Menarik... WenZ
----- Original Message ----- From: "kusalacitto gunawan" <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Tuesday, 10 March 2009 15:15 PM Subject: [kongtai:2348] Toilet Bandara dan kenaikan Airport Tax Mulai bulan Maret 2008, publik pengguna layanan pengangkutan udara akan segera merasakan kenaikan Airport Tax. Airport Tax atau bernama asli tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) akan dinaikan 20%-25%. Alasan penaikannya ya tidak lain adalah untuk membenahi pelayanan Bandara. Alasan utamanya adalah perbaikan toilet yang mencapai 11 milyar (hanya di bandara Soekarno Hatta). Setiap ada kenaikan tentu akan menimbulkan polemik pada masyarakat. Tetapi herannya, di Indonesia ini, setiap kenaikan tarif pasti tidak ada masyarakat yang berdiri di posisi Pro dan seiya sekata dengan pengusaha/pengelola. Dengan demikian sudah jelas terlihat betapa jauhnya harapan masyarakat dari janji kualitas pelayanan yang akan mereka peroleh. Mengingat setiap masalah kenaikan tarif yang selalu di usung paling tinggi adalah alasan perbaikan pelayanan, maka ada baiknya kita melihat kebelakang beberapa bulan. Dan juga jangan kita ambil contoh bandara Soekarno Hatta lalu kita ambil perbandingan contoh dengan bandara kota besar negara maju. Kita ambil saja contoh bandara kecil yang masih dikelola oleh pengelola yang sama di tingkat ibukota provinsi non ibukota. Lalu kita ambil perbandingan termudah yaitu, kota kembaran (sisters city) dari kota bersangkutan. Dalam hal ini, saya mengambil contoh Bandar Udara Internasional Polonia, Medan (MES). Bandara Polonia merupakan bandara ter-ramai ke-empat se-Indonesia setelah Soekarno Hatta, Juanda, Ngurah Rai. Jadi saya rasa bandara ini tidak begitu menonjol juga tidak begitu terpuruk untuk dijadikan contoh. Mengusung kata Internasional dalam untaian namanya jelas menunjukkan bahwa bandara ini menduduki posisi atas dalam pelayanan. Jelas kata Internasional itu bukan hanya berarti bandara bersangkuta dapat didarati pesawat standar luar negeri yang berukuran besar. Tetapi juga meliputi segala pelayanan dan kenyamanan gedung terminal bersangkutan. Kota kembar yang saya ambil ya tentu saja adalah Penang. Kota kecil yang menjadi saudari kembar dari kota Medan ini memiliki airport skala internasional juga. Namanya Penang International Airport (PEN) atau dahulu dikenal dengan Bayan Lepas International Airport. Perbandingan antara keduanya akan sangat banyak sehingga akan membutuhkan waktu lebih untuk diskusi hal tersebut. Disini yang saya tekankan adalah beberapa hal yang umum terlihat. Perbandingan jumlah penumpang antara dua bandara per data tahun 2007. PEN = 3,173,177 penumpang. MES = 2,508,983 penumpang (data BPS). Jadi jelas terlihat PEN adalah bandara yang memiliki jumlah penumpang yang hampir sebanding dengan MES. Yang menariknya adalah, airport tax Malaysia lebih rendah dari Indonesia. Malaysia hanya mengenakan RM. 6 (Rp.19,800 untuk kurs Rp.3300) untuk penerbangan domestik dan Rp. 148,500 untuk Internasional (dengan beberapa pengecualian). Bandingkan dengan tarif baru PT.APII yang berbeda-beda se-Indonesia,Rp.35.000 untuk Domestik dan Rp. 75.000 untuk Internasional (di Polonia Medan). Jika menurut data statistik BPS tahun 2008, ada 1,954,697 penumpang domestik, maka secara kasar ada total sekitar Rp. 58,640,910,000,- (cara bacanya bagi yang tidak terbiasa: Lima Puluh Delapan Milyar Enam Ratus Empat Puluh Juta Sembilan Ratus Sepuluh Ribu Rupiah, itu tadi untuk harga airport tax Rp.30,000) Kalau dikalikan dengan harga baru Rp. 68,414,395,000,- Angka tersebut jika dihitung perolehan dari airport tax penerbangan tujuan Luar Negeri sebanyak 470,548 penumpang x Rp. 70,000,- = Rp. 32,938,360,000. Dan Rp. 35,291,100,000. Total penerimaan Airport Tax selama 2008 adalah Rp. 91,579,270,000,- (Sembilan Puluh Satu Miliar Lima Ratus Tujuh Puluh Sembilan Juta Dua Ratus Tujuh Puluh Ribu Rupiah) Sekedar catatan: Pemerintah Malaysia membebaskan pemungutan Airport tax bagi beberapa destinasi diantaranya Medan, Banda Aceh dan Nias. Sekarang kita memasuki pembahasan fasilitas bandara. Menurut data, PEN ada 11 gate. MES ada hmm... tidak ada sumber data sama sekali di situs angkasapura2.co.id. Kalau tidak salah menurut pengamatan mata, ada sekitar 5 gate. Perbedaan sangat penting adalah terdapatnya belalai untuk memasuki pesawat dan harus olahraga kaki di Polonia atau dijemput memakai Bus bila hujan. Dari segi ukuran gedung terminal, Polonia sungguh memiliki ukuran mini dan serasa memasuki bandara tahun 80an dibandingkan sebuah bandara abad 21. Memasuki bandara PEN, yang interiornya cukup mewah dan besar serta ber-Ac layaknya pusat perbelanjaan modern namun tetap tidak menemukan kesulitan ataupun membuat orang kampung seperti saya tersesat dikarenakan sign-board sudah jelas terpasang di setiap tempat tanpa memerlukan peletakan petugas dimana-mana. Troli mudah dijumpai dan tersedia gratis, bila Anda tiba di Polonia, troli-troli secara ajaib sudah berada di-tangan wajah-wajah ramah yang siap membantu Anda, tentu saja dengan imbalan uang. Sekarang kita memasuki inti pembahasan, perbaikan toilet. Baiklah, tidak akan ada yang berdebat dengan jumlah toilet di bandara Soekarno Hatta. Bagaimana kalau kita sedikit berdebat mengenai jumlah toilet di bandara Polonia Medan pada khususnya. Dan juga bandara-bandara lainnya di ibukota provinsi se-Indonesia pada umumnya.Jumlah Toilet di MES, bisa dihitung dengan jari tangan. di PEN toilet juga tidak begitu banyak jumlahnya tetapi satu hal lagi, toilet mereka demikian bersih dan kering lantainya, walaupun tidak terlihat satu orang petugas kebersihan yang'standby' disana. Bau pesing tentu saja tidak tercium anyir, hal ini dikarenakan urinoir(tempat buang air kecil di toilet pria) sudah dilengkapi penyiram otomatis juga terdapat penyemprot ruangan otomatis. Toilet PEN juga dilengkapi dengan sabun cair, dan juga kertas tissue pengering tangan maupun wajah. Polonia, di lain hal, dengan jumlah toilet yang bisa dihitung jari memiliki wastafel model teranyar di tahun 80-an dan dilengkapi tempat sabun cair yang sudah kosong tidak pernah terisi. Serta WC jongkok yang kadang entah kehabisan air atau lupa disiram setelah dipakai sehingga sisa limbah domestik terongok begitu saja. Itupun sudah ada petugas kebersihan lebih dari satu orang yang selalu standby di dalam maupun di depan pintu toilet. Aroma yang menjadi cirikhas adalah bila bukan bau pesing tentu bau Karbol pembersih yang sungguh mengintimidasi psikologis (was-was apakah aman untuk dihirup). Lantai toilet kadang basah dan becek sehingga terbawa sol sepatu sampai ke areal terminal sekitar toilet. Jadi, sebagai konklusi, apakah uang senilai Lima Puluh Delapan Milyar Rupiah yang sudah dibayarkan oleh masyarakat selama ini, tidak mampu untuk memberikan toilet yang nyaman? Sekarang malah meminta uang lebih lagi untuk alasan peningkatan layanan toilet? Yang Benar Saja! Beberapa penghilang kenyamanan lain adalah layanan 'oknum' petugas Bea dan Cukai yang bertingkah luar biasa siaga memeriksa setiap bagasi penumpang yang baru tiba dari luar negeri. Bila biasanya di negeri manapun, pengecekan hanya berdasar pada barang bawaan mencurigakan ketika melewati x-Ray. Maka lain halnya jika petugas Bea dan Cukai yang luar biasa siaga ini membuka setiap bawaan dan menggeledah koper. Setelah digeledah, ya tentu saja kita harus menyisakan waktu untuk merapikan kembali koper. Yang bukan main malunya adalah, tidak segan-segan meminta (dengan halus maupun terang) atas oleh-oleh yang dibawa penumpang. Tentu saja hal demikian tidak terdapat ketika berkunjung ke PEN, entah petugas custom sedang tidur siang atau mereka sedang melakukan penghematan terhadap jumlah staff bandara. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima email ini karna Anda diregister ke Google Groups "kongtai" group. Untuk posting email, silahkan kirim ke [email protected] Untuk keluar dari grup atau milis ini, kirim email kosong ke [email protected] Untuk pengaturan lainnya, kunjungi (atau klik) http://groups.google.com/group/kongtai?hl=en -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
