITo: [email protected]: Friday,
February 6, 2009, 3:12 PMHio di Altar Inkulturasi Katolikoleh A Jo Seng
Bie(ANTARA News) - Seorang perempuan tua menjagai bara di turibulum atau
bejana pedupaan di dekat pintu kiri altar, sementara tiga hio merah menyala
di sebuah meja kecil di kanan atas altar kudus.Hari itu, Senin, 26 Januari
2009, semerbak misa di Gereja Santo Petrus, Batam, berbeda dari biasa karena
mewangian dupa bukan hanya dari turibulum (bejana logam pendupaan) yang
diayun-ayunkan, melainkan juga dari asap hio (dupa bergagang).Di atas meja,
hio ditancapkan di antara Salib Yesus Kristus, dua lilin putih, bunga
rangkai, serta setumpuk dodol dan jeruk.Pendupaan, berabad-abad dikenal
Gereja Roma dalam tata liturgi (ibadat) di gereja sebagai pengiring
kekhidmatan persekutuan umat dengan Tuhan Allah, kata Uskup Pangkalpinang
Monsinyur Hilarius Moa Nurak SVD.Hio biasa digunakan umat Konghucu dan
Buddha untuk bersembahyang kepada Thian (Sangdi, Yang Maha Tinggi) dan
dewa-dewi di altar rumah maupun di kelenteng atau vihara.Dupa bergagang
mulai dikenal di zaman kerajaan China berabad-abad sebelum ada penanggalan
Masehi.Seperti kemenyan yang asapnya wangi, hio menjadi medium pengiring doa
atau sembahyang.Orang Tionghoa pemeluk agama Katolik di Indonesia banyak
akrab dengan hio sebab bertalian dengan leluhur atau saudara beragama
Khonghucu dan Buddha.Dalam mengenang dan mendoakan orang tua, saudara,
kerabat dan orang yang berjasa dan telah meninggal, pada Misa Perayaan Tahun
Baru Imlek (TBI) 2560 di Gereja Santo Petrus, Batam, tiga hio
dinyalakan."Pada setiap kali misa, gereja Katolik menyelenggarakan doa bagi
yang telah meninggal. Kali ini dengan hio," kata Mgr Hilarius, pemimpin
Tertinggi Gereja Katolik di wilayah Keuskupan Pangkalpinang (Provinsi Bangka
Belitung dan Kepulauan Riau). Mengenai persembahan berupa dodol dan jeruk,
kata Uskup, bukan untuk dikonsumsi dewa-dewi atau roh leluhur, melainkan
ditujukan semata-mata kepada Yesus Kristus.Benda-benda seperti uang dan
hasil panen, biasa dipersembahkan umat Katolik ke altar melalui pengurus
gereja pada setiap kali perayaan Ekaristi sebagai wujud syukur atas rejeki
dan perlindungan yang diterima dari Allah.Penggunaan hio, persembahan dengan
dodol dan jeruk adalah bagian dari inkulturasi Gereja Katolik, kata
Hilarius. Konteks dodol yang lengket dan manis, katanya, merupakan simbol
rekonsiliasi orangtua dan anggota keluarga yang minimal setahun sekali
berkumpul, menngucap syukur, saling memaafkan dan saling mendoakan untuk
kehidupan yang lebih baik.Bentuk lain dari inkulturasi diwujudkan dengan
pohon angpao, lampion dan hiasan dinding sosok shio kerbau. Ada pula
nyanyian "Xin Nian Xin Shi Ming" pengiring waktu persembahan (kolekte), dan
"Xin Nian Da Tuan Bai", ketika umat bersiap menerima komuni. Misa khusus itu
kental suasana oriental. Bahkan, sembilan pastor yang dipimpin Uskup
Hilarius, menggunakan jubah (capula) merah, warna dominan simbol suka cita,
semangat dan pengharapan.Adapula beberapa peti berisi jeruk dan satu kotak
500 angpao yang dibagikan kepada umat setelah diberkati Uskup yang diawali
dengan salam ucapan tahun baru setelah selesai ibadat inti.Bukan itu saja,
saat membagi-bagikan jeruk kepada anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua,
Pastor Marcel Gabirel Projo, memberi salam dengan dua tangan di dada.Peserta
Misa Perayaan TBI 2560 bukan hanya dari keluarga Katolik dari suku Tionghoa
melainkan di antaranya juga dari suku Flores, Batak, Manado, dan Jawa."Baru
kali ini Misa Perayaan Imlek di sini dipimpin langsung Uskup Pangkalpinang,
" kata Pastor Kepala Paroki Santo Petrus Peter Brono Sarbini, SVD.Untuk
mendekatkan tata cara dan pemaknaan melalui simbol-simbol tradisi Tionghoa,
katanya, tim yang pada beberapa kali penyelenggaraan hanya meraba-raba, kini
dibantu Pastor Martin Irawan SS.CC yang lebih mengerti.Anggota DPRD Kota
Batam Bastoni Solichin yang beragama Katolik meski tidak memahami secara
mendalam tentang makna perayaan Imlek namun meyakini sebagai tradisi yang
baik sehingga perlu mensyukurinya dalam ibadat di gereja.Kegembiraan
menyambut TBI ditandai dengan penyulutan petasan renteng oleh Uskup
Pangkalpinang di halaman gereja, kemudian dimeriahkan atraksi barongsai, dan
ditutup dengan makan siang bersama.(*)[Non-text portions of this message
have been removed][Non-text portions of this message have been removed]

  ----------


  ----------


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG - www.avg.com 
Version: 8.0.233 / Virus Database: 270.10.19/1940 - Release Date: 02/06/09 
17:28:00


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke