saya bingung dengan pernyataan pak Budiman  disitu, salah satu terprovokasi,
apanya yang terprovokasi pak budiman?, saya pikir umat Buddha yang kontra
terhadap Buddha bar hanya berusaha untuk bersikap pro aktif dan tidak
anarkis, dan mereka mencoba untuk menegakkan aturan yang ada di Indonesia,
karena jelas, penggunaan simbol2 agama tertentu bertentangan dengan aturan
yang ada di Indonesia.

adanya pemanfaatan atau penungangan atau apapun adalah hal yang sangat
mungkin terjadi apalagi menjelang pemilu, tapi saya yakin bahwa umat Buddha
yang kontra dengan Buddha bar sangat dewasa dan bisa melakukan aksi protes
tanpa membuat tindakan anarkis. dan tidak terkait dengan siapa pemilik dari
bar itu, mau anak presiden kek, anak mantan presiden kek atau anak siapapun,
lah klo melanggar, adalah tugas  kita untuk mengingatkan, apalagi kita
adalah umat yang simbolnya dipakai buat nama bar, coba klo itu terjadi pada
umat yang lain, hal yang sama bisa terjadi

justru saya kecewa dengan anda, pak budiman, sebagai seorang yang
dikategorikan pemimpin, harusnya anda lebih tahu, bahwa sebelum Buddha bar
berdiri, anda bisa dengan lantang menentang hal tersebut, dan bukannya sekrg
ngomong ngalor ngidul di media massa, seakan2 umat Buddha yang kontra pada
nama Buddha bar mudah terpancing , dan menyayangkan tindakan mereka ,
seakan-akan mereka bisa bertindak yang tidak tidak, dan terprovokasi, saya
yakin mereka tidak terprovokasi, dan ini murni dari hati saya dan mungkin
teman2 yang lain. tidak ada yang terprovokasi, terpancing atau apalah

ini adalah bukti kecuekan sebagian umat Buddha yang berlindung dibalik
teologis semu, sekan-akan apalah arti sebuah nama, apalah arti ini itu dsb
dsb dsb,dan menutup mata hal2 yang jelas2 melecehkan kita, pura2 lapang
dada, padahal cuek bebek...lama2 nanti akan berdiri tipitaka bar, sutta
nipata bar, sutta bar, atau apalah, toh klo ndak ada tindakan sponan dari
sebagian umat, KASI  pun nggak akan bersidang khan... payah...

terus terang saya sangat kecewa......... kecewa berat



Ronny


On 3/3/09, andrew kurniawan <[email protected]> wrote:
>
>   ternyata benar kata para sesepuh masalah buddha bar bikin emosi negatif,
> nambah kekotoran batin  :))
> buktinya gua marah baca berita dibawah.  :|
> Karena ada orang MUNAFIK di sana........saya introspeksi diri semoga saya
> tidak jadi seperti dia.......
> ----------------------------------------------------------
>
> http://www.beritajakarta.com/V_Ind/berita_print.asp?nNewsId=32772
>
> 02-03-2009
> Buddha Bar Kantongi Izin Tiga Elemen Umat Budha (bohong padahal cuma 1
> orang)
>
>
> Penggunaan nama dan identitas agama Budha pada restoran Buddha Bar di Jl
> Teuku Umar No 1, Menteng, Jakarta Pusat, kini menuai kontroversi di kalangan
> umat Budha sendiri. Sebab, sejumlah faksi di tubuh umat Budha berbeda
> pendapat atas penggunaan nama dan identitas agama Budha di restoran
> franchise tersebut. Ada yang menyetujui dan ada pula yang menolak.
>
> Sebenarnya, restoran Buddha Bar tidak melanggar perizinan. Sebab,
> penggunaan nama dan identitas agama Budha telah mengantongi izin dari tiga
> elemen di tubuh umat Budha, yaitu Forum Komunikasi Umat Buddha DKI Jakarta,
> DPD Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia Majabumi DKI Jakarta, dan DPD
> Generasi Muda Buddhis Indonesia. Setelah mengantongi persetujuan dari ketiga
> organisasi tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI mengeluarkan izin
> operasional usaha pada tanggal 12 November 2007.
>
> Tak hanya itu, pada 11 November 2007, PT Nerita juga mengirim surat kepada
> Perwalian Umat Budha Indonesia (Walubi) terkait perizinan penggunaan kata
> Budha pada restoran Buddha Bar. Sayangnya, surat tersebut tak kunjung
> mendapat balasan. Karenanya, PT Nerita tetap menggunakan nama restoran
> Buddha Bar, dan mulai beroperasi mulai bulan Juni 2008.
>
> Namun, setelah beroperasi selama delapan bulan, PT Nerita mendapatkan surat
> protes dari forum Anti-Buddha Bar (FABB) yang menyatakan keberatan
> penggunaan nama Budha dalam restoran Buddha Bar yang diduga milik dua anak
> pejabat tinggi yaitu Puan Maharani dan Renny Sutiyoso. FABB mengklaim surat
> permohonan izin itu baru diterima Walubi DKI Jakarta pada 22 Oktober 2007
> dan pengurus ketiga organisasi yang memberikan surat persetujuan adalah
> tidak sah karena sudah domisioner.
>
> Karena itu, FABB meminta kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar
> memanggil pemilik restoran tersebut untuk mengganti nama. Sebab, dengan
> menggunakan nama dan identitas Budha pada restoran merupakan tindakan kurang
> bijak. “Jadi menurut FABB, pengurus ketiga organisasi tersebut tidak sah
> karena demisioner,” ujar Prijanto, usai bertemu dengan FABB dan Perwakilan
> Umat Budha Indonesia (Walubi) di Balaikota DKI, Senin (2/3).
>
> Solusi yang ditawarkan Pemprov DKI, lanjutnya, akan melakukan pemanggilan
> PT Nerita untuk meminta kesediaan mengganti nama. Prijanto mengatakan sudah
> ada tanda positif dari perusahaan tersebut karena saat ini sedang meminta
> izin dari pemilik franchise di Perancis agar bisa ganti nama. “Semua bisa
> diselesaikan. Jadi tidak ada pencabutan izin,” tambah dia.
>
> Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, Arie Budhiman, menegaskan,
> sebenarnya permasalahan restoran Buddha Bar hanya soal penggunaan nama dan
> identitas Budha pada restoran tersebut. Karena itu, Walubi DKI Jakarta dan
> FABB hanya semata-semata agar nama Buddha Bar diganti. “Hanya terkait
> penggunaan nama dan tidak ada pelanggaran izin,” kata Arie yang turut hadir
> dalam pertemuan tersebut.
>
> Secara administrasi, kata Arie, pemilik Buddha Bar telah melengkapi
> syarat-syarat dalam pengurusan izin operasional usaha tempat hiburan,
> termasuk memberikan tiga surat persetujuan dari tiga organisasi Budha dan
> nama merupakan sebuah franchise, bukan karangan sendiri. “Karena persyaratan
> administrasinya telah lengkap, maka kami tidak bisa menolak memberikan
> izin,” terangnya.
>
> Langkah ke depan untuk menyelesaikan masalah ini, Arie menegaskan, dalam
> waktu dekat Dinas Parisiwata dan Kebudayaan akan melakukan mediasi antara
> Walubi DKI Jakarta dan FABB dengan PT Nerita untuk mencari kesepakatan
> antara kedua belah pihak. Arie optimis masalah ini akan selesai dengan baik
> dan cepat karena hanya masalah penggantian nama saja. Selama proses
> penyelesaian, Arie mengatakan tidak akan menutup atau menyegel Buddha Bar.
> “Permintaan FABB dan Walubi kan hanya penggantian nama, bukan menutup
> restoran itu,” tambahnya.
>
> Sementara itu, Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Generasi Muda Mahayana
> Indonesia (GMMI) meminta agar masyarakat, khususnya umat Budha, jangan
> terpengaruh dengan isu-isu yang mengusung nama Budha dan sejumlah identitas
> lainnya. Apabila merasa terusik dengan isu-isu tersebut, sebaiknya umat
> Budha tidak mengambil tindakan secara individu maupun kelompok. "Kita tidak
> ingin umat Budha dimanfaatkan oleh golongan tertentu demi kepentingan sesaat
> mereka," ujar Budiman Sudharma, Ketua DPP GMMI di Sekretariat Sangha
> Mahayana Indonesia, Jakarta Barat, Jumat (27/2).
>
> Budiman berharap, sebaiknya umat Budha jangan mudah terpancing dan langsung
> bereaksi dengan isu-isu yang bisa menghancurkan umat Budha itu sendiri.
> Utamanya dalam menyikapi hal-hal yang terkait dengan penggunaan nama dan
> identitas Budha. Terkait penggunaan nama Budha pada restoran Buddha Bar di
> Jalan Teuku Umar, Budiman menjelaskan, sebaiknya umat Budha Indonesia jangan
> termakan dengan isu tersebut. Sebab, Konferensi Agung Sangha Indonesia
> (KASI) saat ini tengah merencanakan pertemuan bersama perwakilan seluruh
> umat Buddha untuk menyikapi hal itu. "Yang jelas saat ini belum disimpulkan
> apakah penggunaan nama dan simbol Budha pada restoran bernama Buddha Bar
> melanggar ketentuan. Kalau dinyatakan salah, kita akan ikut melarang. Tapi
> kalau dinyatakan tidak salah, kita tidak akan protes," jelasnya.
>
> Karena itu, Budiman sangat menyayangkan tindakan sekelompok umat Budha yang
> dengan spontan melakukan aksi protes terhadap penggunaan nama Budha
> tersebut. "Kami sudah mendapat laporan tentang kelompok-kelompok itu dari
> anggota kami. Karena itu, kami minta umat Budha tidak terprovokasi,"
> pintanya.
>
> Berdasarkan pantauan beritajakarta.com, Restoran Buddha Bar telah dijaga
> ketat oleh lima orang lebih satpam. Menurut salah seorang satpam yang
> berjaga di luar, sejak tadi pagi, tempat kerjanya telah banyak disambangi
> oleh media massa baik cetak maupun elektronik. “Restoran kami tetap buka
> kok. Tetap beroperasi normal yaitu mulai jam tujuh malam hingga tiga pagi,”
> ujarnya
>
> Restoran Buddha Bar mengambil lokasi di sebuah bangunan kolonial Belanda di
> kawasan Menteng, tepatnya di Jl Teuku Umar No 1. Didirkan dengan suasana
> cross-culture timur dan barat (didominasi timur). Buddha Bar Jakarta
> memiliki dua ruang utama, di mana satu ruangan yang terletak pada latar
> kedua dari bangunan dipergunakan sebagai resto berkapasitas 200 pengunjung
> dan dalam ruangan ini berdiri patung Buddha terbuat kuningan emas. Satu
> ruangan di bagian bawah bangunan yang memiliki akses ke teras (patio)
> dipergunakan sebagai lounge. Tersedia juga private room yang diberi nama
> "Dragon Room" bagi yang lebih menginginkan privasi. Sedangkan di bagian
> lounge, atmosfir chill-out dengan musik-musik Buddha Bar yang khas sudah
> pasti kental menetap.
>
>
> Penulis: agus
>
> Sumber: lenny
>
> ----------------------------------------------------------
>
> Tambah lagi, dia berusaha mengaburkan masalah dengan bilang kita belum
> punya sikap
>
> http://www.republika.co.id/berita/34423/DPP_GMNI_Kafe_Budha_Bar_tak_Sebabkan_Dampak_Negatif
>
> Maunya apa sih ni orang...
>
> Bagaimana kawan-kawan? Ketika kita sedang berusaha membuat Buddha Bar ganti
> nama, memang sudah wajar jika ada yg keberatan karena pertimbangan bijaksana
> atau yg cuek karena males atau juga karena pertimbangan bijaksana. Takutnya
> kita terbawa arus LDM.
>
> Tapi yang ini beda. Pertama dia yang keluarin izin.
> Kedua dia bilang kita belum punya sikap.
> Ketiga dia bilang Buddha Bar ga ada dampak negatif.
> Keempat dia berusaha mendukung Buddha Bar dengan mengutip peraturan WTO.
> Kelima dia menyayangkan sikap kita yg memprotes karena mungkin katanya kita
> cuma "sekelompok umat tak teratur".
> Keenam dia bilang kalau mau protes harus lewat dia.
> Ketujuh dia bilang akan protes kalau sudah terbukti melanggar ketentuan,
> sementara pembuktian tidak akan terjadi kalau tak ada yg protes dong.......
>
> Maunya apa sih...................
>
> Bagaimana nih? Soalnya pers dan wartawan selaluuuu ngutip kata2 dia,
> soalnya dia ketua organisasi GMMI yg entah siapa anggotanya.
> Akhirnya jadi ga jelas gini kan, pihak BB dan DepBudPar merasa sudah ada
> izin, dari 3 organisasi yg ketuanya satu orang itu......
> Bisa ga dia di "ex-communicate" atau gimana caranya gitu supaya ga bikin
> masalah lagi
> Atau mau didiemin aja? Supaya hidup tetep seru.....
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke